Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 40


__ADS_3

Kesalahpahaman biasanya terjadi karena kurangnya komunikasi antara kedua belah pihak. Ada juga yang terjadi karena terlalu mudah menyimpulkan sesuatu. Bagaimana untuk menghindari kesalahpahaman yang berujung jadi perselisihan bahkan ada juga yang sampai jadi pertengkaran?


Caranya mudah yakni diungkapkan. Diceritakan apa permasalahannya lalu dicari jalan keluar. Apakah semudah itu? iya kata orang lain, bagi yang mengalaminya tidak semudah itu Ferguso.


Karena itu, sebelum terjadi kesalahpahaman cobalah berpikir jika berada di pihak lawan. Susah memang, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk egois yang maunya hanya dirinya yang dimengerti oleh orang lain tanpa mau memikirkan orang lain.


Saat kesalahpahaman terus berlanjut pada akhirnya justru rasa malu dan bersalah yang mendera. Begitu yang Ami rasakan. Ia dengan mudahnya menyimpulkan sesuatu hanya berdasarkan penglihatannya dan apa yang Ia yakini benar. Bukan ditanyakan dulu baru ambil kesimpulan.


Ya akhirnya sudah bisa ditebak sih. Malu. Dulu Ami bahkan sampai menjauhi Rian karena dipikirnya Rian hanya ada maksud tertentu dengannya. Ami tak menduga kalau Rian memang ingin berteman dengannya. Mungkin dimata Rian, Ami adalah teman yang asyik? Hanya Rian dan Tuhan yang tahu.


"Maaf ya Yan. Gue udah nyimpulin sesuatu tanpa menanyakannya terlebih dahulu sama lo." Ami menundukkan kembali kepalanya. Rasa Malu benar-benar menderanya kali ini.


"Gak apa-apa kok Mi. Santai aja sama gue mah. Yang penting lo tau kalo sejak awal gue gak ada maksud tertentu sama Intan. Dan satu lagi."


"Apa?" Ami mengangkat pandangannya lagi dan memberanikan diri menatap mata Rian.


"Jangan hindarin gue lagi. Kalau gue punya salah sama lo, gue minta maaf. Gue gak ada maksud buruk sama lo."


"Lo gak salah kok Yan sama gue. Gak usah minta maaf. Dan... gue juga gak menghindari lo kok." bohong. Ami sadar kebohongannya dengan mudah Rian ketahui. Ami gak jago bohong. Dan Rian pandai membaca karakter orang.


"Gue tau Mi lo menghindari gue. Sejak gue tanya tentang Intan sama lo, sikap lo ke gue berubah. Lo mulai gabung sama anak-anak yang lain. Terus lo mulai jarang ke kampus. Gue tau alasan lo karena nyari uang. Tapi gue lebih tau lagi kalo alasan lo karena gue. Bener gak?"


Ami menghembuskan nafasnya. Ia sudah gak bisa bohong lagi. Perkataan Rian yang mencecarnya sudah cukup menyudutkan posisinya. "Iya. Gue emang menghindari lo. Gue gak bisa bohong lagi." aku Ami.


"Kenapa? Hanya karena gue nyalamin Intan? Atau ada alasan lain? Misalnya.... lo suka sama gue gitu?"


Ami hampir saja tersedak dengan es teh manis yang Ia sedang minum. "Bukan.... Bukan karena itu. Ih lo ge er banget sih jadi orang!"


Wajah Rian menampilkan sedikit kekecewaan atas perkataan Ami. Ia berharap Ami akan berkata Iya namun malah Ami langsung mengelaknya. Ah bodohnya Rian, Ami kan perempuan, mana mau Ia mengungkapkan isi hatinya duluan?


Rian menyerahkan selembar tissue agar Ami bisa membersihkan wajahnya yang terkena es teh manis. "Ini, lap dulu."


"Iya, makasih." Ami menerima tissue dari Rian dan membersihkan dagunya yang basah kena es teh manis.

__ADS_1


"Terus karena apa? Karena alasan apa?" Rian masih menuntut jawaban Ami.


"Karena gue gak suka dimanfaatin." jawab Ami tegas.


"Gue gak manfaatin lo, Mi."


"Iya gue tau. Tapi lo bukan orang pertama yang temenan sama gue tapi akhirnya ada maksud terselubung di dalamnya."


"Gue gak gitu Mi. Kan lo sendiri yang memulai pertemanan kita? Kalo gue ada maksud jahat ke lo ya gue gak akan ngelakuin hal kayak gitu." nada suara Rian mulai ada emosi di dalamnya.


"Iya gue tau. Gue tau. Makanya gue salah dan gue minta maaf. Gak ada maksud gue untuk nuduh lo jahat sama gue. Hanya.... hanya gue trauma karena sering diperlakukan seperti itu. Apa salah kalau gue membela diri daripada gue ngerasain sakit hati yang makin berlebih lagi?"


Rian meminum minumannya. Ia harus menenangkan diri. Acara hari ini bisa berakhir dengan pertengkaran dan ujung-ujungnya mungkin saja Ami akan pergi lagi dan menghindarinya. Kemarin Ia masih bisa mendekatkan diri dengan Ami, tapi kalau sampai Ami pergi lagi Ia tidak yakin bisa bertemu dengan Ami lagi.


"Lo bilang kalau lo sering diperlakukan seperti itu? Siapa aja yang sering memperlakukan lo kayak gitu?"


"Semua sahabat gue."


"Apa mereka layak disebut sahabat lo?" tanya balik Rian.


"Salah satu dari sahabat lo itu adalah cowok yang waktu itu jemput lo di depan kampus?" masih saja Rian menginterogasi Ami.


"Iya."


"Kenapa lo gak menghindari Dia seperti lo menghindari gue? Kan kalo lo menghindari Dia, lo pasti akan terhindar dari sakit hati lagi."


"Udah gue coba dan gue gak bisa." Ami sudah tidak lapar lagi sekarang. Dijauhkannya piring yang masih banyak makanannya tersebut. Ami balik menatap Rian, tatapannya seolah menantang. Ia tidak peduli, tak ada hubungan diantara mereka dan Rian terus menerus menuntut jawaban darinya.


"Kenapa gak bisa? Karena lo suka sama Dia?"


"Iya. Gue suka sama Dia. Kenapa?" tantang balik Ami.


Rian terlihat mengepalkan tangannya. Mencoba menahan amarah di dadanya. Ia yang memancing Ami dan Dirinya pula yang jadi kesal dibuatnya. Mau bagaimana lagi, sudah lama Ia menahan diri untuk bertanya langsung pada Ami. "Terus? Kenapa gak pacaran aja? Kan kalian saling suka?"

__ADS_1


Ami mengambil tas yang awalnya Ia taruh di kursi samping tempatnya duduk. "Itu urusan pribadi gue Yan. Lo gak perlu ngurusin urusan gue." Ami lalu bangun dari duduknya. "Gue duluan ya Yan. Makasih buat traktirannya hari ini."


Ami berjalan keluar restoran dengan perasaan kesal. Tak mau berdiam diri, Rian pun bangun dari duduknya dan mengejar Ami. Ia sadar kalau Ia yang memulai pertengkaran mereka.


"Mi...Mi.... Sorry. Maafin gue oke? Gue gak ada maksud nyinggung perasaan lo. Please... Kita kan lagi jalan. Maafin gue ya..." Rian menarik tangan Ami untuk menghentikan langkah Ami.


Ami agak kaget saat mengetahui kalau Rian memegang tangannya. "Tolong lepasin Yan."


"Gue akan lepasin kalo lo mau maafin gue." Rian menatap Ami dengan tatapan memohon.


Ami kembali menghembuskan nafasnya dalam. "Oke gue maafin."


Rian langsung melepaskan tangannya dari tangan Ami. Senyumnya pun langsung mengembang. Mudah mendapatkan maaf Ami ternyata.


"Tapi gue mau pulang. Dan satu lagi, mulai senin biarin gue berangkat dan pulang sendiri. Percuma lo nunggu gue, gue akan tetep berangkat sendiri."


"Tapi Mi-"


"Gue duluan Yan."


Ami pun pergi meninggalkan Rian. Ia memutuskan pulang sendiri ke rumahnya. Hatinya sangat kesal. Siapa sih Rian sampai seenaknya mencampuri urusan pribadinya? Ami sadar kalau Ia sudah salah karena menjauhi Rian atas asumsinya sendiri, namun bukan berarti Rian seenaknya saja mengatur hidupnya. Mereka bukan pacaran kan? Ngapain juga Rian terlalu memcampuri hidupnya. Mau Dia berteman dengan Bagas kek. Mau Dia hanya dimanfaatkan Bagas kek. Memang kenapa?


Ami menendang kerikil kecil yang ada di dekat kakinya. Berharap dengan menendang kerikil tersebut maka kekesalan di dada Ami akan berkurang.


Jam 5 sore. Seharusnya Ia dan Rian masih asyik jalan muter-muter mall, eh dirinya malah berakhir dengan menunggu angkot di depan Mall. Suara klakson motor membuat Ami mengalihkan perhatiannya dari batu krikil tersebut.


"Neng, mau ikut abang dangdutan?" sapa pengendara motor sambil membuka helm full facenya. Bagas.


"Ngapain lo disini?" tanya Ami heran melihat sosok Bagas di depannya.


"Kebalik justru gue yang nanya. Ngapain lo berdiri disini?"


"Iya juga ya. Gue abis jalan-jalan sendirian beli DVD."

__ADS_1


"Yaudah ayo naik. Ikut gue ke rumah dulu mau mandi baru gue ajak lo jalan-jalan."


Tanpa pikir panjang, Ami pun naik ke motor Bagas. Ami tak menyadari ada sorot mata penuh kekesalan yang menatapnya dari kejauhan.


__ADS_2