
Reyhan menghela napasnya saat mengingat pembicaraan dengan mommynya tadi malam. Entah sudah berapa kali wanita paruh baya itu menyarankan agar putranya menikahi Vivian. Tidak hanya untuk Niko, tapi juga agar bisa menjaga Reyhan.
"Mom, aku bukan anak kecil lagi." Reyhan beralasan karena sesungguhnya ia belum mau untuk menikah lagi.
"Bagai mana dengan Niko jika suatu saat Vivian menikah dengan orang lain. Niko pasti akan sedih berpisah dengannya." kata Nyonya Lisa.
Sekali lagi Reyhan menghela napasnya saat teringat akan putranya. Niko yang sejak kecil tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu terlihat sangat bahagia sejak bertemu Vivian.
Setelah makan malam, Reyhan berbicara dengan Nyonya Lisa di ruangan kerjanya.
"Bagai mana, Rey ?" Nyonya Lisa bertanya dengan penuh harap jika sang putra akan setuju dengan sarannya.
"Apa mommy sudah mengatakan padanya ? apa dia mau ?" Reyhan menjawab pertanyaan ibunya dengan pertanyaan pula.
Bagai manapun ia ingin memastikan jika Vivian juga mau menikah dengannya.
"Mommy yakin Vivian pasti mau. Dia sangat menyayangi Niko." jawab Nyonya Lisa yakin.
"Tapi apa dia juga mau menerima ku ? aku ini pria lumpuh, mom." Reyhan sadar akan kekurangan dirinya.
Meskipun Reyhan adalah seorang yang percaya diri dalam dunia bisnis, tapi tidak dengan urusan wanita.
__ADS_1
Keesokkan harinya, Nyonya Lisa mencari waktu yang tepat untuk menanyakan kepada Vivian. Apakah wanita itu mau menikah dengan putranya dan benar-benar menjadi mommy nya Niko.
Seketika wajah Vivian berubah murung. Ia sangat ingin menjadi ibu dari anak asuhnya itu. Tapi untuk menikah dengan Reyhan yang merupakan majikannya, ia merasa dirinya sangat tidak layak. Dia hanyalah seorang pengasuh.
"Maaf, Nyonya. Saya tidak bisa menerimanya."
Senyum di wajah Nyonya Lisa seketika padam mendengar jawaban Vivian. Ia tidak menyangka jika Vivian akan menolak lamarannya.
"Kenapa ? apa kau tidak ingin jadi mommy nya Niko ?" Nyonya Lisa menanyakan alasan penolakan Vivian.
"Bukan itu. Saya sangat menyayangi Niko." Vivian menggelengkan kepalanya sambil menunduk. Ia begitu ingin menjadi ibu kepada Niko. Sudah lama Vivian mendambakan untuk memiliki anak yang menggemaskan seperti Niko.
"Tidak, Nyonya. Bukan karena itu." Vivian langsung mengangkat wajahnya menjawab pertanyaan majikannya karena tak ingin membuat wanita paruh baya itu salah paham dan tersinggung.
"Saya sungguh tidak pantas untuk menikah dengan Tuan Reyhan. Saya hanyalah seorang pelayan dan pengasuh, Nyonya."
Nyonya Lisa merasa lega ketika mendengar alasan mengapa Vivian tidak menerima lamarannya. Ia pikir mungkin wanita muda yang sudah janda itu tidak mau menikah dengan Reyhan karena putranya itu seorang pria lumpuh.
"Tapi kau mau kan menjadi mommy Niko ?" tanya Nyonya Lisa sekali lagi.
Vivian menjadi gamang saat Nyonya Lisa menggunakan Niko sebagai alasan agar ia mau menikah dengan Reyhan. Nyonya Lisa menceritakan tentang Niko yang di tinggalkan ibunya saat masih bayi. Di satu sisi Vivian ingin sekali menjadi ibu Niko, di sisi lain ia belum siap untuk menikah lagi. Kegagalan rumah tangga yang pernah ia alami membuatnya berhati-hati untuk memilih pasangan.
__ADS_1
"Saya tidak memaksa kau menjawabnya hari ini. Pikirkanlah dulu. Bagai mana pun ini tentang hidup mu. Kau yang akan menjalaninya." kata Nyonya Lisa sebelum menyudahi pembicaraannya dengan Vivian.
Sementara itu Reyhan semakin sibuk dengan pekerjaannya setelah mendapatkan proyek dari Boison Grup. Ia akan melakukan yang terbaik untuk perusahaan raksasa itu. Berharap semoga kedepannya ia biasa menjalin kerjasama yang lebih baik. Yang tentunya memberikan keuntungan bagi perusahaan.
Pukul delapan malam, Reyhan baru pulang dari kantor. Setelah mandi dan berganti pakaian, pria itu kembali keluar kamar untuk melanjutkan pekerjaannya di ruang kerja. Reyhan menyempatkan diri untuk menemui sang putra di kamarnya.
Ketika tiba di kamar Niko, Reyhan melihat anaknya sedang belajar di temani Vivian. Bocah kecil itu langsung mengambil sesuatu dari dalam tasnya untuk diperlihatkan kepada daddy nya.
"Daddy, coba lihat ini. Tadi Niko membuatnya di sekolah." kata Niko girang memperlihatkan gambar yang ia buat saat di sekolah.
"Baguskan ?" tanya bocah itu lagi.
"Bagus. Anak daddy memang pintar." puji Reyhan sambil mengusap kepala putranya.
"Ini daddy, mommy, Niko dan adik." kata Niko menunjuk satu persatu objek yang di gambarnya.
"Adik ?" Reyhan mengernyitkan keningnya mendengar kata 'adik'
"Iya, ini adik Niko. Teman-teman di sekolah Niko semua punya adik. Niko juga mau. Kata Bu guru, Niko bisa minta adik sama mommy dan daddy." kata Niko polos.
Diam-diam Reyhan melirik ke arah Vivian yang sejak tadi hanya diam dan menunduk.
__ADS_1