
Vivian tersenyum getir setelah beberapa saat mengirimkan pesan namun tak ada balasan dari Reyhan. Bahkan di baca pun tidak.
"Sepertinya daddy sudah tidur." Vivian memberikan alasan yang masuk akal kepada sang putra.
"Sebaiknya kita tidur juga." Vivian membenahi selimut Niko agar bisa tidur dengan nyaman.
Baru saja bocah itu memejamkan mata, suara ponsel Vivian tiba-tiba berbunyi. Niko kembali membuka matanya berharap itu telpon dari sang ayah. Berbeda dengan Niko, Vivian justru merasa berdebar saat mendapat panggilan itu. Reyhan melakukan panggilan Video.
Vivian menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan perasaannya sebelum menjawab panggilan Reyhan.
"Hai, dad." suara riang Niko saat melihat wajah sang ayah terpampang di layar ponsel.
"Hai. Anak daddy belum tidur ?" Reyhan tersenyum menatap wajah polos sang anak yang sudah dua minggu ini tidak di lihatnya.
"Belum daddy. Niko rindu daddy. Mommy juga. Ya kan, mom ?" Niko mengarahkan kamera depan Vivian agar sang ayah bisa melihat wajah mommynya.
__ADS_1
Sesaat pandangan mereka bertemu. Vivian berdebar ketika melihat wajah Reyhan. Meskipun dengan rambut yang berantakan tidak sedikitpun mengurangi ketampanan pria lumpuh itu. Dalam sekian detik Niko kembali menggeser layar ponsel ke arahnya sehingga memutuskan pandangan antara Reyhan dan Vivian.
"Kapan daddy akan pulang ?" rengek bocah itu kepada sang ayah. Sejak kecil tidak pernah berpisah lama dengan sang ayah membuat Niko sangat merindukan Reyhan meskipun baru berpisah selama dua minggu.
Cukup lama anak dan ayah itu saling bercerita. Sementara Vivian hanya mendengarkan saja. Vivian sendiri tidak tahu harus mengatakan apa kepada suaminya. Padahal sebelumnya, Vivian sudah menyusun kata-kata untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya kepada Reyhan. Tapi sekarang lihatlah. Ia bahkan tidak berani meskipun hanya sekadar menanyakan kabar sang suami.
"Sudah malam. Niko harus tidur karena besok Niko harus pergi sekolah. Sekarang berikan ponselnya kepada mommy."
"Baik, dad." Niko dengan patuh mengikuti perintah sang ayah. Bocah itu lalu menyerahkan ponsel ke tangan Vivian kemudian berbaring dan siap untuk tidur.
"Em, mas." sapa Vivian untuk menghilangkan rasa canggung saat Reyhan menatapnya dengan tatapan yang entahlah.
"Hem." balas Vivian singkat dan terkesan dingin dengan masih menatap wajah sang istri.
"Apa mas baik-baik saja di sana ? sudah makan ?" tanya Vivian lagi sambil menatap rindu pada sang suami.
__ADS_1
Reyhan mengangguk "Tidak perlu khawatir. Aku baik-baik saja di sini."
Vivian tersenyum mendengar jawaban Reyhan. Ia pun memberanikan diri untuk mengatakan permintaan maaf yang selama dua minggu ini di pendamnya.
"Mas .."
"Sudah malam. Istirahatlah. Aku juga ingin istirahat."
Reyhan segera memotong perkataan Vivian. Padahal masih banyak hal yang ingin ia katakan kepada sang suami. Tapi, Vivian sungguh tidak berani untuk mencegahnya. Vivian cukup tau diri. Dari perkataan Reyhan, sudah jelas menunjukkan penolakan untuk berbicara panjang lebar dengannya. Akhirnya Vivian hanya bisa mengangguk pasrah dan Reyhan langsung menekan tombol merah di layar ponselnya.
Reyhan membuang napas panjang. Kemudian meletakkan ponselnya di atas meja. Sekarang sudah pukul sepuluh malam waktu di Singapura. Reyhan kembali melanjutkan pekerjaannya sebelum beristirahat. Setiap hari, Beni akan mengirimkan laporan melalui email. Bahkan sang asisten sudah beberapa kali datang ke Singapura untuk meminta tanda tangan sang CEO pada berkas-berkas penting.
Sebenarnya Reyhan tau Vivian masih ingin berbicara dengannya. Tapi ia sungguh tidak ingin membahas mengenai kejadian waktu terakhir kalinya. Selama dua minggu ini Reyhan mencoba mengerti tentang keadaan Vivian. Tapi rasa cemburu dan sakit hati selalu mendominasi sehingga mungkin saja Reyhan akan menjadi emosi ketika membahas mengenai hal itu.
Sementara itu di seberang sana, Vivian masih menggenggam ponselnya sambil tersenyum getir. Suara dan tatapan dingin dari sang suami cukup untuk menjelaskan jika suaminya itu sedang marah kepadanya. Andai saja ia mampu, Vivian ingin sekali pergi menemui Reyhan yang ada di Singapura. Tapi apalah daya ia tidak punya kemampuan untuk melakukan itu. Vivian bahkan tidak memiliki pasport untuk melakukan perjalanan kereta luar negeri. Setidaknya melihat dan mengetahui keadaan Reyhan baik-baik saja itu pun sudah cukup mengobati rasa rindu pada sang suami. Vivian akan sabar untuk menunggu Reyhan pulang.
__ADS_1