
Orang bilang cinta bisa membuat yang merasakannya berbuat bodoh. Orang juga bilang jangan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya. Namun orang tidak tahu, saat kita jatuh cinta kita bukan hanya bodoh tapi juga buta.
Kita bisa melihat tapi kita membodohi diri kita untuk tidak melihat kenyataan yang sebenarnya. Kita terlalu takut untuk membuka mata dan melihat kenyataan bahwa kenyataan itu amat menyakitkan. Kita lebih memilih menutup mata dan hanya melihat yang indah-indah saja.
Begitulah yang Ami lakukan. Walau terlihat seperti gadis bodoh dan menyedihkan dengan tetap di sisi Bagas dan mempertahankan cinta sepihaknya, namun Ia mempunyai keyakinan kalau suatu hari nanti Ia akan mampu menghangatkan dan mengetuk hati Bagas.
Dan disinilah Ami. Lagi dan lagi menjadi obat nyamuk. Dulu Ia menemani Nani pacaran. Sekarang pun tidak jauh berbeda, Ia menemani Bagas yang sedang pendekatan dengan Melisa.
Ami menyeruput Teh Botol Sosro yang Melisa sajikan. Teh yang rasanya manis seketika terasa hambar, sehambar hatinya saat menemani Bagas. Sudah tidak perlu diragukan lagi kebodohan Ami levelnya, super duper amat sangat bodoh. Gak usah dihujat Ami sadar diri kalau dirinya bodoh.
Hp tidak punya, jadi Ami hanya memandang halaman rumah Melisa saja jika merasa sebal dengan rayuan demi rayuan yang Bagas tujukan untuk Melisa. Jika waktu itu sudah jamannya sosial media pasti Ami akan mencurahkan isi hatinya panjang lebar.
Jangan dipikir Ami terlalu bodoh, Ami juga sedikit pintar. Ada satu hal yang Ia sembunyikan dari Bagas, yakni kenyataan kalau Melisa sudah punya pacar, dan hubungan mereka sudah serius bahkan Melisa berencana akan segera menikah setelah lulus SMA.
Ami ingin Bagas merasakan setidaknya sakit hati dan rasanya diberi harapan namun ternyata hanya harapan semu. Seperti Bagas yang memanfaatkannya, Ami juga memanfaatkan Bagas. Ia bisa seenaknya menyuruh Bagas mengantar jemput dirinya kalau mau jalan ke mall. Lumayan, Kang Ojeknya ganteng loh. Bahkan Bagas sering mentraktirnya pula.
Ami banyak belajar dari rasa sakit yang Ia rasakan. Ia tahan rasa sakit yang Ia rasakan hari ini, namun Ia jadikan rasa sakit itu sebagai pengalaman ke depannya. Berguru dengan playboy kelas kakap membuatnya banyak ilmu. Gak perlu perbanyak record pacaran, cukup beberapa pacar namun perbanyak gebetan. Tebar harapan kemana-mana, kalau memang cowok tersebut memang benar-benar mencintai Ami, Ia akan memperjuangkan cintanya.
Tapi kapan? sampai sekarang saja Ami masih jadi kambing congek yang mendengarkan Bagas ngegombal. Sambil menahan tawa Ia membuang wajahnya menatap tanaman di halaman rumah Melisa.
__ADS_1
Dasar Bagas bodoh. Tebar terus tuh gombalan. Gak tau aja kalau Melisa udah cinta mati sama pacarnya- Ami.
Pendekatan Bagas dan Melisa berlangsung selama 2 minggu. Selama itu pula Ami menikmati saat-saat ngebut di jalanan dengan Bagas. Merasakan jantungnya yang berdegup kencang saat Bagas melepas kedua tangannya dari stang motor. Bisa sebebasnya memeluk Bagas tanpa membuat Bagas mencurigainya.
Ya itulah. Itulah hubungan timbal balik. Namun Ami sadar semua kesenangannya akan segera sirna saat Bagas mengutarakan isi hatinya pada Melisa. Jawaban Melisa sudah Ami perkirakan. Melisa menolak cinta Bagas. Bagas pun merasakan patah hati juga, sama seperti yang Ami rasakan.
Pulang dari rumah Melisa, Bagas memberhentikan motornya diatas fly over yang ramai orang pacaran. Bagas memesan air mineral dingin pada tukang jualan gerobak yang nongkrong disana. Selain penjual air mineral juga ada penjual buah potong yang mangkal. Benar-benar jadi tempat tongkrongan dadakan fly over ini. Dulu Ami merasa sebal melihat banyak orang pacaran yang nongkrong disini eh Bagas malah mengajak dirinya kesini.
Ternyata lumayan juga nongkrong di fly over. Udaranya sejuk dan pemandangan lampu dari atas fly over sangat indah.
"Mi, ternyata gue ditolak sama Melisa. Dia gak suka sama gue." kata Bagas dengan sedih.
"Ya mungkin belum jodoh kali Gas."
Bagas menatap Ami lekat. Ami langsung memasang wajah sedihnya pertanda Ia turut merasakan kesedihan di hati Bagas.
"Makasih ya Mi selama ini lo udah nemenin gue. Ya meskipun gue gagal jadian sama Melisa tapi gue seneng kok jalan sama lo. Lo emang sahabat gue yang terbaik Mi."
Sahabat. Ya hanya itulah Ami di mata Bagas. Tidak pernah lebih dari itu. Ami memaksakan senyum di wajahnya. Rasa getir di hatinya tidak boleh tergambar di wajahnya. Biarlah hanya dirinya dan Tuhan yang tahu perasaannya.
__ADS_1
"Lo kan tau kalo gue siap membantu lo kapan aja, Gas. Oh iya kenapa lo gak deketin cewek di sekolah lo aja sih? Pasti banyak dong cewek cantik di sekolah lo. Ada adik kelas juga yang imut pastinya. Kenapa harus dari sekolah gue?" ini memang pertanyaan yang sejak beberapa minggu lalu Ami ingin tanyakan namun selalu Ia tahan.
Bagas menatap ke bawah. Pandangan matanya seperti sedang mengingat sesuatu. "Image gue di sekolah udah jelek Mi. Gue udah di cap sebagai playboy yang suka mainin hati cewek. Setiap yang gue deketin selalu menghindar karena rumor jelek tentang gue yang tersebar."
"Banyak yang udah lo pacarin?" entah mengapa Ami tidak merasa sakit hati menanyakan jumlah pacar Bagas. Ia tahu jawabannya pasti banyak.
"Banyaklah. Bahkan guru yang udah nikah pun gue pacarin."
Ami langsung menatap Bagas dengan pandangan tidak percaya. "Are you serious? Gila lo. Kayak gak ada aja yang lo pacarin. Pacar lo tau gak lo sampe pacaran sama guru segala?"
"Udah putus lama gue sama pacar gue. Sejak gue masuk SMA udah gue putusin. Gue serius Mi. Malah tuh guru yang ngedeketin gue duluan." jawab Bagas dengan santainya tanpa merasa berdosa telah menjadi orang ketiga dalam rumah tangga orang lain.
"Em... Sorry nih Gas. Lo berbuat kayak gini gak takut dosa? Gak takut kalau suatu saat lo akan kena karma?"
Bagas terdiam lagi, Ia memikirkan kata-kata yang akan Ia katakan pada Ami. Bagas lalu menghembuskan nafas kesal. "Gue gak peduli Mi. Bagi gue sejak awal Tuhan tuh emang gak pernah adil sama gue. Tuhan gak sayang sama gue. Tuhan duluan yang ngambil kedua orang tua gue. Gue gak peduli kalo apa yang gue lakuin itu dosa-"
Ami langsung memotong perkataan Bagas. "Sebentar deh. Maksud lo gak peduli kalo lo ngelakuin dosa tuh apa? Jangan bilang sekarang bahkan lo udah berani ngerusak cewek yang lo pacarin? Jangan bilang kalo hubungan lo sama pacar-pacar lo udah terlalu jauh?"
Bagas mengangguk. Ami menutup mulutnya dengan tangannya. Ia tidak percaya Bagas akan melakukan hal itu. Inilah kekecewaan Ami yang terbesar pada Bagas. Selama ini Ami hanya menganggap Bagas kesepian jadi sering gonta ganti pacar hanya karena mencari perhatian saja karena kurangnya kasih sayang. Ami tidak menyangka sekarang bahkan Bagas sudah berani merusak anak gadis orang.
__ADS_1
Ami membuang pandangannya. Ia benar-benar kecewa dengan perbuatan Bagas. Kalau saja Ia masih jadi sahabat yang selalu di sisi Bagas pasti Ia akan melarang Bagas melakukannya dan pasti Bagas akan menuruti perkataannya. Ternyata ketenaran sudah benar-benar merubah Bagas, dari playboy gadungan menjadi seorang ********.