
Tomy menyentuh tangan Vivian, menyadarkan wanita itu dari lamunannya. Vivian refleks menarik tangannya.
"Maaf." Tomy merasa bersalah dan hanya di tanggapi dengan senyuman oleh Vivian.
Sudah beberapa kali Tomy memanggil nama Vivian, tapi sepertinya wanita itu larut dalam pikirannya sendiri.
"Maaf. Tak seharusnya aku menceritakan masalah ku pada mu." kata Tomy menyesal. Mungkin telah membuat Vivian terbebani dengan ceritanya.
"Tidak masalah. Sebaiknya memang harus di ceritakan agar mengurangi beban pikiran mu." balas Vivian.
"Tapi, maaf. Aku tidak ingin jadi orang ketiga di dalam rumah tangga kalian." lanjut Vivian lagi.
"Sayang sekali. Seandainya saja kita bertemu lebih awal, aku pasti tidak akan melepaskan wanita sebaik dirimu."
*
Sementara itu di Singapura. Reyhan yang sedang menjalani terapi kini sudah terlihat hasilnya. Sekarang pria itu sudah bisa menggerakkan kedua kakinya dan mampu berdiri lebih dari lima menit meskipun masih berpegangan.
Sore harinya, Beni datang menemui Reyhan dengan membawa berkas dari perusahaan sekaligus untuk menjemput Reyhan pulang ke Jakarta. Reyhan harus menghadiri pertemuan dengan perusahaan Newtec terkait kerja sama pembangunan rumah sakit milik perusahaan besar itu.
Setelah menidurkan Niko, Vivian kembali ke kamarnya. Wanita itu terkesiap melihat Reyhan ada di kamar. Vivian bahkan mengucek ke dua matanya untuk memastikan jika ia tidak sedang berhalusinasi.
__ADS_1
"Mas Reyhan."
Reyhan yang tengah membuka pakaiannya memutar kursi rodanya menghadap Vivian yang masih mematung di depan pintu. Vivian tersenyum dan berjalan cepat menuju suami yang begitu di rindukannya.
"Kapan mas pulang ?" Vivian duduk melantai di hadapan Reyhan. Perasaannya begitu bahagia mendapati sang suami benar-benar ada di depannya.
"Tadi sore. Ada pertemuan penting." jawab Reyhan sambil melanjutkan membuka pakaiannya.
Vivian tidak begitu menanggapi apa yang di katakan oleh Reyhan. Ia terlalu larut dalam perasaan bahagianya. Apa pun alasan Reyhan pulang tidak penting bagi Vivian. Yang pasti pria itu sekarang ada di hadapannya.
"Kau tidak ingin membantu ku membersihkan diri ?"
"Ah, iya. Mari aku antar mas ke kamar mandi." Vivian segera berdiri, kemudian mendorong kursi roda Reyhan menuju ka kamar mandi.
"Mas sudah makan ?" tanya Vivian setelah selesai membantu Reyhan berpakaian.
"Sudah." jawab Reyhan singkat.
"Mas mau istirahat sekarang ?" tanya Vivian lagi. Ia tidak tahu harus berkata apa lagi jika Reyhan hanya menjawab singkat-singkat seperti itu.
Reyhan menganggukkan kepala menjawab pertanyaan sang istri dan Vivian pun segera membantu Reyhan naik ke atas tempat tidur. Meskipun sebenarnya Reyhan sudah bisa melakukannya sendiri. Memindahkan tubuhnya sendiri dari kursi roda ke tempat tidur ataupun duduk di kursi.
__ADS_1
Vivian kemudian naik ke tempat tidur dan duduk di samping Reyhan. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan dengan sang suami. Sesuatu yang sudah lama mengganjal di hatinya sejak Reyhan pergi ke Singapura.
"Em, mas. Aku minta maaf."
Reyhan yang baru saja berbaring itu lantas menoleh ke arah Vivian saat mendengar istrinya itu minta maaf.
"Apa kau melakukan kesalahan ?" Reyhan tak langsung membalas permintaan maaf Vivian. Pria itu malah balik bertanya. Berpura-pura tidak mengerti apa yang di bicarakan oleh sang istri.
Vivian menelan ludahnya kasar mendengar pertanyaan suaminya. Ia sudah begitu banyak melakukan kesalahan yang pasti akan menyakiti hati sang suami. Tapi bagaimana Vivian akan mengakui kesalahannya itu. Ia tidak ingin pernikahan keduanya yang bahkan belum genap satu tahun hancur begitu saja.
"Em, maaf karena waktu itu kau melihat ku dengan pria lain." akhirnya Vivian mengatakan apa yang harus ia katakan.
"Sebenarnya dia ..."
" Aku tahu dia pemilik perusahaan tempat mu magang dan aku mengerti." Reyhan memotong perkataan Vivian karena tidak ingin membahas tentang Tomy.
"Jadi mas tidak marah ?" Vivian memastikan dan Reyhan menggelengkan kepalanya.
"Terima kasih mas." Vivian tersenyum lega karena ternyata Reyhan tidak mempermasalahkan hal itu. Ternyata ketakutan itu hanya ada dalam pikirannya saja.
"Kemarilah." perintah Reyhan meminta sang istri mendekat ke dalam pelukannya dan dengan senang hati Vivian menurutinya.
__ADS_1
"Sekarang kau tidak lagi berurusan dengannya. Aku harap kalian tidak bertemu lagi." kata Reyhan tepat di hadapan Vivian sebelum pria itu menjatuhkan ciumannya di bibir merah sang istri.
Maafkan aku mas. Batin Vivian.