
Setelah membantu Niko mandi sore, Vivian kembali ke kamarnya. Ia melihat Reyhan masih tertidur. Ia pun memutuskan untuk membersihkan diri. Saat Vivian keluar dari kamar mandi, Reyhan juga sudah bangun. Pria itu sedang berusaha untuk turun dari tempat tidur ke kursi rodanya.
"Mas mau ke mana ?" tanya Vivian yang segera menghampiri tempat tidur untuk membantu Reyhan.
"Aku mau mandi." jawab Reyhan setelah tubuhnya duduk dengan nyaman di kursi roda.
"Apa sudah baikkan ?" Vivian menempelkan punggung tangannya di kening Reyhan untuk memastikan suhu tubuhnya sudah turun.
"Sudah." Reyhan terus memperhatikan apa yang di lakukan oleh Vivian.
"Syukurlah." Vivian merasa lega setelah mendengar jawaban Reyhan dan juga merasakan suhu tubuh sang suami sudah normal.
"Tapi mas jangan mandi dulu. Sebaiknya di lap saja. Nanti takut demamnya balik lagi." kata Vivian lagi.
Beberapa saat kemudian Reyhan masih belum menanggapi saran dari Vivian. Membuat Vivian hanya diam mematung di belakang kursi roda untuk menunggu persetujuan Reyhan.
Tiba-tiba Reyhan mendongakkan kepalanya untuk melihat Vivian. Mengapa wanita itu hanya diam saja.
"Kenapa diam ? ayo bantu aku membersihkan diri."
__ADS_1
hah
Vivian terkejut mendengar permintaan Reyhan yang tiba-tiba minta di bantu untuk membersihkan diri. Ingin menolak, tapi ini sudah tugasnya sebagai seorang istri untuk merawat suami yang sedang sakit. Dan dengan sangat terpaksa Vivian membawa Reyhan ke kamar mandi.
"Maaf, mas." kata Vivian sebelum ia melakukan tugas pertamanya, membuka kancing baju Reyhan.
Kemudian Vivian lanjut menurunkan pakaian bagian bawah tubuh Reyhan yang sebelumnya sudah ia tutupi dengan handuk. Vivian melakukan itu semua dengan menunduk karena tidak ingin melihat tubuh Reyhan. Meskipun sekarang pria itu adalah suaminya.
"Mengapa kau menunduk ?" Reyhan pura-pura bertanya. Vivian bukanlah seorang gadis perawan yang malu-malu saat melihat tubuh seorang pria. Vivian bahkan sudah melakukan lebih dari itu karena dia sudah pernah menikah.
"Aku hanya belum terbiasa melihatnya." jawab Vivian sambil terus membersihkan tubuh Reyhan bagian kaki. Sementara jantung Vivian berdegup kencang saat mendengar perkataan Reyhan selanjutnya.
Akhirnya kegiatan yang mendebarkan bagi Vivian selesai setelah membantu Reyhan mengenakan pakaiannya. Menjelang makan malam, Vivian membawa Reyhan untuk makan bersama seperti biasa.
"Lho, Rey. Katanya demam ? Biar nanti pelayan yang antar makanan ke kamar saja." Nyonya Lisa terkejut melihat Reyhan yang sudah bangun. Padahal sore tadi Vivian bilang demam.
"Aku sudah sehat, mom."
Nyonya Lisa tersenyum mendengar jawaban Reyhan. Kemudian wanita paruh baya itu melihat ke arah Vivian.
__ADS_1
"Pasti karena Vivian merawat mu dengan baik. Jadi cepat sehatnya." kata Nyonya Lisa menggoda putranya.
"Iya, Oma. Tadi sore mommy sudah memberikan obat untuk daddy. Niko juga sudah mendoakan daddy biar cepat sembuh." kata Niko tiba-tiba. Bocah itu menceritakan tentang sore tadi saat ia ikut dengan Vivian melihat sang ayah yang katanya sedang sakit.
"Wah, benarkah ? cucu Oma pintar." Nyonya Lisa senang mendengar cerita Niko dan bocah itu pun mengangguk membenarkan perkataannya.
Setelah selesai makan malam, Vivian menemani Niko belajar di kamar. Sementara Reyhan pergi ke ruang kerjanya untuk melanjutkan pekerjaannya. Pukul sepuluh malam, Reyhan baru saja menyelesaikan pekerjaannya. Sebelum kembali ke kamarnya, ia terlebih dahulu pergi ke kamar Niko. Ingin melihat putranya yang sedang tidur. Sesuatu yang dulu selalu ia lakukan setiap malam. Tapi sekarang sudah jarang ia lakukan karena kesibukan pekerjaannya. Dan juga sejak putranya itu bersama dengan Vivian. Jadi Niko tidak pernah lagi menangis di malam hari karena mencari mommynya.
Beberapa menit berlalu, Reyhan masih menatap wajah polos Niko yang sedang tidur. Kemudian Reyhan mengalihkan pandangannya melihat Vivian yang juga sedang tertidur di samping Niko. Reyhan menatap wajah Vivian yang terlihat cantik. Entah sejak kapan Vivian menjadi secantik itu. Padahal dulu Vivian terlihat seperti wanita yang biasa-biasa saja saat baru menginjakkan kaki di rumah ini.
"Mas Reyhan."
Suara Vivian tiba-tiba membuyarkan pikiran Reyhan yang sedang memikirkan Vivian.
"Ayo, kita kembali ke kamar." perintah Reyhan dan Vivian segera bangkit dari tempat tidur dan menyusul Reyhan yang sudah menggerakkan kursi rodanya sendiri menuju pintu kamar.
Reyhan menatap Vivian saat wanita itu baru keluar dari kamar mandi untuk mengganti pakaiannya. Pria itu masih bersandar di ranjang. Matanya terus memperhatikan setiap gerakan yang di lakukan oleh sang istri.
"Ada apa, mas ?" tanya Vivian sedikit grogi karena Reyhan sejak tadi melihatnya.
__ADS_1