Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 49


__ADS_3

"Mi... Ami... Tunggu!" Bagas mengambil sandal miliknya dan memakainya. Ia pun mengejar Ami yang sudah berjalan keluar villa yang mereka sewa.


Tangan Bagas menarik lengan Ami. Dengan nafas yang masih terengah-engah akhirnya Ia berhasil menghentikan langkah Ami.


"Lepasin, Gas!" Ami berusaha melepaskan pegangan tangan Bagas di lengannya.


"Gue tau lo bakalan marah sama gue Mi."


"Udah tau gue bakal marah, kenapa masih lo lakuin juga sih Gas?" Ami akhirnya berhasil melepaskan tangan Bagas. Ia berjalan dengan hati kesal.


"Karena..... karena gue emang mau ngelakuin hal ini dari dulu." aku Bagas.


Ami tiba-tiba berbalik badan, Ia seakan tak percaya dengan apa yang Ia dengar. "Maksud lo apa Gas?"


Bagas melihat ke sekeliling Villa. Sepi. Entah suatu anugerah atau apes, Villa yang mereka sewa jauh dari jalan raya dan juga amat sepi. Jelas saja, saat ini sudah jam 2 pagi. Hanya Bagas dan Ayu serta para dedemit saja yang masih berkeliaran jam segini.


"Gue pengen nyium lo dari dulu. Dan gue gak nyesel ngelakuin hal tadi." ujar Bagas. Tanpa senyum. Ia benar-benar serius dengan perkataannya.


"Karena lo mau tau rasanya nyium sahabat lo kayak gimana? Lo mo bikin riset gitu dengan judul 'Perbedaan Ciuman Dengan Pacar Dan Sahabat'?" kata Ami dengan nada nyinyir.


Bagas mulai mendekat ke arah Ami. "Lo inget gak apa yang gue bilang waktu itu? Kalau gak ada yang cocok gue nikahin maka gue akan nikahin lo. Salah kalau gue nyium calon istri gue sendiri?"


Ami tidak merasa bangga mendengar Bagas mengatakan hal seperti itu. Justru Ami sebal. "Terus selamanya gue akan jadi ban serep lo gitu sampai lo temuin jodoh lo? Gitu? Lo sadar gak sih Gas kalo lo tuh makhluk paling egois?"


"Oke.... gue gak akan jadi makhluk paling egois seperti yang lo bilang. Gue tau alasan lo ikut kesini karena lo lagi patah hati kan? Biar gue gak egois seperti yang lo bilang, gue rela jadi pelarian lo."

__ADS_1


"Untuk apa? Gue bisa move on dengan cara gue sendiri kok. Gue gak perlu bantuan lo." Ami pun berbalik dan hendak meninggalkan Bagas namun lagi-lagi Bagas lebih cepat menarik tangan Ami.


"Biar lo bisa bilang sama diri lo sendiri. Mana yang lebih penting buat lo, mantan pacar lo atau gue Bagas sohib lo dan juga orang yang namanya ada di hati lo."


Ami pun terdiam.


Jadi selama ini Bagas tahu kalau Ia menyukainya dan Bagas hanya diam saja dan berpura-pura tidak tahu?- Ami.


Bagas kembali mendekat. Ia menatap Ami dengan lekat, mencari kejujuran dan mata Ami. Bagas memegang dagu Ami dan dengan yakin menciumnya lagi.


Bagas mencium Ami dengan lembut. Hal yang sudah 6 tahun lebih ingin Ia lakukan. Hal yang Ia takut akan konsekuensi yang akan Ia dapatkan jika melakukannya, tapi kini Ia tidak peduli.


Bagas sadar, Ami semakin jauh darinya. Selama ini mau Ami berpacaran dengan siapapun Bagas tak peduli. Namun kali ini berbeda, Ami bahkan sampai susah move on tidak seperti yang sudah-sudah.


Bagas menarik Ami makin mendekat bahkan hampir memeluknya, Ia masih terus mencium Ami. Bagas pun memancing agar Ami membalas ciumannya, bukan hal yang sulit bagi Bagas Sang Playboy cap Badak untuk melakukannya.


Ami merasakan ciuman Bagas mulai disisipi dengan nafsu, beda dengan Rian. Bayangan Rian tiba-tiba melintas. Ami teringat segala yang Ia lakukan bersama Rian, termasuk ciuman pertama mereka. Ami mendorong dada Bagas dan menghentikan ciumannya dan Bagas.


Ami menatap Bagas, Ia tidak percaya dengan apa yang lakukan. Ini yang Ami mau selama ini, dicium Bagas. Tapi kenapa Ia merasa semua ini salah?


"Kenapa sih Mi? Lo tiba-tiba mendorong gue dan berhenti nyium gue. Jelas-jelas tadi lo tuh membalas ciuman gue dan lo menikmatinya. Why?" Bagas menuntut jawaban Ami. Ia kecewa dengan sikap Ami barusan, padahal Ia mulai menyatakan rasa sukanya meskipun masih samar-samar.


"Sorry Gas. Udah malam. Gak enak kalau dilihat sama warga. Kita balik ke villa aja ya." Ami berusaha berbohong agar Ia bisa segera pergi dari tempat ini.


"Oh. Kirain karena lo gak suka gue nyium lo. Yaudah ayo kita balik ke Vila." Bagas pun merangkul Ami, mereka pun berjalan kembali ke Vila.

__ADS_1


Sesampainya di Vila, teman-temannya sudah tertidur lelap. Ami pamit pada Bagas untuk tidur bersama teman-teman ceweknya yang lain. Mereka pun berpisah di depan kamar.


Pintu kamar sudah Ami tutup, Ami pun langsung terduduk lemas. Ia menghapus air mata yang menetes di pipinya. Ada rasa bersalah yang hinggap di hatinya. Ia merasa sudah mengkhianati Rian.


Ami sadar kalau hubungannya dengan Rian sudah berakhir, namun Ami merasa kalau mereka hanya break sejenak dan akan kembali lagi bersama. Ami terus berharap seandainya Ia benar masih berpacaran dengan Rian dan kenyataannya mereka sudah benar-benar putus.


Ami menangis dalam diam, tak ingin siapapun di villa ini mendengar tangisannya. Ia baru menangis lagi setelah sebulan putus. Ia mulai merasa kehilangan Rian.


Sejak dulu aku selalu ingin merasakan ciuman dengan Bagas. Aku selalu ingin jadi seseorang yang dilihat oleh Bagas. Namun kenapa saat Bagas menciumku justru bayangan Rian yang melintas? Kenapa aku malah sangat merindukan Rian?- Ami.


Rian.... tak tahukah Ia bahwa Ami menyesali keputusannya untuk berpisah dengannya? Andai waktu dapat diulang kembali.....


Lalu Bagas? Benarkah Ami sudah melupakannya? Benarkah di hati Ami sekarang hanya ada nama Rian? Tapi kenapa?


******


Sepanjang perjalanan pulang dari Villa Ami hanya diam saja. Teman-temannya membiarkan Ami seorang diri, mungkin Ami memang tidak mau diganggu.


Lalu bagaimana dengan Bagas? Bak bayi yang tak punya dosa, Ia sedang menyandarkan kepalanya di bahu Ami dan tertidur lelap. Tangannya terus menggenggam tangan Ami takut Ami pergi meninggalkannya.


*******


Laki-laki itu dengan kain ihram berwarna putih itu sedang duduk bersimpuh. Kabah di depannya menjadi saksi atas doa yang Ia panjatkan.


Terlalu khusyuk Ia berdua sampai tanpa sadar air matanya mengalir disela ayat dan doa yang Ia lantunkan. Ia menengadahkan tangannya, memohon kepada Sang Pencipta alam dan muka bumi ini.

__ADS_1


"Ya Allah berikanlah aku jodoh yang baik, jodoh yang terbaik untukku. Jika Ia memang jodohku, pertemukanku dengan jodohku paling lama satu tahun lagi sejak hari ini."


Rian mengusap wajahnya. Ia sudah lebih tenang dan bisa menerima kenyataan sekarang. Tak sia-sia kedua orang tuanya mengajaknya pergi umroh. Hanya dengan mendekatkan diri pada Allah, ketenangan batin akan Ia rasakan.


__ADS_2