
⚘⚘⚘Hi semua! Cuma mau infoin aja nih, vote Warm Your Heart yang ada di Team A ya Maacih... 🥰🥰🥰⚘⚘⚘
Jarak Mall dengan rumah Bagas tidaklah jauh. Hanya 10 menit. Sepanjang jalan baik Ami maupun Bagas tidak ada satupun yang berbicara. Sampai akhirnya motor Bagas berbelok ke jalanan dekat rumahnya dan memberhentikan motor di depan rumahnya persis.
"Turun Mi. Udah sampe rumah gue sekarang." Ami pun turun dari motor dan mengamati rumah kontrakkan Bagas.
"Ayo masuk. Sorry kalo rumahnya jelek dan berantakan." Bagas membuka kunci rumahnya dan mempersilahkan Ami untuk masuk.
Ami mengikuti Bagas dan masuk ke dalam rumahnya. Seperti yang Bagas katakan, rumahnya memang berantakan namun tidak sejelek yang Ia katakan. Ya sama seperti rumah kontrakkan pada umumnya.
"Tadi lo dari mana Gas? Kok bisa lewat Mall?" tanya Ami sementara Bagas sedang mengeluarkan dua buah minuman dingin dari kulkasnya.
"Gue baru aja pulang kerja. Gue masuk shift malam dan tadi lanjut lembur lagi."
"Loh emangnya lo gak tidur dulu gitu? Kerja kok sampe banyak shiftnya?" Ami memperhatikan ada sedikit lingkaran hitam dibawah mata Bagas.
"Tadi subuh gue sempet tidur dulu sebentar di Mess kantor habis itu lanjut kerja lagi. Maklumlah kerja di pabrik emang kayak gitu. Minum Mi. Lo makan apa biar gue beliin?"
"Gak usah. Minum aja udah cukup. Lo mandi dulu sana gue tunggu."
"Yaudah gue mandi dulu ya." Bagas pun langsung menuju kamar mandi.
Ami yang tak bisa berpangku tangan melihat rumah kontrakkan Bagas yang berantakan pun langsung melepas cardigannya dan mulai membereskan rumah. Sesibuk itukah Bagas sampai membersihkan rumahnya saja tidak sempat?
Bagas yang baru keluar dari kamar mandi heran melihat rumahnya sudah lebih rapi dibanding sebelumnya. "Loh kok lo rapihin sih? Gak usah repot-repot Mi. Nanti juga bakalan gue rapihin kok."
"Gak apa-apa. Gue bosen kalo diem aja. Lo sibuk banget sih Gas sampai gak sempet beresin rumah? Sibuk ngapain? Pacaran?"
Bagas tersenyum. Ia masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kering. Bagas pun menuju sofa dan duduk di sana. "Kalo gue sibuk pacaran rumah gue bakal bersih Mi. Pacar gue pasti bakalan beresin rumah gue kayak yang lo lakuin."
"Terus lo sibuk ngapain dong?"
Bagas membaringkan tubuhnya diatas sofa. Rasa lelah menderanya. Ia bekerja sudah lebih dari 24 jam.
__ADS_1
"Kerja Mi. Kan gue bilang kerja di pabrik tuh jadwal lemburannya banyak. Sibuk gue. Pulang kerja udah kecapean dan langsung tidur. Terus sorenya udah masuk kerja lagi. Begitu aja seterusnya."
"Harus ya lo lembur kayak gitu? Gak kasihan sama badan lo? Bisa sakit kalo lo kayak gini terus."
"Mau bagaimana lagi Mi. Gue kan harus rajin kerja biar diangkat jadi karyawan tetap. Sekarang udah jadi karyawan tetap kerjaan makin banyak. Gak sempet gue ngurusin rumah. Seperti yang lo lihat, pulang kerja gue cuma istirahat sebentar terus besoknya kerja lagi."
"Yaudah gini aja, lo tiduran aja dulu. Ntar jam 7 baru lo bangun anterin gue pulang gimana?"
"Emangnya lo mo ngapain?"
"Gue mau masakkin lo dulu. Sekalian beresin rumah lo. Tadi baru gue buang sampahnya aja belum gue cuci piringnya. Udah sana tidur aja. Nanti gue bangunin."
"Gak usah, Mi. Lo kan tamu disini. Udah ayo gue anterin lo pulang aja."
"Udah jangan bawel. Cepetan deh kalo disuruh nurut!"
Melihat Ami yang sudah bertitah, Bagas tak bisa berbuat apa-apa. Bagas pun masuk ke kamarnya dan tidur.
Ami melihat stok makanan di kulkas. Lumayan ada tofu, nugget, telur dan wortel. Ami juga memasakkan nasi untuk Bagas makan.
Ami melirik jam di dinding. Sudah jam 7 kurang. Ia pun membangunkan Bagas yang tertidur lelap di kamarnya.
"Gas, bangun. Udah mau jam 7 nih." Bagas masih tertidur lelap. Ami merasa kasihan dengan Bagas. Ia bahkan sudah lebih mandiri dibanding Ami. Ia sudah mencari uang sejak masih sekolah. Betapa beruntungnya nasib Ami bila dibandingkan dengan Bagas.
"Gas. Ayo makan dulu. Jangan tidur dengan perut lapar. Nanti lo bisa sakit." Ami menghampiri Bagas dan menepuknya pelan.
Betapa kagetnya Ami saat Bagas tiba-tiba menariknya dan memeluknya dan pelukannya. "Ih Bagas, ngapain sih? Ngagetin aja! Bukannya langsung bangun malah ngibulin gue lagi!" kata Ami sambil memukul mukul pelan dada Bagas.
Bagas tersenyum melihat Ami yang masih mengomel dalam pelukannya. Ah... nyamannya ada Ami dalam pelukannya. Seakan semua masalah dalam hidupnya akan hilang. "Masih ngantuk Mi." seru Bagas dengan suara manjanya.
"Yaudah makan dulu. Abis itu lo lanjut tidur lagi. Gue nanti pulang naik angkot aja." mendengar perkataan Ami malah membuat Bagas makin mempererat pelukannya. Ami memang mandiri tidak seperti pacarnya yang lain, manja dan apa-apa harus Bagas yang kerjakan.
"Gue sayang sama lo, Mi." ucap Bagas tiba-tiba.
__ADS_1
"Iya gue tau. Udah cepet bangun!"
"Udah bangun kok."
"Apanya?" tanya Ami bingung. Jelas-jelas Bagas masih tiduran dan memeluknya.
"Adeknya. Bagas junior." Bagas pun nyengir kuda.
"Gue tampol lo ya kalo kayak gitu!" Ami mulai meronta minta dilepaskan dari pelukan Bagas. "Lepasin gak?"
"Emang kenapa sih Mi? Gue kan cowok normal. Biar bagaimanapun lo kan cewek. Wajar kalau adek gue bereaksi." kata Bagas dengan santainya.
"Lo ngomong gitu lagi gue beneran marah nih!" ancam Ami.
"Tenang aja Mi. Gue gak bakalan macem-macem sama lo. Kalo gue mau udah dari dulu Mi. Lo gak usah khawatir sama gue. Sebejat-bejatnya gue, gak bakal gue ngerusak lo. Santai aja oke? Gue cuma mau meluk lo lebih lama lagi, boleh?"
"Enggak." jawab Ami tegas. Bagas kaget mendengar jawaban Ami. Biasanya setiap cewek yang Bagas peluk bahkan akan memeluknya lebih erat, ini Ami malah menolaknya.
"Kenapa?"
"Pake nanya lagi. Kalau ada dua orang berduaan di satu kamar kayak gini, orang ketiganya tuh setan. Udah ah ayo makan. Gue mau pulang. Nanti Ibu Hajah Budi ngomel makin panjang lebar."
"Yaelah, Mi. Romantis dikit kenapa? Momennya udah pas nih. Biasanya tuh cewek demen situasi romantis kayak gini." Bagas menyerah dan melepaskan pelukannya terhadap Ami.
Selagi Bagas menyerah Ami dengan mudahnya melepaskan diri. "Udah jangan bawel. Cepetan makan." Ami menarik tangan Bagas agar bangun dan mengikutinya ke ruang tamu yang sudah Ia sulap jadi ruang makan dadakan.
"Wow. Kapan lo masaknya Mi?" Bagas yang takjub melihat masakan buatan Ami sudah terhidang di meja ruang tamu.
"Pas lo tidur. Udah makan sana. Gue cabut dulu ya." Ami mengambil tas selempangnya dan bergegas pergi.
"Eh mau kemana lo? Enak aja mau cabut. Ntar dulu. Gue anterin sampe depan rumah. Ayo makan dulu temenin gue. Udah lama nih gue gak makan masakan rumahan. Langsung laper banget perut gue." Bagas pun lalu mengisi piringnya dengan nasi dan masakkan buatan Ami. Tanpa menunggu Ami yang masih menyendok nasi Ia pun memakan masakan Ami.
"Enak, Mi. Bisa masak juga lo. Gak nyangka gue. Ami yang tomboy bisa juga masak." puji Bagas dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Yaelah cuma goreng nugget sama telor aja udah banyak banget pujiannya. Ini mah kecil. Makan yang banyak kalo lo suka."
"Siap, Bos."