
Sudah satu minggu Vivian kembali beraktivitas di kampus. Setelah mengantarkan Niko, Beni lalu mengantarkan Vivian.
"Apa semua yang kita kumpulkan sudah cukup ?" Vivian membuka bicara diantara mereka.
"Masih ada yang kurang, nyonya."
Vivian membuang napas panjang mendengar jawaban Beni. Sepertinya ia masih harus bekerja keras untuk menjalankan misinya.
"Apa lagi yang kau butuhkan ?" tanya Vivian kemudian dan mereka pun terlibat pembicaraan serius sepanjang perjalanan.
Saat Vivian hendak melangkah masuk kedalam gerbang kampus, ponselnya tiba-tiba berdering. Vivian kemudian mengambil ponselnya di saku. Ia tersenyum melihat ternyata Tomy yang menelponnya. Sejak masa magang Vivian berakhir di perusahaan The Star, Tomy sudah beberapa kali menghubungi Vivian. Meskipun kadang Vivian sengaja tidak menjawab panggilan itu.
Di seberang sana Tomy tersenyum saat Vivian mengangkat panggilan darinya pagi ini.
"Selamat pagi pak Tomy." sapa Vivian hormat meskipun sebenarnya Tomy tidak bisa melihat apa yang dilakukan oleh Vivian.
"Tidak usah terlalu formal. Sekarang aku bukan atasan mu lagi. Panggil saja Tomy." pria itu juga mengubah panggilannya dari saya menjadi aku. Biar terdengar lebih akrab.
"Baiklah. Jadi, ada apa anda menelpon ku ?" tanya Vivian tanpa basa basi.
__ADS_1
"Aku hanya merindukan mu." jawab Tomy mencoba merayu yang membuat Vivian terkejut.
"Apa ?"
Tomy tertawa mendengar suara terkejut Vivian. "Aku hanya bercanda. Kau sedang apa sekarang ?" Tomy kembali bicara serius.
"Aku baru saja tiba di kampus." jawab Vivian jujur.
"Pukul berapa kau selesai kelas ? aku ingin mengajak mu makan siang." Tomy mengatakan maksud dan tujuannya menelpon Vivian.
"Tapi bagaimana dengan istri anda ? Aku tidak ingin ia jadi salah paham lagi." tanya Vivian ragu. Ia terpaksa bersikap begitu meskipun sebenarnya Vivian tidak masalah jika Serena kembali melabraknya.
"Baiklah." akhirnya Vivian menyetujui ajakan makan siang dari Tomy.
*
Di sebuah restoran, saat ini Tomy dan Vivian sedang makan siang bersama. Tomy menjemput Vivian di kampus setelah Vivian selesai kuliah.
"Mengapa memperhatikan ku ?" Vivian menghentikan makannya ketika menyadari jika sejak tadi Tomy sedang memperhatikannya.
__ADS_1
"Kau sangat cantik." kata Tomy tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Vivian yang kini terlihat merona.
Vivian menunduk tersipu mendengar pujian dari Tomy. Sejak menikah dengan Reyhan, Vivian menjadi semakin cantik karena Nyonya Lisa selalu menyuruh Vivian melakukan perawatan di salon. Ya, Nyonya Lisa ingin membuat Reyhan menyukai Vivian karena Reyhan menikahi Vivian hanya demi Niko.
Mantan istri Reyhan yaitu Serena sangat cantik. Jauh berbeda dengan Vivian yang seperti tidak terawat. Karena itulah Nyonya Lisa membawa Vivian ke salon. Dan ternyata aslinya Vivian menjadi sangat cantik. Tak kalah cantik dari Serena.
Setelah bisa menguasai perasaannya, Vivian kembali mengangkat wajahnya. "Apa yang ingin anda bicarakan tadi ?" Vivian mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Aku menyukai mu."
Vivian langsung tersedak mendengar perkataan Tomy. Tomy segera mengambil minuman dan memberikannya kepada Vivian.
"Maaf." Vivian mengelap bibirnya dengan tisu.
"Tidak seharusnya anda menyukai ku. Bagai mana dengan nyonya Serena ? dia pasti akan terluka. Sesama wanita aku tidak ingin menyakiti hati wanita lain." Vivian menolak secara halus perasaan Tomy.
"Sebenarnya Serena bukanlah seorang istri yang baik. Aku merasa menyesal telah menikah dengannya. Dulu aku dan Serena saling mencintai, lalu kami memutuskan untuk menikah. Selama hampir tiga tahun menikah, dia tidak pernah melayani ku dengan baik. Dia hanya sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak mau punya anak." Tomy menghela napas panjang menceritakan tentang rumah tangganya.
Mengapa kau menghilangkan bagian cerita Serena meninggalkan suami dan anaknya. Batin Vivian sambil menatap dalam wajah sedih pria yang ada di depannya itu. Vivian seolah-olah sedang menghayati kisah rumah tangga Tomy dan Serena.
__ADS_1