
Sebenarnya Reyhan terpaksa meminta bantuan dari Vivian, karena ia tidak mau menyakiti dan mengabaikan wanita yang sudah menjadi istrinya. Padahal ia mampu untuk melakukannya sendiri. Toh, selama bertahun-tahun ia melakukannya sendiri.
"Terima kasih." ucap Reyhan setelah Vivian menyerahkan handuk.
Tadi Reyhan minta tolong ambilkan handuk karena tangannya tidak sampai meraih handuk yang ada di gantungan. Vivian memalingkan wajahnya ke arah lain dari pada melihat tubuh polos Reyhan. Tapi, ia tidak bisa mengabaikan Reyhan yang kesulitan untuk melakukannya.
"Kau tidak ingin membantu ku ?" pertanyaan Reyhan membuat Vivian mengurungkan niatnya untuk keluar dari kamar mandi.
Dengan sangat terpaksa Vivian mengangkat lengan Reyhan untuk membantunya berdiri agar Reyhan bisa melilitkan handuk di pinggangnya. Reyhan merasakan darahnya berdesir ketika Vivian menyentuh kulit tubuhnya. Sementara Vivian berusaha mati-matian menahan degupan jantungnya agar tidak kedengaran oleh Reyhan.
Setelah mendudukkan tubuh Reyhan, Vivian mendorong kursi roda ke luar kamar mandi. Vivian juga masih membantu Reyhan mengenakan pakaiannya. Ia melakukan semuanya dengan senang hati. Mengurus suaminya yang lumpuh itu.
"Mommy, Daddy." seru Niko melihat kedua orang tuanya memasuki ruang makan.
Nyonya Lisa tersenyum melihat kebersamaan anak dan menantunya.
"Vivian, kau tidak berangkat kuliah ?" tanya Nyonya Lisa yang melihat wanita itu masih mengenakan pakaian rumahan.
__ADS_1
"Aku kuliah, mom." Vivian menghentikan sejenak kegiatannya yang sedang menyuapi Niko sarapan.
"Mengapa belum bersiap ? Sekalian saja berangkatnya sama Reyhan dan Niko." kata Nyonya Lisa.
"Aku berangkatnya nanti saja, mom." alasan Vivian karena tidak ingin merepotkan Reyhan mengantarkannya ke kampus.
"Bersiaplah. Kita akan berangkat bersama." kata Reyhan tiba-tiba dan tentu saja Vivian tidak bisa membantah. Nyonya Lisa tersenyum mendengar perkataan Reyhan, setidaknya dengan ini bisa lebih mendekatkan Reyhan dan Vivian.
Dua puluh menit kemudian, mereka sudah berangkat. Beni mengemudikan mobil menuju ke sekolah Niko. Setelah itu pergi ke kampus untuk mengantar Vivian. Seperti biasa suasana menjadi senyap di dalam mobil jika Niko tidak ada. Beberapa menit kemudian, mereka sampai di kampus. Vivian memutar tubuhnya menghadap Reyhan.
"Terima kasih, Beni." kata Vivian melihat Beni dari kaca spion sebelum wanita itu keluar dari mobil.
"Sama-sama, Vivian." balas Beni sambil tersenyum seperti biasa.
Ehemmm
Suara deheman Reyhan langsung menghentikan senyuman Beni. Pria jomblo itu juga baru ingat jika dia tidak boleh lagi memanggil Vivian dengan namanya, karena saat ini Vivian adalah Nyonya nya. Istri dari majikannya.
__ADS_1
"Maaf, Tuan. Saya lupa dan tidak akan mengulanginya lagi." Beni kemudian melajukan mobilnya menuju perusahaan Skyland milik Reyhan.
Begitu Reyhan sampai di ruangannya, Beni membacakan jadwal kegiatan Reyhan hari ini.
"Pukul sepuluh pagi, anda akan ke lokasi proyek untuk melihat langsung pembangunan pusat perbelanjaan milik Boison Grup." Reyhan harus mengecek langsung proyek itu sendiri lebih dahulu sebelum ia pergi bersama pihak Boison Grup yang sudah di jadwalkan Minggu depan.
Sesuai isi perjanjian kerja sama, Boison Grup akan mencairkan dana tiga puluh persen dari nilai proyek setelah pengerjaan proyek gedung itu di mulai.
"Baik. Kau boleh keluar sekarang." perintah Reyhan dan kemudian ia melanjutkan pekerjaannya.
Di lokasi proyek.
Di bawah terik matahari yang menyengat, Reyhan menatap para pekerja buruh bangunan yang sedang melakukan pekerjaannya. Ia tidak menyangka akan mengerjakan proyek sebesar ini. Inilah kali pertama ia mendapatkan proyek dari perusahaan besar seperti Boison Grup sejak ia mendirikan Skyland. Ia benar-benar tidak menyangka pihak perusahaan itu akan mempercayakan proyek ini pada perusahaannya.
Cuaca yang tadinya cukup panas tiba-tiba saja berubah jadi mendung. Hanya dalam beberapa menit saja hujan deras sudah mengguyur di daerah terbuka lahan proyek. Para pekerja bangunan segera menutup bahan-bahan bangunan yang tidak boleh terkena air.
Begitu juga dengan Reyhan, yang terkena percikan air hujan. Meskipun Beni sejak tadi memayungi tuannya. Tubuh sang CEO itu semakin basah saat Beni mengangkat Reyhan masuk ke dalam mobil. Beni kemudian langsung mengantarkan Reyhan pulang ke rumah agar tuannya itu dapat berganti pakaian dan tidak sakit.
__ADS_1