Wanita Kejam Istri CEO Lumpuh

Wanita Kejam Istri CEO Lumpuh
Ch. 25


__ADS_3

Hari ini Vivian kembali menghubungi Beni. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan asisten suaminya itu. Vivian pun mengajak Beni bertemu di kafe setelah pulang kerja dan seperti biasa, Vivian meminta Beni untuk merahasiakan tentang pertemuan mereka dari Reyhan.


Vivian terlambat pulang dan ia terpaksa berbohong lagi kepada Reyhan. Vivian segera melajukan langkahnya menuju kamar. Ia begitu terkejut saat masuk ke dalam kamar. Vivian mendapati Reyhan terduduk di lantai dan sedang berusaha berdiri.


"Mas."


Vivian mencampakkan tasnya begitu saja dan berlari ke arah Reyhan untuk membantu pria itu.


"Apa yang terjadi ?" tanya Vivian setelah berhasil mendudukkan Reyhan di atas kursi roda.


"Aku ingin naik ke tempat tidur." jawab Reyhan singkat.


"Maafkan aku mas." Vivian merasa bersalah kepada Reyhan. Karena ia pulang terlambat sehingga menyebabkan Reyhan jatuh.


Malam harinya, Vivian terbangun saat mendengar ponselnya berbunyi. Ia segera mematikan volume dering agar tidak membangunkan Reyhan. Kemudian Vivian keluar dari kamar untuk menjawab panggilan.


*


Di perusahaan The Star


"Biar aku saja, mba. Sekalian mau antar berkas ke dalam." kata Vivian saat melihat Sekretaris Tomy ingin mengantarkan kopi ke ruangan CEO.


Vivian ingin meminta maaf kepada Tomy tentang kemarin. Karena tidak mengenali istri CEO tempatnya magang. Dengan hati-hati Vivian mendekat ke meja kerja Tomy. Ia kemudian berdiri di samping kursi kerja Tomy.


"Kopinya, pak." Vivian meletakkan napan di atas meja di susul dengan sebuah berkas.

__ADS_1


Tomy kemudian melihat ke arah Vivian karena wanita itu masih tetap berdiam di tempat.


"Ada apa ?"


"Em, itu pak. Saya mau minta maaf." jawab Vivian yang membuat Tomy mengerutkan keningnya.


"Minta maaf untuk apa ?"


"Maaf karena kemarin saya tidak mengenali istri anda."


Tomy membuang napas dengan kasar mendengar perkataan Vivian yang minta maaf hanya karena kejadian kemarin. Bagi Tomy itu sangat tidak penting.


"Ya sudah. Keluar sana."


"Terima kasih, pak." Vivian kemudian melangkah ingin pergi, tapi sayangnya sebelah kaki Vivian tersandung kakinya sendiri. Sehingga membuat Vivian terjatuh ke arah Tomy dan pria itu dengan sigap memutar kursinya menangkap tubuh Vivian membuat Vivian jatuh ke pangkuan Tomy.


"Ah, maaf." Vivian segera melepaskan tangannya yang sejak tadi mengalung di leher Tomy. Vivian ingin turun dari pangkuan Tomy, tapi pria itu masih memeluk erat tubuhnya.


"Pak." panggilan Vivian menyadarkan Tomy yang seperti terhipnotis oleh wajah cantik Vivian yang sangat dekat dengannya.


Tomy segera melepaskan pelukannya. Vivian pun langsung turun dan berdiri tegap. Suasana tiba-tiba menjadi canggung.


"Sekali lagi saya minta maaf pak dan terima kasih." kata Vivian dengan malu-malu sebelum keluar dari ruangan Tomy.


Tomy mengusap wajahnya kasar. Entah mengapa dadanya berdebar saat memeluk Vivian tadi. Pikiran liar tiba-tiba saja muncul di benak Tomy sambil membayangkan wajah Vivian.

__ADS_1


Saat tiba jam makan siang, Vivian pamit kepada Rara, sekretaris Tomy untuk pergi makan siang bersama Rena dan Wanto.


"Vi, bisa minta tolong belikan makanan untuk pak Tomy ?" pinta Rara karena wanita itu ingin pergi makan siang di luar bersama dengan kekasihnya.


Rara minta tolong kepada Vivian karena ia tau Vivian dan temannya makan siang di tempat makan yang tidak jauh dari kantor.


"Bisa. Mau di belikan apa mba ?"


Rara menyerahkan uang dan menyebutkan menu makanan untuk atasannya itu. Vivian kemudian pergi bersama Rena dan Wanto. Mereka hanya berjalan kaki menuju sebuah tempat makan yang hanya berjarak dua puluh meter dari kantor.


"Sorry ya, Ren. Aku bungkus aja makanannya. Soalnya mau cepat antarkan makanan buat pak Tomy." kata Vivian sambil mengambil dua bungkus makanan yang di berikan oleh pelayan rumah makan itu.


"Ya sudah. Cepat sana sebelum pak Tomy marah." balas Rena sambil mengayunkan tangan mengusir Vivian.


Vivian membawa makanan dan piring ke ruangan Tomy.


"Makan siangnya, pak."


"Letakkan saja di situ." Tomy menunjuk meja sofa.


"Kau sudah makan ?" tanya Tomy melihat ke arah Vivian yang sedang menata makanan di piring.


"Belum, pak."


"Kalau begitu, ayo temani saya makan." Tomy berdiri dari kursi kerjanya menuju sofa.

__ADS_1


Vivian dengan telaten menyiapkan makan untuk Tomy. Ia juga melayani Tomy dan menyiapkan minuman. Sesuatu yang tidak pernah di lakukan oleh Serena selama menjadi istrinya.


__ADS_2