Wanita Kejam Istri CEO Lumpuh

Wanita Kejam Istri CEO Lumpuh
Reyhan Sakit


__ADS_3

Saat ini Nyonya Lisa dan Vivian sedang berada di sebuah salon langganan Nyonya Lisa. Ini kedua kalinya Nyonya Lisa mengajak Vivian untuk melakukan perawatan.


"Mommy, apa Niko sudah pulang ?" Vivian teringat dengan anak sambungnya saat melihat hujan deras melalui jendela kaca di salon.


"Sudah. Saat mommy keluar rumah tadi Niko sudah tidur siang." Nyonya Lisa menatap Vivian dengan sayang karena melihat Vivian yang begitu perhatian dan menyayangi Niko. Tidak salah ia memilih Vivian untuk menjadi istri Reyhan dan jadi ibunya Niko.


Selama hampir tiga jam Nyonya Lisa dan Vivian berada di salon. Melakukan berbagai macam perawatan mulai dari rambut, wajah, sampai tubuh. Nyonya Lisa ingin membuat Reyhan tertarik dengan istrinya. Karena itulah ia mengajak Vivian untuk melakukan perawatan. Sebenarnya wajah Vivian cukup cantik, mungkin karena kurang perawatan dan faktor ekonomi membuat kecantikan itu tidak terpancar. Apalagi Vivian hanya seorang wanita sederhana dari segi penampilan dan make up yang di kenakan. Tidak, Vivian bahkan tidak pandai memakai make up. Sehari-harinya hanya mengunakan bedak Compact powder dan lipstik.


Pukul tiga sore, Vivian dan Nyonya Lisa sudah sampai di rumah. Di luar sana hujan belum berhenti. Hujan sejak pukul sepuluh pagi tadi masih dengan derasnya mengguyur seluruh kota.


"Vivian, tunggu." panggil Nyonya Lisa saat Vivian hendak masuk ke dalam kamar.


"Ini, mommy membeli beberapa pakaian untuk mu. Di pakai ya." kata Nyonya Lisa penuh harap sambil memberikan tiga paper bag kepada menantunya itu.


"Terima kasih, mom." Sebenarnya Vivian merasa sungkan untuk menerima pemberian dari ibu mertuanya. Tapi, untuk menolak juga dia tidak mau. Takut akan membuat Nyonya Lisa tersinggung.

__ADS_1


Kemudian Vivian meneruskan langkahnya untuk masuk ke dalam kamar. Alangkah terkejutnya ia saat melihat Reyhan sedang tertidur pulas di tempat tidur. Vivian melihat jam di dinding kamar. Biasanya Reyhan akan pulang pukul lima sore. Tapi sekarang baru pukul tiga. Vivian berjalan perlahan meletakkan tas dan paper bag itu di atas meja. Setelah itu ia berniat akan keluar. Sebaiknya dia pergi ke kamar Niko saja agar tidak menganggu tidur Reyhan.


Baru saja Vivian ingin beranjak dari tempatnya, terdengar suara bersin Reyhan beberapa kali. Juga di sertai suara menggigil. Vivian pun mengalihkan pandangannya ke arah sang suami. Tubuh Reyhan yang sedang berbaring itu tampak bergetar di sebalik selimut.


"Mas Reyhan kenapa ?" tanya Vivian sambil berjalan mendekat.


"Mas sakit ?" Vivian meletakkan punggung tangannya di dahi Reyhan.


"Astaga. Panas sekali. Mas demam." Vivian mulai cemas.


Reyhan yang sedang menggigil dengan keadaan setengah sadar pun tidak menanggapi perkataan istrinya. Vivian kemudian pergi ke kamar mandi mengambil wadah air hangat dan handuk untuk mengompres Reyhan. Setelah itu Vivian keluar kamar untuk mencari obat demam di dapur.


"Siapa yang sakit, Vivian ?" tanya Nyonya Lisa yang tiba-tiba sudah ada di dapur dan melihat Vivian mencari obat.


"Mas Reyhan demam, mom." Vivian menoleh sebentar ke arah ibu mertuanya. Kemudian kembali melanjutkan mencari obat demam untuk Reyhan.

__ADS_1


"Siapkan makanan untuk Reyhan." perintah Nyonya Lisa kepada pelayan. Sebelum minum obat, sebaiknya makan dulu agar lambung tidak sakit.


Vivian kembali ke kamar dengan membawa obat dan napan berisi makanan. Dengan lembut ia membangunkan Reyhan.


"Mas, bangun dulu." Vivian mengusap lengan Reyhan lembut.


"Mas." panggilnya lagi karena Reyhan belum membuka mata.


Setelah beberapa kali panggilan, barulah Reyhan sadar. Vivian membantu Reyhan untuk duduk. Kemudian ia mulai menyuapkan makanan. Selesai makan, Vivian memberikan obat untuk Reyhan.


"Terimakasih." ucap Reyhan setelah Vivian membantunya untuk kembali berbaring.


"Sama-sama, mas." balas Vivian sambil tersenyum. Entah mengapa hari ini Reyhan melihat senyum Vivian sangat manis dan wajah Vivian juga terlihat cantik. Apakah memang dari dulu Vivian sangat cantik. Atau baru hari ini dia menyadarinya.


"Em, mas istirahat ya. Aku akan keluar." kata Vivian sambil menunduk malu karena Reyhan tidak berhenti memandangnya.

__ADS_1


"Semoga cepat sembuh daddy." suara Niko tiba-tiba mengalihkan perhatian Reyhan. Mereka baru sadar jika saat ini mereka tidak hanya berdua di dalam kamar. Kemudian Reyhan tersenyum menanggapi perkataan sang putra.


"Ayo, sayang kita keluar dulu. Biar deddy bisa istirahat." Vivian mengajak Niko keluar meninggalkan Reyhan sendiri di kamar.


__ADS_2