
Vivian terbangun dari tidurnya saat hari sudah pagi setelah menghabiskan malam yang melelahkan bersama sang suami. Ia melihat Reyhan masih berbaring di sampingnya. Reyhan kemudian membuka matanya karena merasa terganggu oleh pergerakan Vivian.
"Maaf, mas. Aku sudah terlambat." Vivian segera bangun dan menuju ke kamar mandi dengan tubuh polosnya.
Hanya beberapa menit saja ia membersihkan diri, setelah itu ia sudah keluar dan memakai pakaiannya dengan cepat. Vivian kemudian membantu Reyhan untuk ke kamar mandi dan menyediakan pakaian untuk sang suami sebelum akhirnya keluar kamar.
Begitu Vivian masuk ke kamar Niko, putra sambungnya itu sudah rapi berpakaian di bantu oleh Omanya.
"Mommy, di mana daddy ?" suara ceria bocah itu mengetahui jika sang ayah sudah pulang.
"Daddy sedang mandi, sayang." Vivian memeluk Niko, kemudian membantu mengambilkan tas sekolah Niko.
"Sekarang Niko sama Oma turun dulu ya. Sebentar lagi Mommy dan Daddy menyusul." Vivian mencium gemas anak sambungnya itu
"Sip, mommy." balas Niko. Sedangkan Nyonya Lisa tersenyum senang melihat interaksi antara anak dan ibunya itu.
Meskipun Vivian bukan ibu kandung Niko tapi Vivian sangat menyayangi Niko. Tak salah keputusannya untuk menjodohkan Reyhan dengan Vivian dulu.
Vivian kembali ke kamarnya dan mendapati Reyhan baru saja keluar dari kamar mandi. Vivian membantu suaminya untuk berpakaian.
"Apa mas sudah selesai bekerja di luar negeri ?" tanya Vivian saat mengancingkan kemeja Reyhan.
__ADS_1
"Belum. Sebentar lagi aku akan kembali ke Singapura setelah mengantar mu dan Niko."
Wajah ceria Vivian seketika meredup ketika mendengar jawaban Reyhan. Ternyata suaminya itu hanya pulang sebentar. Vivian kemudian membuang napas kecewa karena akan di tinggalkan lagi oleh Reyhan.
"Jangan sedih. Aku pergi hanya sementara. Setelah semuanya selesai aku akan pulang." lanjut Reyhan lagi saat melihat perubahan air wajah Vivian.
Reyhan kemudian mengambil paper bag besar di samping meja nakas.
"Apa itu mas ?" Vivian baru menyadari benda itu ada di sana. Sejak kapan ? mungkin karena terburu-buru tadi ia sampai tidak melihat benda sebesar pelukan orang dewasa itu.
"Hadiah untuk Niko." Reyhan meletakkan paper bag itu di pangkuannya.
Vivian hanya mengangguk. Entah mengapa ada rasa kecewa dalam hatinya saat Reyhan hanya membawakan hadiah untuk Niko.
Niko begitu senang melihat sang ayah yang kini berada di depan matanya. Bocah itu langsung berhambur ke dalam pelukan Daddy nya.
"Mengapa daddy sangat lama pergi ? apa daddy akan pergi lagi ? mengapa tidak mengajak Niko dan Mommy ?" pertanyaan beruntun bocah itu tidak bisa di jawab satu-satu oleh Reyhan.
"Daddy pergi karena ada pekerjaan. Ini Daddy bawakan sesuatu untuk anak daddy." Reyhan menyerahkan paper bag yang di bawanya kepada sang putra.
"Terima kasih, dad." Niko mencium pipi sang ayah dengan sayang.
__ADS_1
"Sekarang, ayo kita sarapan." Vivian memindahkan Niko ke kursinya dan meletakkan paper bag di kursi sebelah.
Setelah selesai sarapan, Beni mengantarkan Niko ke sekolah dan lanjut mengantar Vivian ke kampus. Kemudian Beni melajukan mobilnya menuju ke bandara untuk mengantarkan Reyhan ke Singapura.
Sementara itu di perusahan The Star, Serena berjalan tergesa-gesa menuju ke ruangan Tomy. Tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, wanita itu langsung masuk begitu saja.
"Apa maksudnya ini ?" Serena meletakkan sebuah amplop di atas meja di depan suaminya.
"Kau sudah membacanya ? aku yakin kau tau maksudnya." jawab Tomy santai.
"Apa karena perempuan jal**g itu kau ingin menceraikan ku ?" tanya Serena marah.
Ia sungguh tidak terima jika Tomy melayangkan gugatan cerai kepadanya setelah apa yang ia korbankan untuk pria sialan ini. Apa lagi jika Tomy menceraikannya hanya karena Vivian.
"Bagus jika sudah tau. Dan tolong jangan sebut dia jal**g karena sebenarnya kau lah pantas di sebut jal**g." Tomy berdiri dan menggebrak meja dengan keras. Dia tidak suka mendengar orang lain merendahkan wanita yang ia cintai.
Ya, ternyata Tomy sudah jatuh cinta kepada Vivian kerena kelembutan wanita itu. Wanita yang bersifat ke ibuan itu sangat membuat Tomy merasa nyaman.
Air mata Serena berjatuhan tidak bisa tertahankan ketika sang suami yang di sayanginya merendahkannya dan malah membela wanita lain.
"Tidak, Tomy. Ini pasti salah. Kau tidak mungkin akan menceraikan aku. Katakan jika kau mencintaiku seperti aku mencintaimu." Serena menangis dan berjalan mendekati Tomy. Ia mencoba memeluk sang suami tapi dengan cepat Tomy menepis tangan Serena.
__ADS_1
"Ini benar. Apa yang kau lihat dan kau dengar hari ini semuanya benar. Bukan mimpi." Tomy mendorong tubuh Serena menjauh darinya.
"Sekarang pergilah. Aku tidak ingin melihat mu lagi dan segera kemasi barang-barang mu, segera angkat kaki dari rumah ku." kata Tomy tegas yang membuat tubuh Serena meluruh ke lantai.