
Pulang kuliah Vivian memutuskan untuk bertemu dengan Beni.
"Apa buktinya sudah cukup ?" tanya Vivian kepada asisten suaminya itu. Jika semua bukti yang sudah terkumpul untuk menjatuhkan Tomy, maka Vivian bisa segera mengakhiri sandiwaranya menjadi kekasih pria jahat itu.
"Belum, nona. Kita masih membutuhkan bukti tentang keterlibatan Tomy dalam kecelakaan Tuan Reyhan." jawab Beni.
Vivian menghela napas panjang karena masih harus berurusan dengan Tomy.
"Bagai mana keadaan suami ku ?" Vivian beralih menanyakan tentang Reyhan. Sejak suaminya itu kembali ke Singapura hanya beberapa kali Reyhan menelponnya.
"Tuan baik-baik saja. Mungkin tuan sedang sibuk jadi belum sempat menghubungi anda." jawab Beni yang melihat wajah sedih Vivian.
Entah sejak kapan perasaan cinta tumbuh di hati Vivian untuk suaminya. Yang pasti saat ini Vivian rela berpura-pura mendekati musuh sang suami hanya untuk mencari bukti kejahatan yang biasa menjatuhkan Tomy. Semua ini ia lakukan demi membalas dendam untuk suaminya. Meskipun harus mempertaruhkan keutuhan rumah tangganya.
Setelah bertemu dengan Beni, Vivian memutuskan untuk tidak pulang ke rumah. Ia akan pulang ke apartemen karena baru saja Tomy menghubunginya ingin mengajaknya kencan malam ini.
__ADS_1
Pukul tujuh malam Tomy sudah tiba di apartemen Vivian. Tomy tersenyum menatap kekasihnya yang sangat cantik malam ini.
"Kau tidak mau mempersilahkan aku masuk ?" tanya Tomy yang baru pertama kali datang ke apartemen Vivian. Selama ini Tomy hanya mengantarkan Vivian sampai di parkiran saja.
"Ah, iya. Silahkan masuk." Vivian membuka pintu lebih lebar untuk Tomy masuk. Sebenarnya Vivian merasa takut jika hanya berdua dengan Tomy. Takut pria itu akan macam-macam padanya. Mengingat mereka sama-sama sudah dewasa dan sudah pernah berumah tangga.
"Terima kasih."
"Duduklah dulu. Aku akan mengambilkan minuman." kata Vivian kemudian ia bergegas menuju dapur untuk mengambilkan minuman untuk Tomy.
Vivian berusaha untuk melepaskan diri, tak ingin di peluk oleh pria lain tapi tangan Tomy menahan tubuhnya dengan erat.
"Biarkan seperti ini sebentar." bisik Tomy di telinga Vivian membuat tubuh Vivian meremang saat pria itu mengendus belakang pundaknya.
Astaga, Tuhan tolong aku. Mas Reyhan maafkan aku. Aku tidak bermaksud berselingkuh dari mu. Jerit Vivian dalam hatinya.
__ADS_1
"Bisakah kau melepaskan ku." pinta Vivian dengan suara perlahan. Sungguh ia sangat tidak nyaman berada di pelukan pria lain selain dari suaminya.
Mendengar suara lirih Vivian, akhirnya Tomy melepaskan pelukannya. Tomy tahu Vivian bukanlah wanita murahan yang mau di sentuh sembarangan. Dia akan melakukannya dengan perlahan sampai akhirnya dia akan membuat wanita itu jadi miliknya.
Vivian menghembuskan napas lega setelah Tomy melepaskannya.
"Ini minum dulu, setelah itu kita pergi." Vivian kembali menyodorkan gelas minuman ke pada Tomy dan pria itu menerimanya dengan tersenyum.
"Terima kasih." Tomy menerimanya dan meminumnya sehingga habis.
"Sekarang ayo kita pergi." kata Vivian setelah Tomy menghabiskan minumannya. Vivian seolah tidak sabar untuk pergi berkencan. Padahal ia hanya ingin segera mengajak Tomy keluar dari apartemennya, sebelum pria itu berbuat sesuatu yang lebih kepadanya.
Sementara itu, Reyhan menutup laptopnya dengan kasar. Detak jantungnya berpacu lebih cepat karena perasaan marah yang menyelimuti. Dia baru saja melihat rekaman cctv yang berada di apartemen milik Vivian yang terhubung langsung dengan laptop dan ponselnya.
Ketika Beni memberitahukan jika Vivian membeli sebuah unit apartemen, Reyhan menyuruh asistennya itu memasang cctv di setiap sudut ruangan. Agar ia bisa melihat langsung apa yang dilakukan oleh istrinya itu.
__ADS_1