
Sabtu siang, pengunjung mall lebih ramai dibanding hari biasanya, apalagi tanggal muda sehabis gajian. Biasanya waktu me time dengan keluarga dihabiskan sambil makan siang di luar, di mall lebih tepatnya.
Parkiran mobil penuh, bahkan kadang harus muter-muter beberapa lantai hanya untuk mendapatkan space untuk parkir. Itu kalau parkiran mobil, kalau parkiran motor beda lagi. Ada space dikit aja bisa jadi tempat parkir, asal..... mau menggeser motor orang.
Itulah yang Rian lakukan. Bingung mau taruh motor dimana, dilihatnya space kosong sedikit diantara dua motor buru-burulah Rian menyuruh Ami turun. Ia lalu menggeser motor yang lain lalu menyisipkan motornya di tengah-tengah. Beres. Itulah enaknya naik motor. Gak ribet.
Ami menggeleng-gelengkan kepala melihat ulah Rian. "Kayak Kang Parkir aja lo. Gak boleh liat tempat kosong dikit aja langsung diisi motor." celetuk Ami.
Rian yang baru saja menitipkan helmnya di tempat penitipan helm pun tersenyum. "Itu namanya peluang Mi. Lo belajar tentang peluang kan? Kalau peluang sekecil itu enggak lo ambil, belum tentu akan ada peluang berikutnya. Gerak cepet ajalah."
"Terserah lo lah Yan. Mau kemana nih kita?" Ami menaruh helmnya di spion motor Rian. Gak perlu dititipkanlah, helm cetok tanpa label SNI yang Ia pakai murah hanya 15 ribu, siapa juga yang mau nyolong?
"Anterin lo beli Dvd dulu kali ya. Biar lo tenang nyari yang lo suka." Rian mensejajari langkah Ami memasuki mall.
"Oke. Di lantai 3 ada langganan gue. Kita kesana ya."
Mereka pun langsung menuju lantai 3 tempat penjual DVD bajakan. Ada lebih dari 3 stand yang jualan disini. Heran. Kok jualan DVD bajakan di mall dan tidak kena sidak? Sedangkan yang jualan di Glodok suka disidak? Apa mungkin karena bayar sewa standnya mahal?
"Eh ada Mbak Ami. Itu pacarnya Mbak?" sapa salah satu pemilik stand DVD saat melihat kedatangan Ami. Terlihat dengan jelas keakraban diantara mereka, mungkin karena Ami sudah menjadi langganan tetap stand DVD ini.
"Bukan Mas. Ini temen gue. Ada stok baru gak?" jawab Ami dengan tatapan mata yang tak lepas dari koleksi DVD di depan matanya.
"Nih yang baru. Ini bagus nih. Dari kemarin banyak yang nyariin." Mas-mas penjual DVD memberikan stok DVD terbaru pada Ami.
"Iya gue juga nyari nih film. Mau ya yang 1 film full isi 5 DVD kan? Coba ditest dong. Kalau di rumah gue rusak boleh tuker ya." Ami menyerahkan DVD yang Ia mau beli pada penjualnya.
"Iya bawa aja kesini nanti boleh tuker. Itu Masnya gak mau beli juga?" penjual DVD itu gantian menyapa Rian.
Rian langsung menunjukkan ketertarikannya pada film-film box office yang masih tayang di bioskop. Ia pun memilih-milih film yang akan Ia beli. Ami yang melihat Rian pada akhirnya ikutan beli hanya bisa menahan tawa.
__ADS_1
"Lo udah laper belum?" tanya Rian saat mereka sedang membayar DVD masing-masing. Ami bersikeras membayar sendiri DVD miliknya dan menolak tawaran Rian yang hendak membayarinya.
"Masih agak kenyang sih. Tadi gue udah makan sebelum pergi." jawab Ami jujur.
"Kita nonton aja yuk. Beli tiket nonton terus sambil nunggu kita ngemil apa gitu, gimana?"
Nonton? Beneran ngedate dong ini namanya? Bukannya cuma mau beli DVD sama makan aja?- Ami.
"Nonton apa Yan?"
"Apa aja. Lo sukanya film apa?"
"Hmm... Harry Potter aja deh. Gue ngikutin dari bukunya, pengen nonton langsung kayaknya bagus."
"Yaudah ayo kita beli tiket dulu." Rian dan Ami langsung menuju lantai teratas mall tempat bioskop berada.
Rian meminta Ami menunggunya di kursi tunggu sementara Ia membeli tiket nonton. Tak mau hanya berpangku tangan tanpa patungan sama sekali Ami pun membeli popcorn ukuran sedang dan dua buah minuman bersoda untuk dimakan di dalam.
"Gak apa-apa. Biar gue yang beli cemilannya. Ada yang mau lo beli lagi gak?"
"Gak ada."
Tak lama suara pemberitahuan kalau pintu bioskop sudah dibuka, Ami dan Rian pun langsung masuk. Untunglah mereka masih dapat tempat duduk yang tidak terlalu dibawah meskipun pesan tiketnya dadakan.
Ami menaruh popcorn ditengah-tengah antara dirinya dan Rian. Baru kali ini Ami menonton film dengan teman cowoknya. Biasanya nonton dengan teman-teman ceweknya, sama Bagas pun tidak pernah. Ami berusaha mengusir rasa canggung yang menderanya.
Tenang Mi. Kalian cuma berteman. Jangan mikir yang macem-macem.- Ami.
Selesai nonton film yang berdurasi hampir 3 jam tersebut perut Ami dan Rian mulai lapar. Rian mengajak Ami ke restoran Solaria yang hampir di setiap mall selalu ada.
__ADS_1
Ami memesan chicken gordon blue dengan kentang sementara Rian memesan chicken mozarela dengan kentang juga. Sambil menunggu pesanan datang Ami mengajak ngobrol Rian agar suasana diantara mereka tidak canggung. Bagaimanapun Rian typikal cowok pendiam. Kalau Rian sudah diam, maka Ami akan bingung mengajak ngobrol apa lagi.
"Gimana di kantor? Seneng kan dideketin sama emak-emak?" goda Ami.
Rian memanyunkan bibirnya sedikit. "Seneng apaan Mi? Sumpah gue takut. Heran gue kok emak-emak pada agresif banget sih. Emangnya di rumah gak ada pelampiasan apa?" keluh Rian.
Ami tertawa mendengar pengakuan Rian. "Iya sih, mereka terlalu agresif. Tapi kan lo jadi enak, jadi primadona di kalangan mereka."
"Enak apaan sih Mi? Primadona juga di kalangan emak-emak gak ada keren-kerennya."
"Kan ada Mbak Lisa juga yang masih single. Ada Mbak Ari yang katanya suka sama lo gimana sih? Lo tuh tinggal milih. Mau yang mana?" Ami masih saja iseng menggoda Rian. Kemarin Ami dengar kalau Mbak Ari yang kalem, baik hati dan lemah lembut idaman para lelaki di kantor katanya suka sama Rian. Kalau memang Rian suka sama Mbak Ari kenapa enggak? Toh Ami bukan siapa-siapa Rian yang bisa melarang dengan siapa Rian akan suka.
"Gak ada yang gue pilih. Mbak Lisa bukan type gue. Dia terlalu dewasa dan umur kita beda jauh."
"Kalau Mbak Ari? Kenapa enggak? Mbak Ari kan idaman para lelaki di kantor. Baik, lemah lembut, pokoknya girly banget deh." loh kenapa Ami malah mempromosikan Mbak Ari pada Rian? Udah mulai berjiwa marketing Dia rupanya.
Makanan yang mereka pesan pun datang. Rian meminum es teh manis miliknya lalu menjawab pertanyaan yang Ami ajukan. Rian agak curiga, kenapa Ami mengorek keterangan tentang dirinya. Apa mungkin teman-teman di kantor yang menyuruh Ami melakukan hal tersebut. "Gak suka juga. Hmm... gimana ya? Mbak Ari baik sih. Tapi gue gak suka sama Dia."
"Kenapa? Masih suka sama Intan?" Ami memakan chicken gordon bleu miliknya dan mengajukan pertanyaan tanpa berani menatap mata Rian. Ami pura-pura sibuk dengan makanannya.
Rian menaruh garpu dan pisau yang semula Ia gunakan lalu menatap Ami dengan heran. "Memangnya yang bilang gue suka sama Intan siapa?"
Ami mengangkat wajahnya, kenapa Rian malah balik bertanya bukan hanya menjawab iya dengan penuh keyakinan. "Kan waktu itu lo nanyain tentang Intan sama gue. Terus minta disalamin juga. Iya kan?"
Rian mengernyitkan keningnya. "Enggak. Gue cuma nanya lo temenan sama Intan, terus lo bilang iya. Terus lo yang nanya mau disalamin sama Intan atau enggak ya gue jawab aja boleh tapi jangan bilang dari gue. Karena emang gue gak minta disalamin ke Dia makanya gak usah pake nama gue."
Sekarang gantian Ami yang menaruh garpu dan pisaunya. Ia tak percaya dengan apa yang Rian katakan. "Kok bisa?"
Rian tersenyum mendapati reaksi Ami yang sepertinya kaget. Mungkin ini alasan Ami dulu menjauhinya. Karena Ami pikir Rian ada maunya saja dengan Ami.
__ADS_1
"Jujur aja, Intan tuh mukanya mirip mantan pacar gue. Mirip banget malah. Makanya waktu itu gue nanya lo temenan sama Dia dan lo langsung nawarin buat disalamin segala."
Ami berusaha menenangkan dirinya. Ia udah salah paham selama ini. Rian bukan mau memanfaatkannya seperti yang lain. Ah kenapa semudah itu Ia mengambil kesimpulan atas sesuatu? Tapi kenyataan kalau Intan mirip mantan pacar Rian juga merupakan kenyataan yang pahit. Apalah Ami jika dibandingkan dengan mantan pacarnya Rian yang mirip Intan itu?