
Wisuda. Hari yang amat dinantikan oleh setiap mahasiswa. Hari dimana Ia sah menyandang sebuah gelar atas hasil kerja kerasnya selama menuntut ilmu di perguruan tinggi.
Akhirnya Ami hari ini wisuda. Ia sudah ijin dengan atasannya tidak masuk kerja. Sejak subuh Ami sudah pergi ke tukang rias pengantin untuk di make up.
Jam 6 pagi Ami sudah selesai di make up. Ia mengenakan kebaya sewa dari tukang rias. Ami berpikir lebih baik uangnya dipakai buat biaya masuk kuliah daripada hanya jadi sebuah kebaya saja. Itulah Ami, lebih mengutamakan masa depannya daripada penampilan.
Ami pergi bertiga dengan Ibu Budi dan Ambar diantar oleh saudara sepupunya. Ambar terus berkaca-kaca matanya sejak tadi. Ia sedih membayangkan Ami wisuda tanpa kehadiran Bapak.
Ami sendiri tidak mau sedih. Baginya hari ini Ia bisa wisuda juga karena kerja kerasnya sendiri, tentunya dengan bantuan Bapak juga. Ia yakin Bapak bahagia disana melihatnya sudah berhasil menyelesaikan kuliahnya.
Selesai wisuda Ami melakukan sesi foto-foto. Ia mencari keberadaan Rian namun tidak Ia temui. Mungkin Rian sibuk dengan keluarganya. Ami tak mau ambil pusing. Biar bagaimanapun hari ini juga hari bahagia untuk Rian dan keluarganya juga.
Ami hanya bertemu Rian sekali saat pulang, itu pun Rian terlalu grogi untuk mengenalkan Ami dengan kedua orang tuanya. Ami pamit pulang dan meninggalkan Rian yang masih foto-foto dengan keluarganya.
******
"Yan." panggil Ami saat mereka sedang berangkat kerja.
"Iya. Kenapa?" jawab Rian sambil tetap konsentrasi mengendarai motornya.
"Gue mau lanjut kuliah lagi."
"Lanjut S1? Dimana?"
"Di Kampus C."
__ADS_1
"Kenapa ambil disitu?"
"Gue mau ambil kelas reguler. Ambil kelas malam. Gue pilih kampus itu karena deket sama kantor. Jadi pulang kerja gue bisa langsung kuliah." kata Ami menjelaskan. Ami sudah memperhitungkan akan kuliah dimana, dan Kampus C sudah pilihan terbaik menurutnya.
"Yaudah kalau itu pilihan lo. Gue sih dukung aja."
"Kita jadi gak pulang bareng lagi ya."
"Memangnya kenapa? Kan lo bisa gue anterin dan gue jemput sepulang kuliah?"
"Gak usah Yan. Gue pulang malem. Lebih baik gue naik bus aja. Kan rumah lo jauh. Nanti lo malah kecapean." tolak Ami dengan halus. Ia sungguh tidak mau merepotkan Rian.
"Santai aja Mi sama gue. Gue enggak ngerasa direpotin kok sama lo. Malah gue gak tenang kalo lo naik bus umum. Bahaya pulang malem sendirian. Pokoknya nanti gue yang jemput lo pulang kuliah. Kalau anter kuliah mungkin gue gak bisa soalnya kerjaan gue masih banyak, tapi kalau jemput gue bisa kok."
"Tapi Yan...." Ami masih berat menerima kebaikan Rian. Ia terbiasa mandiri namun Rian yang menawarkan kemudahan dalam hidupnya.
********
Menjalani kerja sambil kuliah bukanlah hal yang mudah. Weekend rasanya hanya ingin tidur saja. Capek.
Namun rasa bersalah mendera Ami. Rian mau mengajaknya jalan dan Ami tak bisa menolaknya. Kasihan Rian selama ini hanya seperti tukang ojek pribadi yang mengantarkan Ami kesana kesini saja.
Dan disinilah Ami. Sedang mengantri tiket bioskop dengan Rian. Kali ini film horor yang Ia tonton.
Ami dan Rian mendapat tempat di bangku pojok paling atas. Tempat yang amat cocok untuk berpacaran. Sudah 4 bulan mereka berpacaran dan selama ini hanya sebatas pegangan tangan saja.
__ADS_1
Ami sudah bisa merasakan kalau selama ini Rian benar-benar sayang padanya. Selain antar jemput kuliah dan kerja, Rian juga rajin membawakan helm untuk Ami. Hal yang simple namun bagi laki-laki lain mungkin dianggap memalukan tapi bagi seorang perempuan merupakan suatu kebanggan.
Ami yang bawel dan Rian yang senang mendengarkan Ami bercerita adalah suatu perpaduan yang pas. Mereka sering kok bertengkar tapi akan langsung berbaikan kembali tanpa harus menunggu 3 hari lamanya. Biasanya Ami sih yang gak bisa lama-lama bermusuhan dengan Rian.
Di kantor, mereka masih menjaga jarak. Pura-pura hanya berteman biasa dan tidak berpacaran. Namun siapapun yang melihatnya bisa tahu kalau pandangan mata Rian hanya tertuju pada Ami. Apapun yang Ami lakukan akan terlihat indah di mata Rian, bahkan hal konyol sekalipun.
Rian mengangkat pembatas kursi bioskop diantara mereka. Membiarkan Ami merangkul lengannya. Ami senang melakukannya, ia merasa amat nyaman saat merangkul tangan Rian.
Lampu bioskop mulai dimatikan pertanda film akan segera mulai. Mbak dan Mas penjual popcorn mulai keluar dari studio dan berhenti berjualan. Ami menyandarkan kepalanya di bahu Rian. Sesekali Rian mengusap lembut rambut Ami.
Ah.... nikmatnya berpacaran dengan bebas tanpa ada yang tahu. Lumayan tertekan juga pacaran harus sembunyi-sembunyi. Tidak bisa mengekspresikan diri dan perasaan.
Ami menutupi wajahnya dan menyembunyikannya di bahu Rian saat adegan menyeramkan dimulai. Rian hanya senyum-senyum melihat Ami yang mudah kaget dan ternyata mudah takut. Ia pun merasa gemas melihat ulah pacarnya tersebut.
Rian tidak lagi memperhatikan layar bioskop. Ia hanya memperhatikan ulah Ami yang ketakutan namun masih penasaran untuk menonton. Tanpa Rian sadari tangannya memegang dagu Ami dan Ia pun langsung mencium bibir Ami yang sejak lama ingin Ia rasakan.
Rasa manis Fanta yang Ami minum membuat Rian tak kuasa untuk terus mencium Ami. Bak gayung bersambut, Ami pun balas mencium Rian. Film yang sejenak mereka lupakan saat berciuman kembali menyadarkan mereka kalau di ruangan bioskop ini bukan hanya ada mereka berdua saja.
Saat adegan menyeramkan berganti adegan di siang hari, Rian melepas ciumannya. Ia takut ada penonton lain yang melihat aksi mereka berciuman di bioskop bisa malu nanti.
Rian dan Ami sama-sama tersipu malu akibat perbuatan mereka di tempat umum. Namun bukannya membuat mereka kapok malah mereka mengulangi lagi saat adegan menyeramkan dimulai. Namanya juga orang berpacaran, dunia milik berdua yang lain pergi aja sana.
Pada akhirnya baik Rian maupun Ami tidak ada yang menyimak jalan cerita film yang mereka tonton karena mereka sibuk membuat film mereka sendiri. Satu langkah hubungan Ami dan Rian makin dekat. Rian bahkan tidak canggung menggenggam tangan Ami saat meninggalkan bioskop.
Ami merasakan degup jantungnya berdebar makin kencang. Benarkah Ia sudah benar-benar mencintai Rian dan melupakan Bagas? Bagas yang kembali menghilang bagaikan di telan bumi. Dan Rian yang selalu menemani hari-harinya kini. Siapa yang akan Ami pilih? Tentu saja Rian. Ami lelah harus terus menanti dan menunggu pintu hati Bagas terketuk oleh penantiannya selama ini. Kenapa? Karena seperti bertepuk tangan, harus ada dua tangan agar bisa bertepuk tangan dengan kencang. Kalau hanya satu tangan saja maka selamanya bertepuk sebelah tangan.
__ADS_1
Ami menatap laki-laki yang kini menjadi pacarnya tersebut. Tangannya yang kokoh menggenggam erat tangannya kini. Ami yakin jantung Rian saat ini juga berdegup tak kalah kencangnya dengan jantung miliknya. Ya, semoga pilihannya tidak salah kali ini.