Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 50


__ADS_3

"Mi, kita makan pizza aja ya." Bagas menunjuk restaurant Pizza terkenal kesukaannya.


"Iya." jawab Ami.


Hari ini Bagas mengajak Ami jalan. Sejak kejadian di villa, Bagas sering mengajak Ami jalan. Bagas beralasan agar Ami bisa cepat move on.


Ami mengiyakan saja ajakan Bagas. Toh daripada Ia malam minggu hanya meratapi nasibnya yang seorang jomblo? Bagi jomblo, malam minggu ibarat makan siang hanya dengan kentang goreng, kenyang tapi bikin kesel. Kesel liat orang bermesraan kalau di mall, kesel liat orang senyum-senyum sendiri sambil baca Hp. Pokoknya kesel deh.


Bagas menyerahkan menu yang Ia pesan pada pelayan Pizza. Pelayan lalu pergi memesankan pesanan Bagas.


"Pelayannya cantik banget Mi. Bodynya juga wuiiihh." celetuk Bagas tanpa melepaskan pandangannya pada pelayan tersebut.


Ami melihat pelayan tersebut berbicara dengan temannya sambil tersenyum ke arah Bagas. Pasti Ia senang deh melihat Bagas menggodanya. Ami mulai merasa tidak nyaman.


Bagaimana tidak, bukannya move on, Ia malah makin teringat kenangan saat bersama Rian. Tak pernah sekalipun Rian menggoda cewek lain baik sebelum mereka berpacaran sampai 2 tahun lebih hubungan mereka.


Rian hanya menatap Ami tanpa peduli dengan sekitar. Tanpa peduli ada wanita lain yang jaaauuuuuh lebih seksi dan cantik dari Ami. Ia hanya menatap ke arah Ami.


Ami mulai membandingkan perlakuan yang Ia terima dari Bagas dan Rian. Contohnya saat hendak makan, Rian selalu menanyakan pendapat Ami terlebih dahulu sebelum memutuskan akan makan dimana. Beda dengan Bagas yang langsung memutuskan sendiri mau makan dimana.


Sikap saat masuk ke dalam restauran pun berbeda. Rian biasanya membukakan pintu atau menahan pintu saat Ami mau masuk. Bukannya kayak Bagas yang langsung nyelonong masuk tanpa melihat apakah Ami sudah masuk atau belum.


Ah... kenapa aku terus membandingkan antara Bagas dan Rian. Come on Ami... Lo harus berubah. Buka pikiran lo. Rian udah pergi dan gak pernah melihat lo lagi. Yang ada di depan lo sekarang tuh Bagas. Seorang Bagas yang selalu lo idamkan. Bagas udah mulai membuka dirinya sama lo. Lo harusnya bersyukur, lo udah mendapat perhatian dari Bagas.- Ami.


"Menurut lo cantikkan Mbak yang depan meja kasir atau yang lagi berdiri deket meja salad Mi?" tanya Bagas. Ami yang sedang melamun tak menjawab pertanyaannya. "Mi... Ami!" Bagas menepuk tangan Ami menyadarkannya dari lamunan.

__ADS_1


"Ah... iya... cantik." jawab Ami dengan gelagapan.


"Apa yang cantik?" tanya Bagas penasaran.


"Hmm... itu... Mbak-Mbak yang lagi di meja no. 12 kan?" jawab Ami sekenanya. Ia benar-benar tidak menyimak apa yang Bagas tanyakan.


"Tuh kan lo gak dengerin gue. Lo kenapa sih Mi melamun aja? Masih belum move on juga? Apa mau gue cium lagi biar lo cepet move on?" goda Bagas.


"Apa sih lo, gak lucu tau gak. Gue lagi mikirin.... hmm... kerjaan. Ada selisih di kantor gue kemarin. Takut kena denda aja." kata Ami beralasan.


"Kirain lo masih mikirin tuh orang. Kayak gimana sih mukanya? Mau liat dong gue!" Bagas langsung mengambil Hp Blackberry milik Ami dan membuka galery miliknya tanpa seijin Ami.


Ami kalah cepat dengan Bagas. Ia pun menyerah saat Bagas melihat-lihat foto kebersamaan dirinya dengan Rian.


"Iya." Bagas mengamati lelaki yang sudah membuat Ami sampai susah move on tersebut. Tak bisa dipungkiri memang selera Ami bagus. Ganteng, putih dan terlihat lelaki baik-baik.


Bagas mengembalikan Hp milik Ami setelah melihat dengan jelas foto mereka. Hp dalam posisi on dan menampilkan foto Ami yang sedang dirangkul oleh Rian. Mereka tersenyum bahagia di foto tersebut.


Ami terkenang saat mereke ke curug hanya berduaan dan bermain air terjun sepuasnya. Rian bahkan menggendong Ami di punggungnya saat Ami bilang kalau Ia sangat lelah. Namun Rian hanya menggendong Ami sampai depan musholla saja dan mengajak Ami untuk solat berjamaah.


Rian tak pernah melupakan waktu solat meskipun sedang jalan di mall sekalipun. Ia selalu mengajak Ami menunaikan kewajibannya baru melanjutkan lagi kegiatan mereka. Ami pun jadi rajin solat sejak mengenal Rian.


"Gas, gue mau ke musholla dulu ya. Lo makan aja duluan. Nanti gue kesini lagi." pamit Ami pada Bagas. Bagas pun mengangguk sambil memakan makanannya.


Mungkin Rian memang belum dewasa dan belum mau menikahi Ami, apapun alasannya. Tapi Rian mengajarkan hal-hal baik selama bersama dengan Ami. Seperti melaksanakan solat. Dulu kalau ke mall mana mau Ami mampir ke musholla mall hanya untuk melaksanakan solat? Dan sekarang disinilah Ami berada.

__ADS_1


"Lama banget Mi." protes Bagas. Ia sudah kenyang karena sudah menghabiskan beberapa potong pizza. "Udah dingin tuh pizzanya. Gak enak tau kalo dingin."


"Antri Gas. Coba deh lo sekali-kali ikut ke musholla. Antri banget karena musholla kecil dan yang mau sat banyak." Ami mengambil sepotong pizza dan memakannya.


"Gak ah. Males. Habis ini kita mau kemana nih? Mau nonton gak?"


"Terserah." jawab Ami yang masih asyik menikmati pizza miliknya.


Ami dan Bagas berjalan menuju bioskop di lantai atas mall. Enaknya jalan sama Bagas tuh semua biaya Ia yang tanggung. Kalau sama Rian kadang Ami masih patungan. Ya wajar sih mengingat gaji Rian yang gak seberapa dan masih harus bayar kuliah.


Bagas memesankan tiket film, lagi-lagi tanpa menanyakan pendapat Ami terlebih dahulu. Film yang Bagas pilih adalah film drama percintaan lokal. Film yang Ami kurang suka karena sebentar lagi juga akan tayang di TV.


Kalau sama Rian pasti kekuasaan dalam memilih film ada di tangan Ami. Ami akan pilih film hollywood yang masuk dalam box office atau minimal film horor yang sound efectnya bagus. Ah.... kenapa Ami membandingkan mereka berdua lagi?


Sadar Ami... sadar.... lo tuh lagi jalan sama Bagas. Bukan sama Rian.- Ami.


Benar saja di dalam bioskop Ami tidak menikmati film yang mereka tonton. Ia asyik ngemil popcorn. Bahkan Ami ketiduran di dalam bioskop. Hal yang tidak pernah Ia lakukan sebelumnya.


Selesai nonton Bagas mengajak Ami pulang. Ia tidak mau muter-muter dulu di dalam mall sekedar mencari baju diskonan. Bagas lebih memilih nongkrong diatas fly over sambil melihat pemandangan dari atas.


Ami mengajak Bagas pulang meski hari masih jam setengah 7 malam. Ami beralasan mau solat di rumah. Bagas langsung pergi setelah mengantarkan Ami sampai depan rumahnya.


Ami merenungkan lagi semua yang Ia lakukan di kamarnya, tentunya setelah solat maghrib. Apakah benar menjadikan Bagas sebagai pelarian agar Ia move on? Buktinya hari ini Ia bukannya move on malah makin teringat tentang Rian. Mungkin Ami memang belum siap move on atau memang Ami yang belum mau move on?


Mungkin hanya waktu yang bisa menyembuhkan luka hati Ami dan membuatnya melupakan semua kenangan bersama Rian. Entahlah yang jelas bukan Bagas orang yang tepat dan membuat Ami nyaman bersamanya.

__ADS_1


__ADS_2