
Hari berlalu, bulan berganti. Saat ini Vivian sudah masuk kuliah seperti biasa. Niko juga sudah mulai sekolah di play group. Setiap hari Reyhan akan mengantarkan Niko ke sekolah sebelum pergi ke perusahaan.
"Mom, bisakah mommy ikut mengantarkan Niko ke sekolah hari ini bersama dengan daddy ?" tanya Niko saat memulai sarapan.
Vivian mendelik mendengar bocah kecil yang duduk di sebelahnya. Sementara Nyonya Lisa melirik kearah Reyhan yang sedikitpun tidak bergeming mendengar permintaan putranya.
"Em, maaf Niko. Tapi mommy harus membantu bibi untuk membersihkan bekas sarapan." bohong Vivian. Padahal setelah Niko pergi, Vivian juga segera pergi ke kampus dengan menggunakan ojek online.
"Bersiaplah untuk ikut mengantarkan Niko." kata Reyhan tiba-tiba. Meskipun pria dingin itu tidak melihat kearahnya ataupun menyebutkan nama, tapi Vivian tahu itu adalah perintah untuknya.
Setelah selesai sarapan, Vivian bergegas ke kamar untuk mengambil tasnya. Rencananya ia akan langsung pergi ke kampus dari sekolahnya Niko.
Vivian sedikit berlari menuju mobil yang sudah terparkir di halaman depan, dimana Reyhan dan Niko sudah menunggu di dalam mobil. Vivian tergesa-gesa membuka pintu mobil bagian depan karena takut di marah sang Tuan.
"Kenapa mommy duduk di sana ?" tanya Niko sesaat setelah Vivian mendudukkan tubuhnya di kursi di samping Beni.
"Hah." Vivian terkejut sampai memutar tubuhnya melihat Niko yang duduk di belakang.
"Ayo, mommy duduk di sini." Niko menepuk tempat duduk di sebelahnya.
__ADS_1
Vivian kemudian melihat ke arah Reyhan yang sedang Fokus dengan tabletnya. Pria itu sedikit pun tidak bereaksi.
"Ayo, mom." pinta Niko lagi.
Melihat Reyhan yang tidak bergeming, Vivian mengalihkan pandangannya ke arah Beni seolah bertanya 'Aku harus apa ?' karena Beni lah yang lebih tahu bagaimana Reyhan.
Vivian segera membuka pintu mobil untuk pindah duduk di belakang setelah melihat Beni mengangguk. Pria yang sama dinginnya dengan Reyhan itu pun langsung melajukan mobilnya meninggalkan rumah menuju sekolah Niko.
Niko sangat senang hari ini karena ia di antar sekolah oleh mommy dan daddy nya. Apalagi saat ini ia duduk di tengah-tengah antara mommy dan daddy nya. Beni yang melihat pemandangan di kursi belakang dari kaca spion mobil mengulum senyumnya. Mereka seperti sebuah keluarga sungguhan. Batin Beni.
Tiba di sekolah, Vivian turun bersama Niko. Sedangkan Reyhan tetap duduk di dalam mobil.
"Hai, Niko." sapa beberapa orang anak laki-laki dan perempuan yang juga baru tiba di sekolah.
"Ini mommy ku. Cantikkan ?" kata Niko di hadapan teman-temannya. Pasalnya kemarin teman-teman Niko mempertanyakan tentang ibunya yang tidak pernah datang untuk mengantarkan Niko ke sekolah.
"Halo, Tante." satu persatu teman-teman Niko menyapa Vivian. Membuat Vivian tersenyum senang.
"Halo, semua." Vivian membalas sapaan anak-anak itu.
__ADS_1
"Mom. Niko masuk dulu ya." kata Niko kepada Vivian ketika temannya mengajak untuk masuk kedalam gedung sekolah.
"Iya, sayang. Belajar yang rajin ya." Vivian berjongkok di depan Niko untuk mencium pipi bocah yang sangat menggemaskan itu.
"Eh, tunggu. Niko belum pamit sama Daddy." Vivian memanggil Niko yang baru berjalan satu langkah saat menyadari jika mobil Reyhan masih ada di sana. Karena senangnya bertemu dengan teman-teman Niko, mereka sampai melupakan Reyhan.
Niko kembali berjalan mendekat ke mobil, di mana pintu mobil di sebelah Reyhan terbuka. Niko berpamitan kepada daddy nya dan Reyhan pun mengusap kepala putranya dengan sayang. Setelah itu Reyhan menutup kembali pintu mobil itu. Sementara Vivian masih berdiri di sana menunggu mobil Tuanya pergi.
"Masuklah, nona." kata Beni membuat Vivian mengalihkan pandangannya ke arah Beni yang membuka jendela mobil.
"Tidak apa-apa, aku pulang sendiri saja." tolak Vivian.
"Bukankah anda akan pergi ke kampus ? jalan ke kantor dan kampus searah."
Vivian terkejut mendengar perkataan Beni. Dari mana sang asisten Tuan nya itu tahu jika dia akan ke kampus. Bahkan Beni tahu di mana alamat kampusnya kuliah.
"Ayo." kata Beni membuyarkan pikiran Vivian.
Tak ingin membuat Reyhan menunggu lama, dengan segera Vivian berjalan menuju pintu depan dan duduk di sana. Di samping Beni.
__ADS_1
Selama dua puluh menit berkendara, kini Beni menghentikan mobilnya di depan gedung kampus tempat Vivian kuliah. Vivian langsung turun dan mengucapkan terima kasih kepada Beni.
Vivian menghembuskan napas lega begitu mobil yang di tumpanginya berlalu. Suasana yang begitu sepi di dalam mobil tadi membuat keadaan menjadi canggung bagi Vivian. Kedua pria itu, asisten dan bosnya itu sama-sama pria dingin. Vivian bergidik ngeri memikirkan siapa wanita malang yang akan menjadi istri dari kedua pria dingin itu.