Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 56


__ADS_3

Ruangan kamar kontrakkan itu masih terlihat gelap. Tak ada lampu yang dinyalakan padahal hari sudah lewat jam 8 malam.


Di sudut ruangan, Bagas sedang duduk dan menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Tak jauh dari tempatnya sebuah undangan yang sudah kusut setelah direemas dan dilemparkannya.


Undangan yang tak bersalah itu menjadi pelampiasan amarah yang sejak tadi Ia pendam. Ternyata menghancurkan undangan tidak serta merta membuat rasa sakit di hatinya reda. Sakit...


Bukan hanya rasa sakit akibat kehilangan, rasa cemburu yang membuncah disertai dengan segunung penyesalan bercampur jadi satu. Bagas menyesali kenapa Ia bisa kalah cepat dibanding Rian yang bahkan sudah pernah putus hubungan dengan Ami.


Seandainya... seandainya saat Ami galau dulu Ia berusaha lebih keras lagi.... ah kata seandainya pun sudah percuma. Bagas sadar saat Ia pdkt dengan Ami dulu, Ami tak bergeming. Malahan Ia merasa Ami tak nyaman saat bersamanya, karena itulah Ia memberi Ami sedikit waktu dan tidak memaksanya.


Bagas masih suka menghubungi Ami dan masih mengajak Ami jalan, namun Ami selalu menolak dengan alasan ada acara dengan teman kampusnya dulu. Masa sih Bagas memaksa kalau Ami tidak mau?


Entah kenapa Ami selalu menolaknya, padahal Bagas biasanya mengajak Ami ke restoran yang enak-enak. Bagas juga suka mengajaknya nonton tapi selalu ditolak. Bagas berusaha memberi Ami waktu menghadapi patah hatinya tapi ternyata Ami malah memberinya undangan pernikahan.


Tak bisa dipungkiri, Ami terlihat amat bahagia saat memberikan undangan tersebut pada Bagas. Ami yang bahagia namun Bagas yang menangis. Bagas bisa berbuat apa selain mengikhlaskan kepergian Ami?


*******


Sehari sebelum acara, rumah Ami ramai oleh sanak saudara. Hari ini ada selametan sebelum acara pernikahan. Selametan bertujuan semoga acara lancar dan pernikahan Ami dan Rian menjadi pernikahan yang sakinah, mawaddah dan warrahmah sampai maut memisahkan. Ami senang banyak yang mendoakan kelancaran acaranya.


Sore hari, Ami mengecek sudah sejauh mana persiapan pernikahannya. Pernikahan akan diselenggarakan di gedung yang terletak tak jauh dari rumah orang tua Ami.


Karyawan sedang mendekor pelaminan Ami. Dengan modal nikah yang terbatas ternyata Ami mampu mengadakan pernikahannya di gedung. Semua karena kepintaran Ami mengelola uang yang Rian kasih.


Tidak ada yang menyangka kalau Ami dan Rian mampu membiayai sendiri pernikahannya tanpa bantuan orang lain. Besar loh biaya nikah di gedung. Belum biaya sewa, katering dan rias pengantin. Dalam waktu setahun bisa mengumpulkan uang seperti itu sangat sulit.


Ami kini bisa tersenyum. Ami yakin Bapak pasti bangga melihatnya mandiri. Bahkan tanpa merepotkan ibunya.


Saat Ami hendak pulang ke rumah, hujan rintik-rintik mulai turun. Bergegas Ami pulang agar tidak kehujanan. Gak lucu kan kalau pengantinnya sakit saat acara besok?


Kenapa Ami harus repot-repot mengecek ke gedung? Kan bisa saja saudaranya yang mengecekkan untuknya. Hmm... Ami tidak mau. Baginya pernikahannya Ia bangun dan rancang sendiri, karena itu Ia juga mau memastikannya sendiri.


Hati Ami agak was-was karena ternyata saat Ia sampai rumah hujan turun makin derasnya. Bukan apa-apa, gedung tempat lokasi pernikahan terletak di daerah yang rawan banjir. Dalam hati Ami terus berdoa agar acaranya dilancarkan dan jangan sampai hujan.


Maklumlah, bulan Maret tuh curah hujan di Jakarta masih cukup tinggi. Kenapa sih harus di gedung itu? jawabannya adalah karena murah dan gedungnya bagus. Karena itu Ami hanya bisa berdoa agar tidak banjir.


*****


Jam setengah 5 pagi. Ami terbangun lalu langsung mandi. Setelah solat subuh, Ia langsung menuju gedung tempat Ia akan dirias.


Di ruangan tempat Ia dirias, sudah ada perias pengantin yang menunggunya. Ami tersenyum dan mencium tangan perias pengantin yang ternyata teman satu pengajian dengan ibunya tersebut.


Ami pun mulai dirias. Alisnya yang selama ini dibiarkannya tak terurus dan natural mulai dirapihkan. Membuat wajahnya setelah di make up menjadi pangling.


Rambut Ami disanggul dengan cantik. Baju kebaya putih pun terlihat pas di tubuh Ami. Tangannya sudah dihiasi dengan kutex warna merah. Ternyata proses make upnya berlangsung lama. Jam setengah 9 pagi Ia baru selesai di make up.


Rian dan keluarga sudah tiba di depan gedung. Pihak keluarga Ami menyambut kedatangan keluarga Rian dengan ramah. Keluarga Ami yang diwakili oleh Omnya pun menyampaikan kata sambutan sebelum akhirnya mempersilahkan Rian dan keluarganya untuk masuk ke dalam gedung.

__ADS_1


Ami yang masih di ruang rias tidak bisa melihat berapa banyak keluarga Rian yang hadir. Ami baru dipanggil keluar saat akad nikah akan dimulai.


Ami memasuki gedung dengan disambut oleh riuh tamu yang memuji kecantikannya. Ami datang dengan wajah yang tertunduk malu.


Ami lalu diarahkan untuk duduk di meja yang sudah ada saksi dan penghulu yang hadir. Ami melirik sekilas ke wajah Rian.


Rian memakai kemeja warna putih dengan jas warna hitam. Ia terlihat tampan dan gagah meski wajahnya amat tegang dan tak bisa diajak becanda.


Penghulu lalu mulai menikahkan Ami. Akbar yang menjadi wali nikah Ami. Dengan satu ucapan dan tarikan nafas Rian berhasil menikahi Ami.


"Saya terima nikah dan kawinnya Kamidia Lestari Binti Budi Sujono dengan mas kawin perhiasan tersebut tunai." ucap Rian dengan penuh keyakinan.


"Sah?" tanya penghulu yang menikahkan mereka.


"Sah." jawab semua yang hadir.


"Alhamdulillah."


Akad nikah dan acara sungkeman berlangsung lancar. Selanjutnya Ami kembali masuk lagi ke dalam ruang rias.


Make upnya di retouch lagi dan sanggul Ami diperbaiki. Beberapa bunga mawar hidup di selipkan ke sisi sanggul. Membuat kesan anggun tercipta.


Gaun pernikahan berhiaskan batu swarovski dengan warna merah maroon pun Ami kenakan. Terlihat amat cocok dan kontras dengan warna kulit Ami. Lipstik Ami yang awalnya orange natural diganti menjadi warna merah yang membuat Ami makin terlihat anggun.


Sebuah mahkota disematkan diatas sanggul Ami. Hari ini Ami menjadi ratu sehari. MC sudah memanggil Ami untuk hadir dan duduk di singgasana.


🎶 The day we met,


Frozen I held my breath


Right from the start


I knew that I'd found a home for my heart


Beats fast


Colors and promises


How to be brave?


How can I love when I'm afraid to fall


But watching you stand alone?


All of my doubt suddenly goes away somehow


One step closer

__ADS_1


I have died everyday waiting for you


Darling don't be afraid I have loved you


For a thousand years


I'll love you for a thousand more 🎶


Senyum Ami mengembang dengan cantiknya. Hari ini begitu amat bahagia baginya. Hari dimana Rian mempersuntingnya. Hari dimana Rian membuktikan rasa cintanya.


Ami berjalan pelan menuju pelaminannya. Gaunnya yang panjang mengiringi tiap langkahnya. Sorot mata Ami melihat sesosok laki-laki yang berdiri di pojokan, jauh dari pandangan mata.


Laki-laki itu menatap Ami dengan penuh kesedihan. Hati Ami sedikit terenyuh melihat sorot mata itu. Ya, laki-laki itu adalah Bagas.


Bagas sengaja berdiri di tempat paling pojok yang jauh dari sorotan mata. Dengan mengenakan kemeja flanel dan celana jeans hitam Ia terlihat tampan meski dengan mata sendunya. Tangannya terlipat di dada, Ia tak membalas senyum yang Ami tujukan padanya.


Ami dan Rian sampai di singgasana mereka sebagai ratu dan raja sehari. Setelah MC membuka acara dan pembacaan doa, maka tamu pun dipersilahkan untuk memberikan ucapan selamat.


Senyum Ami tak pernah hilang dari wajahnya, mengucapkan terima kasih atas ucapan dan doa yang diberikan untuknya dan Rian. Sampai tiba giliran Bagas yang hadir untuk menyalaminya.


"Mi... Akhirnya lo nikah juga.... Selamat ya...." ucap Bagas. Suaranya bergetar karena menahan kesedihan.


"Makasih ya Gas." hanya itu yang bisa Ami ucapkan. Bagas pun beralih menyalami Rian. Bagas dan Rian bertemu pertama kalinya.


"Selamat ya. Titip Ami." ucap Bagas dengan tulus.


"Iya. Makasih." balas Rian.


Bagas pun turun dan pelaminan dan berjalan keluar. Sambil menyalami para tamu, mata Ami tak lepas memperhatikan sahabatnya tersebut. Ternyata Bagas langsung pulang tanpa menikmati hidangan terlebih dahulu.


Ami kembali menatap Rian. Suaminya. Imamnya. Ia pun tersenyum. Akhirnya ada lelaki yang benar-benar mencintainya apa adanya.


******


Bagas mengemudikan motornya dengan kecepatan pelan. Setetes air mata berhasil lolos di pipinya.


Maaf Mi... Maaf gue telat menyadari betapa berartinya lo di sisi gue. Kehadiran lo udah menghangatkan hati gue yang kesepian. Lo udah ngerubah gue jadi lebih baik lagi. Gue yang playboy, gue yang brengsek kini sudah sadar akan kesalahan-kesalahan gue di masa lalu. Meskipun bukan dengan gue tapi gue berharap lo akan bahagia dengan pernikahan lo.


******


Dua tahun setelah Ami dan Rian menikah, Bagas menemukan jodohnya. Seorang wanita berjilbab yang kini sudah memberinya seorang puteri cantik. Bagas kini menjadi seorang ayah dan suami yang baik dan setia pada keluarganya.


Sementara Ami dan Rian sudah punya seorang anak dan masih bekerja sama membangun rumah tangga yang penuh cinta.


TAMAT


⚘⚘⚘ Makasih semuanya yang sudah membaca novel ini dari awal sampai ending. Maaf aku gak perpanjang karena gak mau ceritanya makin melantur gak jelas. Sekali lagi terima kasih banyak. Nantikan novel aku berikutnya ya. 😘😘😘⚘⚘⚘

__ADS_1


__ADS_2