
⚘⚘⚘Hi semua! Cuma mau bilang baca juga novel aku yang udah tamat yaitu NAMAKU AYU dan PERNIKAHAN KEDUAKU ya.⚘⚘⚘⚘
"Nembak cowok duluan? Big no! Gak mau! Kemana harga diri gue kalo kayak gitu?" Ami menggelengkan kepalanya tidak setuju dengan ide gila yang Ningrum usulkan.
"Ya lagian lo sendiri yang gak sabaran. Kalo emang si Brian suka sama lo nanti juga bakalan balik ke lo lagi."
"Rian. Bukan Brian." koreksi Ami.
"Iya. Lagi juga Brian kan bule, enggak sebuluk Rian." kata Ningrum seenaknya.
"Ih Rian tuh ganteng tau. Ganteng. Kalo gak ganteng mana mungkin gue mau taruhan sama Mala cuma buat dapetin Dia doang?!"
"Nah itu lo udah tau. Dari awal niat lo tuh ke Rian cuma taruhan. Lo sendiri yang kebawa perasaan. Sekarang Rian nyalamin Intan lo sendiri yang sakit hati." Ningrum mulai serius dengan perkataannya. "Saat pertama lo udah masang taruhan buat ngedapetin Rian, saat itu jug lo harus siapin hati lo. Siap buat kalah dalam taruhan. Siap buat kemungkinan terburuk yaitu Rian gak suka sama lo."
Ningrum melihat sekilas raut muka Ami yang sepertinya mulai mencerna perkataannya. Ia pun melanjutkan lagi perkataannya setelah dirasa Ami siap menerima serangan kata-katanya yang dirasanya lumayan pedas. Ia tak peduli, Ia kenal betul dengan sifat Ami. Walau agak lebay tapi bukan orang yang perasa dan mudah marah bahkan terlalu bloon sampai sering dibodohi oleh sahabatnya Bagas.
"Sekarang lo pastiin dulu deh, hati lo buat siapa? Bagas atau Rian?"
Ami langsung menatap Ningrum, ada pandangan seperti tidak terima. "Gue sama Bagas cuma sahabatan, gak lebih."
"Ya itu kan kata lo. Gak usah bohong deh, lo suka kan sama Bagas?" gantian Ningrum yang menatap Ami dengan pandangan meminta jawaban yang jujur.
Ami terdiam tanpa bisa berkata apapun. Ningrum memang selalu begitu. Orangnya realistis. Keliatannya aja becanda, tapi kalo udah ngasih nasehat jadi berubah super serius.
"Gue orang yang dari dulu selalu berpikir satu hal. Gak ada persahabatan antara laki-laki dan perempuan tanpa dilandasi dengan perasaan cinta. Kalau bukan yang ceweknya duluan suka ya cowoknya. Kalo dalam kasus lo tuh yang suka duluan pasti lo deh. Sekarang lo lebih suka siapa, Bagas atau Rian?"
"Gue.... lebih suka Bagas. Gue belum kenal lama sama Rian. Udah gitu tadi Rian nyebelin lagi, udah males deh gue suka sama Dia lagi."
__ADS_1
"Nah gitu. Putusin salah satu. Jangan serakah, semua mau lo ambil. Eh belum dapet juga sih dua-duanya he... he... he..." ledek Ningrum.
Ami memanyunkan bibirnya, mau marah tapi kata-kata Ningrum benar adanya. "Terus gue mesti apalagi nih?"
"Ya turun lah. Kita udah sampe nih di kolong fly over. Lo mau ikut abangnya sampai Blok M?" Ningrum pun bangun dan bersiap turun dari kopaja, dibelakangnya Ami mengikuti seperti anak ayam yang mengikuti induknya.
Setelah menyebrangi rel kereta api mereka pun berjalan ke tempat menunggu angkot. Sambil menunggu Ningrum kembali menasehati Ami. "Lo ikhlasin aja si Rian. Biar Dia yang memilih mau sama lo atau Intan. Lalu Bagas, kalau memang hanya lo sendiri yang terus-terusan suka sama Dia sedangkan Dia hanya nganggep lo sebatas sahabat, lebih baik lo sudahin perasaan suka lo. Cari kesibukan. Lupain tuh dua orang yang bodoh dan gak sadar kalau ada cewek sebaik lo yang menyukai mereka."
"Kita masih muda, masa depan masih panjang. Lo sibukkin aja dengan kuliah dan nyari duit kayak gue. Cinta mah bisa dateng nanti. Dan inget satu hal, kalau memang salah satu diantara mereka beneran suka sama lo, mereka akan terima lo apa adanya. Sekarang lo udah cantik begini mereka masih nyari yang lebih cantik lagi mah gak usah lo sukain. Kalau nanti kalian jadian terus merried, saat lo tua dan jelek mereka akan cari yang baru lagi, mau?"
Ami menggeleng. Ia diam saja mendengarkan perkataan Ningrum sejak tadi. Perkataan Ningrum banyak benarnya.
"Cari yang terima lo apa adanya. Yang mencintai lo dalam keadaan lo terpuruk sekalipun. Itu yang akan tetap berada di sisi lo selamanya. Karena apa? karena mereka mencintai diri lo seutuhnya. Cari yang kayak gitu, oke?"
"Oke. Makasih ya lo udah mau nasehatin gue. Memang terkadang gue butuh dinasehatin biar nyadar." Ami sudah bisa tersenyum sekarang. Ia bisa merelakan kedua orang yang Ia sukai. Ia hanya perlu menunggu waktu sampai akhirnya ada yang benar-benar jodohnya.
*****
Ami bernaung di lebih dari 3 agent penyalur SPG Event. Jika di tempat A sedang tidak ada event maka Ami akan mencari di tempat B atau C, pokoknya setiap minggu Ami harus kerja agar tetap punya uang untuk jajan dan jalan-jalan.
Sebuah notifikasi SMS masuk ke Hp Ami saat Ia sedang berjalan hendak naik angkot ke Mall B. Ami membuka pesan tersebut.
Bagas : Dimana Mi?
Ami : Di jalan. Mau kerja.
Bagas : Masuk jam berapa? Kerja dimana?
__ADS_1
Ami : Di Mall B, deket rumah lo. Masuk jam 11 siang pulang jam 7 malam.
Bagas : Oke. Nanti gue main kesana ya.
Ami : Iya.
Ami memasukkan Hpnya ke dalam saku celana jeansnya. Hari ini Ia jadi SPG Event salah satu popok bayi terkenal. Seragamnya hanya kaus bertuliskan merk popok bayi dan celana jeans.
Minggu ini lagi sepi event. Hanya ada event ini saja yang tersedia. Daripada di rumah, lebih baik Ia kerja dan menghabiskan waktunya mencari uang.
Ami memberhentikan angkot lalu naik. Kali ini Ia dapat Mall yang tidak jauh dari rumah. Hanya sekali naik angkot saja.
Ami tak pantang menyerah menawarkan produknya kepada setiap pembeli yang lewat di tempatnya. Targetnya hari ini harus tercapai agar dapat bonus. Lumayan kalau bonusnya tercapai Ia akan dapat tambahan fee.
Tanpa Ami sadari sejak tadi Bagas memperhatikannya dari jauh saat Ami menawarkan produk bahkan mempraktekan kelebihan produknya pada customer. Bagas tersenyum saat melihat customer tersebut akhirnya membeli produk yang Ami tawarkan. Bagas bangga akan sahabatnya yang satu itu. Ami bukan hanya pintar dalam pelajaran, tapi cerdas dalam melakukan pekerjaan.
Ami menaruh beberapa popok bayi ke dalam keranjang belanja customernya lalu mengucapkan terima kasih. Ia baru sadar kalau Bagas memperhatikannya sejak tadi.
"Jadi lo dari tadi perhatiin gue jualan?" Ami melipat kedua tangannya di dada.
Bagas yang memakai baju garis-garis biru dan putih tersenyum. Ia mendorong keranjang belanjanya dan berjalan mendekati Ami.
Ami agak malu dengan penampilannya hari ini. Ia diharuskan mencepol rambutnya karena target marketnya adalah ibu-ibu. Tidak seperti event lain yang kadang seragamnya seksi dan rambutnya digerai.
"Pinter juga lo jualannya." puji Bagas.
"Ya gitu deh. Ah kenapa sih lo harus dateng saat event gue targetnya ibu-ibu sih? Dateng tuh kalo gue lagi jadi SPG Make Up gitu." gerutu Ami.
__ADS_1
"Karena gue juga mau belanja, jadi sekalian aja gue samperin lo. Sendirian aja? Gak ada temen lo yang cantik?"
Lagi... lagi...dan lagi.... Ami memasang senyumnya. Ia ingat perkataan Ningrum, lelaki yang mencintainya harus terima dirinya apa adanya bukan hanya karena fisik. Ami sadar, Bagas tidak akan menerimanya karena fisik, Ami yakin ada yang akan benar-benar mencintainya diluar sana.