Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 36


__ADS_3

⚘⚘⚘ Udah mulai kendor nih vote nya. Ayo dong vote lagi yang banyak. Authornya aja rajin update, masa kamu males vote sih 🤭🤭🤭⚘⚘⚘


"Kenapa lo gak bilang sih Mi sama gue? Lo gak ngabarin gue kalo Bapak lo meninggal. Kalo tau Bapak lo meninggal kan gue pasti dateng mau ada urusan apa kek. Lo kan sohib gue Mi." ujar Rian meluapkan sedikit kekesalannya karena Ami tidak mengabari berita yang menurutnya amat penting tersebut.


Ami menyunggingkan senyum sedikit. "Maaf ya Yan. Waktu itu gue bener-bener down banget. Bapak sakit tiba-tiba. Gue sama keluarga gue sibuk ngurusin pengobatan dan ngurusin bapak selama di rumah. Gak kepikiran buat ngabarin siapa-siapa. Temen-temen gue juga taunya dari Ningrum yang kebetulan rumahnya gak jauh dari gue."


"Iya gue ngerti. Lain kali kalau ada masalah cerita Mi sama gue. Jangan dipendam sendirian. Ya mungkin gue gak bisa bantu banyak tapi setidaknya dari lubuk hati gue yang terdalam, gue pengen bisa bantu lo." Ami melihat ketulusan dalam ucapan Rian. Terlepas dari Rian yang pernah minta disalamin sama Intan, niat baik Rian saat ini tak perlu diragukan lagi.


"Iya Yan. Nanti kalau lo diterima kerja di kantor gue pasti gue cerita dan lo bisa liat sendiri deh gue ada masalah apa gak. Iya kan?"


"Amin. Semoga ya Mi kita bisa satu kantor. Kantor lo dimana sih?"


Ami menepuk jidatnya. Ia bahkan lupa memberitahu alamat kantor tempatnya bekerja. "Di daerah Matraman. Lupa gue kasih tau lo. Tapi jangan kaget ya, di tempat gue kerja banyak emak-emaknya."


"Waduh. Terus gimana dong?"


"Tenang. Mereka baik kok. Santai aja. Paling lo digodain aja sama mereka." Ami tersenyum melihat Rian bergidik ngeri membayangkan dirinya akan digodain oleh emak-emak.


"Gak apa-apalah. Yang penting gue bisa kerja dan bisa mandiri. Gue pengen kayak lo, Mi. Mandiri sejak kuliah. Gue kalau bisa mah pengen kayak lo. Jadi gak minta melulu sama orang tua." puji Rian.

__ADS_1


"Ah bisa aja lo. Kalo boleh milih, gue lebih pengen kayak lo. Tinggal fokus kuliah tanpa mikirin biaya. Tapi ya sudahlah. Ini memang udah jalan hidup gue." Ami melihat cangkir teh manis yang belum disentuh sama sekali dengan Rian. "Minum dulu Yan. Maaf di rumah gue jarang ada cemilan. Kita kurang begitu suka ngemil. Sukanya makan bakso dan mie ayam he..he..he.."


Rian tertawa mendengar candaan Ami. "Bisa aja lo." Rian pun mengangkat cangkir teh dan hendak meminumnya.


"Ih itu kan kata-kata gue. Bisa aja lo. Bayar lo udah pake kata-kata gue." ledek Ami.


Rian hampir saja tersedak mendengar Ami masih jahil membercandainya. "Iya...iya... Nanti gue bayar. Kalo gue diterima kerja di tempat lo, gaji pertama gue nanti lo bakal gue traktir. Tenang aja."


"Eh enggak Yan. Gue becanda doang. Jangan diambil hati." tolak Ami. Memang benar Ia berniat menolong Rian dengan tulus tanpa mengharap imbalan apapun.


"Iya gue tau lo emang niat bantuin gue. Tapi gue juga serius loh dengan perkataan gue. Itu udah janji gue. Gaji pertama kerja gue bakal traktir lo. Tagih ya kalau gue lupa." Rian menaruh gelas yang sudah Ia minum setengahnya. Rian lalu bersiap pulang, tidak enak bertamu sampai larut malam.


"Loh mau kemana Yan?" tanya Ami yang melihat Rian merapihkan tasnya dan bersiap pulang.


"Sebentar ya gue panggilin Ibu dulu." Ami lalu masuk ke dalam rumah dan memanggil Ibu Budi. Sejak tadi Ibu Budi asyik menonton TV di kamar Ami, biasalah nonton sinetron Cinta Fitri yang entah sudah berapa episode.


Tak lama Ami keluar bersama Ibunya. Rian pun pamit dan mencium tangan Ibu Budi. Ami hanya menyaksikan pemandangan di depan matanya seakan tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Baru kali ini ada teman cowok yang datang ke rumahnya sampai cium tangan Ibu Budi segala. Biasanya baik Bagas, Widi atau teman yang lain tak pernah melakukan hal tersebut.


Setelah Rian pulang, Ami masuk kembali ke dalam rumah. Terlihat Ibu Budi sedang tersenyum menggodanya. "Itu pacar kamu Mi?"

__ADS_1


"Bukan Bu." jawab Ami sambil membereskan cangkir bekas minum Rian.


"Ah pacar juga gak apa-apa Mi. Baik dan sopan lagi anaknya. Mau pulang pamit dulu, bahkan cium tangan sama Ibu. Beda sama teman-teman kamu yang lain. Kalau datang berisik, kadang sambil ngerokok dan kalau pulang langsung nyelonong pergi aja tanpa pamit. Udah ah Ibu mau lihat Farrel dulu." Ibu pun masuk kembali ke kamar Ami tanpa mendengarkan alasan yang sudah Ami buat.


******


"Pagi semuanya! Salam kenal. Nama saya Rian Adi Nugroho."


Suara riuh emak-emak yang melihat berondong ganteng langsung terdengar memenuhi ruangan kantor Ami.


"Wuiiih. Berondong baru nih." komentar Mbak Dona, telemarketing senior yang bertubuh bohay nan aduhai tersebut.


"Nanti belajarnya sama Mbak aja ya Dek." goda Mbak Rica yang walau sudah tante-tante tapi masih awet muda saja.


"Heh emak-emak! Jangan ikut-ikutan ah. Makin kecil nih kesempatan kita-kita yang masih single dan jomblo ini." protes Lisa, salah seorang telemarketing senior yang masih belum nikah padahal sudah cukup umur. Alasannya adalah karena sifatnya yang amat judes, jadi laki-laki yang menyukainya sudah mundur duluan tanpa berani berjuang.


Rian yang digoda oleh emak-emak pun hanya bisa tersenyum sambil menundukkan wajahnya. Untunglah Mbak Ranti selaku manager telemarketing langsung angkat bicara menenangkan anak buahnya sebelum kelakuannya makin memalukan lagi.


"Udah ya cantik, jangan digodain terus. Kalian pasti seneng kan akhirnya ada yang bisa menyejukkan mata kalian lagi. Next saya akan terima lagi ya karyawan laki-laki. Biar kalian gak bosen ngeliatnya itu-ituuuuu aja. Oke, Rian kamu nanti bisa belajar sama Lisa. Dia pinter jualannya. Kamua catet bagaimana cara Dia jualan nanti kamu akan jualan sendiri ya setelah kamu punya ID." Mbak Ranti lalu mempersilahkan Rian duduk kembali ke kursinya. Ia pun melanjutkan menyampaikan informasi kepada semua anak buahnya sebelum akhirnya membubarkan morning briefing.

__ADS_1


Ami kembali ke kubikalnya yang bernuansa hijau tersebut. Ia menunggu Supervisornya membagikan data nasabah yang harus Ia telepon. Ami mencari sekilas keberadaan Rian. Ia memanjangkan kepalanya mencari keberadaan temannya tersebut.


Terlihat Rian sedang berada di belakang Lisa yang sedang mengajarkan Rian caranya kerja. Teman-teman di sekeliling Lisa terlihat sedang menggoda mereka berdua. Di satu sisi Ami senang Rian diterima kerja di tempatnya. Si sisi lain Ami terlihat cemburu dengan banyaknya perhatian yang didapatkan Rian dari rekan kerjanya yang lain.


__ADS_2