Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 55


__ADS_3

Orang bilang kalau mau menikah sebaiknya jarang bertemu. Karena apa? Karena sebelum menikah akan semakin banyak perbedaan pendapat. Entah perbedaan mengenai tema warna baju pengantin, konsep pernikahan, tempat resepsi mau di rumah atau gedung, pemilihan katering dan yang paling mendasari perselisihan adalah masalah biaya.


Biaya yang di anggarkan berapa namun ternyata banyak biaya gak penting yang harus dikeluarkan juga. Misalnya untuk seragam keluarga, jika ada salah satu yang belum dikasih pasti jadi omongan. Kalau mau beliin semua tentunya memerlukan biaya yang sangat besar.


Belum lagi pemesanan katering yang mewajibkan pembayaran dimuka minimal 70% dan sisanya setelah acara. Biaya gedung yang harus dipesan jauh-jauh hari dan dbayar full sebelum acara. Semua berhubungan dengan uang.


Rian yang baru kerja di tempat yang baru tidak bisa sering-sering membantu Ami. Terkadang Ia harus kerja di hari sabtu. Waktu bertemu makin jarang, komunikasi terbatas. Itulah yang mengakibatkan timbul percikan-percikan amarah yang berbuah menjadi pertengkaran.


Kalau tidak sabar maka kata putus akan dengan mudahnya terucap. Disitulah sebagai pasangan harus saling meredam amarah dan mengingat lagi tujuan akhir pernikahan itu apa.


Yang satu emosi, yang lain meredam. Yang satu gak sabaran, yang lain harus lebih banyak stok sabarnya. Kalau tidak seperti itu maka akan bubar graakk.


Pernikahan itu menyatukan kedua keluarga. Kalau sampai gagal juga akan memecah kedua keluarga juga. Karena itu dipikirin matang-matang sebelum mengambil keputusan.


Tapi proses pernikahan tidak juga seseram itu. Banyak kok saudara yang baik. Yang ikhlas membantu tanpa mengharap imbalan.


Bantuan yang Ami terima adalah gaun pengantin. Baru satu kali dipakai. Dan gaun tersebut adalah rancangan designer terkenal yang dihiasi dengan banyak swarovski. Di samping hemat juga tak perlu menyewa gaun pengantin yang bentuknya pasaran karena pernah dipakai oleh orang lain.


Bantuan lain yang Ami terima adalah undangan pernikahan. Ada saudara Ami yang membantu dengan membuatkan undangan pernikahan khusus untuk Ami dan free alias gratis. Coba itu, rejeki nomplok kan?


Persiapan pernikahan sudah hampir selesai. Hanya tinggal sebulan lagi sebelum acara sakral. Namun jangan lengah, cobaan akan terus datang tanpa kita duga. Membuat kita semakin teguh akan keputusan atau malah menyerah dan semua akan sia-sia.


Tiba-tiba di hari kamis sore Ami mendapat kabar kalau Bapak Rian sakit dan harus dilarikan ke Rumah Sakit. Ami dan Rian bahkan berkeliling mencari dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain untuk mencari ruang ICU yang kosong.

__ADS_1


Bapak Rian tiba-tiba terjatuh dan vonis dokter Ia kena serangan stroke. Cobaan apa lagi ini. Sebulan lagi, hanya sebulan lagi sebelum hari bahagia mereka. Dan cobaan ini begitu berat untuk Rian.


Keesokan harinya di hari jumat pagi, Ami mendapat kabar kalau Bapak Rian meninggal dunia. Lagi-lagi orang baik meninggal di hari baik pula, sama seperti Bapak Ami yang meninggal di hari Jumat juga.


Semua keluarga Rian berkumpul. Rumah Rian dalam sekejap ramai dan penuh sesak oleh banyaknya pelayat. Bapak Rian yang terkenal sebagai guru BP yang mengayomi dan suka mendengarkan curhatan muridnya ternyata memiliki banyak kesan di hati mereka. Banyak muridnya yang datang dan menyolatkannya bahkan sampai membantu menguburkannya.


Ami pun sejak pagi sudah datang dan terus membantu di rumah Rian yang sudah Ia anggap sebagai rumahnya sendiri. Rian terlihat tegar meski hatinya sedih. Sesekali Ia menghampiri Ami sekedar menawarkan Ami makanan dan minuman, padahal Ia sendiri belum makan sejak pagi.


Ami sedih melihat Rian yang sedih namun menyembunyikan kesedihannya tersebut. Rian terlihat sibuk mengurus segala keperluan pemakaman, karena memang hanya Dia-lah anak laki-laki Bapaknya. Kakak dan Ibunya terlihat masih sedih dan kehilangan. Kakaknya bahkan sempat pingsan.


Mungkin kehadiran Ami diantara keluarga besar Rian hanyalah setitik dan tidak terlihat, namun Ami berharap Ia akan memberikan semangat dan dorongan bagi Rian agar lebih kuat lagi menghadapi cobaan.


******


Waktu pun semakin lama semakin berlalu dengan cepat. 2 minggu sebelum acara pernikahan dilaksanakan. Sepertinya hanya Ami sendiri yang sibuk dengan urusan ini dan itu.


Ami kadang merasa kalau hanya dirinyalah yang semangat dalam menyambut pernikahan ini. Apakah hanya dirinya saja yang benar-benar ingin menikah?


Sampai akhirnya seminggu sebelum acara. Rian datang dan membantu semua keperluan Ami. Mereka berkeliling menyebarkan undangan. Setelah semua undangan disebar, Ami dan Rian pun menjalani sesi 'dipingit'.


Mereka hanya berkomunikasi lewat telepon. Itu juga kadang masih suka bertengkar di telepon. Tapi setidaknya mereka tetap 'jalan' dan progressnya tidak stuck di tempat.


******

__ADS_1


Flashback seminggu sebelum acara.


"Gas, gue mau kasih ini." kata Ami setelah mereka janjian bertemu di cafe dekat rumah Bagas.


"Apaan nih Mi?" tanya Bagas seraya menerima undangan yang Ami berikan.


"Undangan pernikahan gue. Lo dateng ya."


Bagas menghentikan membuka undangan yang Ami berikan. Ia masih kaget mendapati kenyataan kalau Ami mengatakan bahwa dirinya akan menikah.


"Lo... mau nikah? Sama siapa?" Bagas mulai menginterogasi Ami.


"Sama Rian." jawab Ami yakin.


"Rian? Bukannya dulu lo bilang kalian udah putus?!" tanya Bagas tak percaya.


"Hmm... iya sih kita berdua udah putus tapi tiba-tiba Rian ngajak gue ketemuan dan Dia langsung ngelamar gue deh." jawab Ami dengan senyum bahagia di wajahnya. Ia masih saja bahagia saat mengingat kenangan saat Rian melamarnya dulu, begitu indah dan berkesan meski dengan cara sederhana.


"Terus lo terima gitu? Setelah kalian putus lebih dari setahun tiba-tiba Dia datang dan ngelamar lo tanpa pikir panjang langsung lo terima? Apa lo yakin Dia gak akan mengulangi kesalahan yang menyebabkan kalian sampai putus? Semudah itu lo terima Dia lagi?" Bagas mengepalkan tangannya yang sekarang Ia letakkan di bawah meja. Ami tak dapat melihat kesalnya Bagas tapi Ami dapat merasakan ada nada tidak suka dalam setiap perkataan Bagas barusan.


"Gue gak semudah itu Gas menerimanya. Dia ngelamar gue hampir setahun lalu dan gue bisa lihat kok kalau Dia beneran berusaha berubah demi gue. Kalau memang Dia gak ada perubahan mungkin pertunangan kita juga udah batal. Gue lihat kok usaha Dia buat ngedapetin hati gue. Dan yang pasti gue lihat kok keseriusan Dia." Ami menghembuskan nafasnya, Ia tidak mau emosi dalam menghadapi Bagas. Ami merasa Bagas agak tidak rela sahabatnya akan menikah dengan cowok lain dan pasti akan kurang memperhatikannya lagi.


"Gue udah lihat dalam setahun ini Dia amat berusaha dan sabar ngadepin sifat gue yang kadang emosional. Masalah kita pernah putus dulu, itu bukan hanya kesalahan Rian semata. Ada andil gue di dalamnya. Kalau saja gue lebih sabar mungkin kita berdua udah nikah sejak lama. Baik dulu maupun sekarang keyakinan gue tetap sama. Gue tetep yakin untuk menikah dengan Rian, Gas." Ami menatap Bagas yang terlihat membuang pandangannya, entah karena kesal atau... cemburu? Ah gak mungkin. Pasti kesal aja karena akhirnya playboy kayak Dia kalah cepat nikahnya dibanding Ami yang dulu jarang ada yang suka.

__ADS_1


Ami tetap menunggu sampai Bagas mau menatapnya lagi dan rasa kesalnya hilang, namun sudah 15 menit dan Bagas tak kunjung mengajaknya bicara lagi. Ami pun memutuskan untuk pamit. Masih ada beberapa undangan yang harus Ia bagikan.


Bagas akhirnya menatap kepergian Ami. Kepergian sahabat yang amat Ia cintai. Bagas amat kesal melihat Ami begitu bahagia mengumumkan pernikahannya. Tidakkah Ami sadar bahwa ada hati yang terluka dan terasa amat sakit? Sakit namun tidak berdarah.....


__ADS_2