
Waktu kini hampir tengah malam, Tomy baru saja pulang ke rumah.
"Tomy, kau kenapa ?" Serena melihat suaminya berjalan sempoyongan masuk ke dalam kamar.
"Kau mabuk ?" tanya Serena lagi saat mencium bau alkohol yang menyengat ketika Tomy menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur, tepat di sampingnya.
Serena lalu bangun untuk membuka sepatu Tomy dan membantu suaminya berbaring dengan benar. Saat Serena ingin menggeser tubuh Tomy, tiba-tiba pria itu menarik rambutnya dengan kuat.
"Aw, sakit Tomy. Lepaskan!" pekik Serena saat merasakan kulit kepalanya yang seperti akan terlepas.
"Jangan menyentuh ku, perempuan jal**g !" sentak Tomy yang masih menarik rambut Serena.
Tangan Serena berusaha dengan susah payah mencoba menggapai lengan Tomy untuk melepaskan dari rambutnya.
"Kau ingin aku melepaskan mu agar kau bisa kembali pada si lumpuh itu, hah ? jangan mimpi !" kata Tomy yang masih di kuasai perasaan marah karena kekalahannya hari ini.
"Apa maksud mu ? mengapa kau menuduh ku seperti itu ?" Serena tidak terima dengan tuduhan Tomy. Wanita itu bahkan tidak tahu ada permasalahan apa antara Tomy dengan mantan suaminya yang lumpuh itu
"Sekali penghianat tetap penghianat." Tomy melepaskan rambut Serena dan mendorong tubuhnya sehingga wanita itu terjerembab di lantai.
"Pergi kau dari sini !" Tomy mengusir Serena dengan menendang tubuh wanita itu, membuat Serena kembali tersungkur ke lantai.
Serena menangis terisak sambil merasakan sakit pada tubuh dan juga hatinya karena kekerasan dan juga tuduhan yang di lakukan oleh Tomy. Sebelumnya, pria yang sudah hampir tiga tahun menjadi suaminya itu tidak pernah bersikap kasar seperti malam ini.
__ADS_1
*
"Mommy ! Mommy !" seru Niko menggema di seluruh ruangan, memanggil Vivian sambil berlari menuju ke arah wanita itu.
"Hati-hati, sayang. Jangan lari-lari !" Vivian segera menangkap tubuh Niko.
"Mom, Oma sudah mengizinkan kita untuk pergi ke taman." kata Niko setelah mendapatkan izin dari grandma nya.
"Apa daddy juga sudah mengizinkan ?" tanya Niko kepada Vivian.
"Eemmm."
Vivian bingung harus menjawab apa. Karena ia sama sekali belum menanyakan kepada ayah dari anak asuhnya itu. Boro-boro untuk meminta izin, berbicara dengan Reyhan saja hanya beberapa kali meskipun Vivian sudah hampir setengah tahun tinggal bersama.
Suara Reyhan tiba-tiba mengalihkan perhatian Vivian dan Niko.
"Hore ! Daddy mengizinkan." teriak Niko kegirangan melihat kedatangan sang ayah.
Bocah kecil itu melepaskan diri dari pelukan Vivian kemudian berlari kearah Reyhan yang baru saja keluar dari ruangan kerjanya. Reyhan segera mengangkat tubuh putranya dan membawa ke dalam pelukannya.
"Terima kasih, dad." Niko mencium pipi kanan dan kiri ayahnya.
Niko memeluk erat tubuh sang ayah untuk melepaskan rasa rindu karena rasanya sudah lama sekali mereka tidak memiliki waktu bersama.
__ADS_1
Niko melompat-lompat menunjukan rasa bahagianya ketika mereka memasuki area sebuah taman bermain yang cukup terkenal di kota ini. Padahal bocah itu hanya ingin pergi ke taman yang tidak jauh dari kompleks perumahan.
"Mommy, ayo kita bermain itu." Niko menarik tangan Vivian dengan tidak sabaran sambil menunjuk salah satu permainan.
Vivian menoleh ke arah Reyhan dan Nyonya Lisa seakan meminta izin membawa Niko.
"Pergilah." kata Reyhan yang mengerti maksud dari tatapan Vivian.
"Ayo,.mom. Cepat." kata Niko begitu mendapat izin dari ayahnya.
Sementara Reyhan yang di bantu oleh Beni untuk mendorong kursi rodanya dan juga Nyonya Lisa duduk di salah satu kursi yang ada di sana sambil melihat Niko dan Vivian bermain.
"Rey, lihat Niko. Dia tampak sangat bahagia. Vivian sudah seperti ibu bagi Niko." kata Nyonya Lisa melihat kebersamaan Niko dan Vivian.
Reyhan juga menyadari perubahan pada Niko sejak bertemu dengan Vivian. Niko sudah tidak lagi menangis di malam hari mencari mommynya. Karena setiap malam Vivian akan menemani Niko tidur sambil membacakan cerita dongeng.
"Kau tau Rey, Vivian bercerai karena suaminya selingkuh dengan perempuan lain." kata Nyonya Lisa.
Reyhan menoleh ke arah mommynya. Ia baru tahu jika ternyata Vivian seorang janda. Wanita itu bahkan terlihat masih sangat muda.
"Rey, apa kau tidak ingin mencarikan mommy untuk Niko ?" tanya Nyonya Lisa hati-hati agar tidak membuat Reyhan marah.
Reyhan hanya menghela napas mendengar pertanyaan dari sang ibu. Dia masih sangat terluka karena penghianatan Serena dan belum terpikirkan untuk menikah lagi.
__ADS_1