
"Kemarilah." Reyhan menepuk sisi kosong tempat tidur di sampingnya. Menandakan jika ia meminta agar Vivian duduk di sebelahnya. Dan Vivian pun patuh menurut.
Reyhan tidak berkata apapun setelah Vivian duduk di sampingnya. Ia masih menatap wanita itu dengan dalam. Vivian menundukkan kepala dengan jantung berdebar. Vivian bukan tidak tau apa maksud dari tatapan suaminya itu. Tapi, apa mungkin secepat ini mereka akan melakukannya ? sedangkan mereka sama-sama tau, pernikahan ini terjadi hanya demi Niko. Perlahan tangan Reyhan mengangkat dagu Vivian, agar wanita itu menatap kearahnya.
"Apa kau ikhlas menerima ku sebagai suami mu dan bukan hanya karena Niko ?" Reyhan bertanya sambil menatap ke dalam bola mata Vivian untuk memastikan kejujuran wanita itu.
"A aku ikhlas, mas."
Reyhan menarik sedikit sudut bibirnya. Lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Vivian untuk mencium kening wanita itu. Perlahan ciuman itu turun ke hidung dan berlabuh di bibir merah Vivian. Sesuatu yang sudah lama tidak mereka lakukan. Baik Reyhan maupun Vivian. Sejak masing-masing berpisah dengan pasangan sebelumnya.
Ciuman itu semakin lama semakin menuntut ketika mereka berdua terbawa suasana. Tangan Reyhan mulai bergerak memainkan da da wanita yang kini sudah menjadi istrinya. Vivian mele-nguh mendapatkan sentuhan pada salah satu bagian sensitifnya.
__ADS_1
Reyhan menarik Vivian semakin mendekat dan mengangkat tubuh wanita itu, kemudian mendudukkan di atas tubuhnya. Kini Reyhan bisa lebih leluasa untuk mencium sang istri. Vivian mengangkat kepalanya, memberikan akses kepada Reyhan yang menurunkan ciumannya di leher jenjang sang istri.
Ketika seorang pria yang sudah lama menduda dan wanita yang sudah lama menjanda, sama-sama kembali merasakan nikmat sentuhan yang menimbulkan hasrat. Semuanya di lakukan dengan menggebu-gebu. Dengan tidak sabar Reyhan menarik piyama yang di kenakan oleh Vivian sehingga kancingnya bertebaran. Mata Reyhan kini semakin berkabut melihat tubuh mulus nan elok milik Vivian, dengan dua buah bongkahan aset kembar yang padat berisi. Ukurannya yang lumayan besar membuat Reyhan langsung menenggelamkan wajahnya di sana. Menyesapnya secara bergantian.
"Eeuumm, maasss." Vivian memanggil Reyhan dengan suara yang terdengar mendesa, membuat Reyhan semakin bersemangat dan menggila.
Vivian yang sudah terbakar gairah pun dengan cepat membuka kancing baju Reyhan dan menanggalkannya. Begitu juga dengan Reyhan. Tangan keduanya saling melepaskan kain yang masih menutupi tubuh mereka. Sehingga mereka sudah sama-sama polos. Reyhan sedikit mengangkat tubuh Vivian untuk melakukan penyatuan.
"Akh." keduanya sama-sama meringis ketika merasa susah untuk menyatu..
"Mengapa susah sekali." Reyhan tidak menyangka akan sesusah ini melakukan bersama Vivian. Padahal Vivian bukan lagi seorang perawan.
__ADS_1
Reyhan pun harus berusaha ekstra dalam keterbatasannya yang tidak bisa menggerakkan kaki karena lumpuh. Ia hanya mampu mengarahkan sang istri untuk menggerakkan tubuh di atasnya. Sambil menahan sakit, Vivian terus memaksa menurunkan tubuhnya di atas ketegangan Reyhan dan akhirnya yes.
Ini pasti karena ramuan dan juga produk yang diberikan oleh mommy, yang membuatnya kembali seperti gadis lagi meski tidak perawan. Batin Vivian.
Sementara Reyhan tengah memejamkan matanya, merasakan kenikmatan cengkraman tubuh bagian bawah Vivian yang rasanya luar biasa pada ketegangannya. Dengan napas yang masih memburu, Reyhan kembali membuka matanya.
"Bergeraklah !" perintahnya.
Reyhan memegang pinggul Vivian dengan kedua tangannya. Mengarahkan Vivian umum turun naik di atasnya. Napas keduanya semakin memburu dengan cepat seiring dengan irama hentakan Vivian yang semakin cepat.
Aahhh aahh aahhh
__ADS_1
Keduanya terengah-engah setelah sama-sama mendapatkan pelepasan. Tubuh Vivian ambruk di atas dada bidang Reyhan yang di penuhi keringat. Reyhan sedikit menundukkan wajahnya untuk mencium pucuk kepala Vivian.
"Terima kasih."