
Tomy mengajak Vivian makan malam romantis di sebuah restoran mewah hotel bintang lima. Rencananya Tomy ingin melamar sang kekasih malam ini.
"Will you marry me ?" Tomy mengeluarkan sebuah kotak cincin dan membukanya di hadapan Vivian.
Vivian begitu terkejut dengan lamaran Tomy yang begitu cepat. Pria itu bahkan belum sampai satu bulan bercerai dengan Serena, mantan istrinya.
"Apa ini tidak terlalu cepat ?" tanya Vivian. "Kita bahkan baru beberapa Minggu menjadi kekasih." Vivian beralasan. Tidak mungkin dia menerima lamaran Tomy sementara dia sudah menikah dan mempunyai suami. Lagi pula Vivian tidak menyukai Tomy.
"Aku sudah sangat yakin dengan keputusan ku. Kau adalah wanita yang tepat dan terbaik untuk ku dan aku sangat mencintai mu." kata Tomy meyakinkan Vivian.
"Em, bisakah kau memberikan aku waktu ? Kau sendiri tahu aku pernah gagal dalam rumah tangga, jadi aku tidak ingin gagal untuk yang kedua kalinya."
Tomy tampak kecewa mendengar jawaban Vivian. Tapi dia juga tidak bisa memaksa.
"Aku mengerti. Aku juga ingin ini jadi pernikahan terakhir dalam hidup ku. Aku sangat berharap kau akan menerima lamaran ku ini."
__ADS_1
"Terima kasih." Vivian tersenyum mendengar penuturan Tomy. Padahal dalam hatinya mengutuk pria yang ada di hadapannya saat ini.
Jika bukan karena Mas Reyhan, aku tidak sudi tersenyum dan berbicara lembut kepada mu. Batin Vivian.
Setelah makan malam sekaligus acara lamaran, Tomy dan Vivian keluar dari hotel. Mereka berjalan bergandengan tangan. Sebenarnya Vivian merasa sangat tidak nyaman, tapi dia harus terus berakting agar Tomy tidak mencurigainya.
Tanpa mereka sadari seorang wanita sedang memperhatikan dari kejauhan dengan tatapan mata yang penuh amarah.
Sementara itu Beni yang sejak tadi mengikuti Vivian memberikan laporan kepada Reyhan jika saat ini Tomy dan Vivian sudah masuk ke dalam mobil.
"Baik, tuan." Beni pun mulai menjalankan mobilnya untuk mengikuti mobil Tomy dari jarak aman.
Reyhan menggenggam ponselnya dengan sangat kuat untuk melampiaskan kemarahannya saat ini. Suami mana yang tidak akan marah ketika melihat istrinya berjalan bergandengan tangan dengan pria lain. Apa lagi mengetahui jika pria itu adalah kekasih sang istri.
Sebenarnya Beni tidak ingin mengirimkan foto Vivian dan Tomy yang sedang bergandengan tangan karena tidak ingin membuat tuannya marah, tapi Reyhan memaksa ingin melihatnya. Ia tidak puas dan tidak percaya jika mereka hanya berpegangan tangan.
__ADS_1
Dulu ia melihat dengan mata kepalanya sendiri Tomy dan Serena bercinta di sebuah kamar hotel. Tomy seorang pria berg**k dan pandai merayu wanita. Sehingga Serena tergoda dan jatuh ke pelukan pria itu. Reyhan takut hal yang sama juga terjadi dengan Vivian. Takut jika Vivian akan luluh dan lebih memilih Tomy dari pada dirinya yang lumpuh.
Tomy menghentikan mobilnya di depan gedung Apartemen Vivian.
"Terima kasih untuk malam ini." ucap Vivian kepada Tomy.
"Aku yang harusnya berterima kasih karena kau mau menemaniku." balas Tomy.
Vivian membuka pintu mobil untuk segera keluar, dia sudah sangat muak sejak tadi berpura-pura di hadapan pria jahat ini.
"Sampai jumpa." Vivian melambaikan tangan kepada Tomy sebelum ia masuk ke dalam gedung apartemen.
Setelah memastikan mobil Tomy tidak terlihat, Vivian lalu keluar lagi. Ia langsung masuk ke dalam mobil Beni yang sudah terparkir di sana.
"Ini." Vivian menyerahkan sebuah chip kepada asisten suaminya itu.
__ADS_1
"Semoga ini cepat berakhir." gumam Vivian.