Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 53


__ADS_3

Lokasi Mc D, Mall A....


Rian menunggu kedatangan Ami dengan gugup. Tangannya terasa dingin dan hatinya dilingkupi dengan rasa khawatir. Takut mendapat penolakan. Entah akan sehancur apa dirinya kalau Ami sampai menolak lamarannya.


Jam 11 lewat 10 menit. Ami membuka pintu MC D. Ami mengenakan celana jeans dan blouse two tone warna abu-abu dan putih. Dandananya simple namun terlihat amat cantik di mata Rian.


Rian melambaikan tangannya pada Ami. Melihat Rian, Ami pun menghampiri.


"Mau pesen apa Mi?" tanya Rian.


"Gak usah nanti aja." tolak Ami halus. Sebenarnya Ami tak mau berlama-lama bersama Rian. Takut susah move on lagi. Ia ingin tahu apa maksud Rian mengajaknya bertemu.


"Hmm... kalau lo gak mau pesen yaudah kita pindah aja ngobrolnya. Jangan disini." ajak Rian.


"Dimana?"


"Lo ikut gue aja. Tinggalin motor lo disini."


"Oh yaudah." Ami lalu mengikuti langkah Rian menuju parkiran motor. Mereka pun pergi bersama dengan motor Rian.


Ami hanya diam saja, pasrah mengikuti kemauan Rian. Ternyata Rian mengajak Ami ke daerah Ancol namun sayang ternyata hujan deras. Rencana ke Ancol pun batal.


Rian pun mengubah rencananya lalu ke Mall di daerah Kelapa Gading. Kebetulan ada festival makanan disana.


"Mau makan apa Mi?" tanya Rian yang melihat mata Ami bersinar melihat banyaknya makanan enak yang dijual disana.


"Iga bakar kayaknya enak deh. Sama es podeng itu." Ami menunjuk makanan yang menurutnya sangat enak.

__ADS_1


"Biar gue yang pesenin. Lo cari tempat duduk aja ya."


"Oke." Ami pun mencari tempat duduk yang lumayan susah mendapatkannya. Festival makanan seperti ini memang banyak peminatnya.


Ami akhirnya menemukan tempat duduk yang lumayan strategis. Ia tahu ada yang mau Rian katakan padanya. Tak lama menunggu, Rian datang dengan membawa makanan pesanan Ami dan makanannya sendiri.


"Nih, Mi." Rian menyerahkan makanan dan minuman pesanan Ami. "Gile penuh banget."


"Iya. Tadi aja nyari tempat duduknya susah." kata Ami sambil menyicipi es podeng yang rasanya memang enak tersebut.


"Lo masih kerja di tempat kemarin, Mi?" tanya Rian berbasa-basi padahal Rian tahu kalau Ami masih disana.


"Masih. Lo kerja dimana sekarang Yan? Kata anak-anak lo juga ikutan resign dari kantor." Ami lalu mencoba iga bakar yang Ia pesan. Lumayan juga rasanya.


"Gue kerja di perusahaan farmasi. Baru 3 bulan. Dulu gue sengaja resign soalnya mau fokus sama skripsi dulu. Sekarang udah selesai kuliah ya gue balik kerja lagi." Rian memakan soto pesanannya. Memang soto adalah makanan kesukaan Rian. Dimanapun dan kapanpun Rian pasti memilih makan soto.


"Ooh... gitu..." Ami tak banyak bicara lagi.


"Mi..."


"Emm." Ami sadar pasti Rian akan ngajak balikkan lagi. Maka Ami berpura-pura bersikap cool dan tetap menikmati es podengnya. Ami bertekad akan menolak Rian kalau ngajak balikkan. Enak aja mau ngajak balikkan padahal sudah membuat hati Ami remuk redam.


"Lo.... mau gak..... nikah sama gue?"


Ami spontan menjatuhkan sendok es podengnya, untunglah jatuhnya ke gelas podeng dan tidak ke lantai. Ami langsung menatap ke arah Rian.


Ini beneran Rian ngajak nikah? Rian beneran ngelamar gue? Waduh, kalau ngajak balikkan mah pasti gue tolak tapi kalau Dia udah ngelamar masa gue tolak juga? Pamali. Lamar urung kalau kata orang tua mah. Jadi gimana nih? Apa harus gue terima?- Ami.

__ADS_1


"Mi.... Mi...." Rian melambaikan tangannya ke depan wajah Ami. Membuyarkan lamunan Ami yang berkelana entah kemana.


"Iya.... Jadi gimana?" jawab Ami kaget. Ah pertanyaan Rian sungguh mengagetkan Ami. Ami bahkan tak tahu harus mengatakan apa lagi.


"Seharusnya gue yang bilang, jadi gimana? Lo... mau gak jadi istri gue?"


Ami bingung mau menjawab apa. Jujur aja Ami seneng banget saat tahu akhirnya Rian mau melamarnya. Ini yang Ami inginkan setahun lalu sebelum akhirnya mereka putus. Tapi bagaimana kalau Rian masih sama seperti dulu? Masih bersikap seperti anak kecil? Bagaimana Ami akan memiliki seorang pemimpin seperti itu?


Seakan paham dengan apa yang Ami khawatirkan, Rian pun mulai menjelaskan semuanya. "Gue gak minta secepatnya. Kalau lo mau nerima lamaran gue, keluarga gue akan dateng ke rumah lo dan melamar lo langsung. Nah kalau masalah pernikahan urusan kita berdua maunya kapan."


"Gue tau kita kemarin sempat putus. Dan jujur gue nyesel banget Mi. Gue nyesel kenapa gue gak berpikiran dewasa kayak lo. Yang pasti, putusnya hubungan kita buat gue banyak berpikir. Gue tau gue banyak salah. Gue tau gue childist. Pasti lo bertanya-tanya kenapa gue gak ngajak lo balikan lagi atau minimal gue datengin lo lagi lah. Jujur Mi, gue malu."


"Gue ngerasa gak percaya diri berada di samping lo. Apalagi kalau dibandingkan dengan sahabat lo Bagas yang sudah mapan. Apalah gue? Waktu itu gue mau ngejar lo, tapi walaupun gue kejar, gue yakin lo akan tetap pergi meninggalkan gue yang hanya membawa ketidakjelasan aja atas hubungan kita. Sekarang gue udah lulus kuliah dan udah kerja meskipun belum mapan, tapi gue janji kalau gue akan ngebahagiain lo dan keluarga kita nanti."


Tes.... Air mata Ami tak kuasa ditahan lagi. Sesungguhnya Ia amat merindukan Rian. Amat merindukan perlakuan Rian yang benar-benar memperlakukan Ami dengan istimewa. Dengan Rian, Ami merasa benar-benar menjadi wanita seutuhnya, dihargai dan dicintai apa adanya. Tanpa melirik wanita lain.


Rian mengambil tissue dan menghapus air mata di pipi Ami. "Maafin gue selama ini ya Mi. Gue... masih sayang dan cinta sama lo."


"Tapi... kita akan terus berantem kayak dulu lagi Yan. Gue gak mau kayak gitu." kata Ami sambil menangis sesegukan.


Rian lalu pindah duduk di samping Ami. "Kita pasti akan terus berantem, Mi. Karena apa? Karena menyatukan dua kepala itu sulit. Satu yang pasti, kita harus lebih sabar lagi. Lo dan gue harus punya stok sabar yang besar. Dan juga mari kita sama-sama memperbaiki segala kesalahan kita."


"Terus bukannya lo udah punya pacar? Katanya lo lagi deket sama temen sekampus lo yang juga temen kita waktu di kampus dulu?" pertanyaan yang sudah ada lama dan akhirnya berani Ami tanyakan.


"Gue gak ada hubungan apa-apa Mi sama Dia. Memang gue sempet deket, tapi rasanya gak senyaman kalau sama lo. Yang ada gue makin kepikiran lo terus. Akhirnya ya gue cuma temenan aja sama Dia. Habisnya kalau sama Dia gue gak bisa jadi diri gue yang sebenernya. Gak mungkin kan gue ngejalanin hidup dengan kepura-puraan terus?"


Tuh kan... Rian terus memuja Ami, bagaimana mungkin Ami bisa kehilangan sosok yang seperti ini?

__ADS_1


"Oke. Gue mau terima lamaran lo, Yan. Tapi ada syarat yang mau gue ajukan sama lo."


Rian langsung tersenyum lebar. "Apapun syarat lo akan gue lakuin. Makasih ya Mi udah terima lamaran gue....."


__ADS_2