Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 54


__ADS_3

Ami memikirkan syarat yang akan Ia ajukan pada Rian. Apa yang akan Ia minta pada Rian.


"Hmm... Gue sadar banyak yang harus kita benahi dalam hubungan kita Yan. Putusnya hubungan kita seharusnya membuat kita introspeksi diri. Karena kita akan berumah tangga. Bukan lagi berpacaran. Mindset kita harus diubah." kata Ami dengan serius. Biar bagaimanapun Ia akan memasrahkan hidupnya menjadi istrinya Rian yang harus manut terhadap perintah suaminya.


"Iya, betul. Gue juga sadar itu, Mi. Kita harus ubah pola berpacaran kita. Selama ini kita, lebih seringnya sih gue ya yang bersikap kayak anak kecil. Mungkin gak instan, tapi gue janji bakal lebih dewasa lagi dalam menghadapi setiap permasalahan kita. Lo juga harus ngajarin gue sebaiknya apa yang harus gue lakukan. Kita kerjasama. Kita tuh ibarat sebuah team work. Bekerjasama membangun rumah tangga. Gue emang belum mapan, tapi gue akan berusaha sekuat gue untuk menafkahi lo dan anak-anak kita nanti." tekad Rian.


Anak-anak kita nanti? Duh kok so sweet banget ya kedengerannya.- Ami.


"Pertama-tama mungkin yang harus lo lakuin adalah minta ijin sama nyokap gue sebelum bawa keluarga lo ke rumah. Kalau nyokap gue restuin, gue bakal nurutin keputusan nyokap juga, begitupun sebaliknya."


"Oke, gak masalah. Besok gue akan langsung ke rumah lo buat minta ijin langsung sama nyokap lo. Terus apalagi?"


"Kedua, kita gak bisa terus-terusan saling memanggil gue elo. Gak mungkin kan kalau kita punya anak nanti mereka juga ngomongnya gue elo karena kita orang tuanya yang mencontohkan seperti itu?" secuek-cueknya Rian, Ami tetap ingin beraku-kamu dengan Rian.


"Oke. Gue... maksudnya aku setuju." jawab Rian tanpa pikir panjang. "Mulai sekarang gue- maksudnya aku akan manggil kamu Yang, gimana?"


Wajah Ami langsung merona mendengar Rian memanggilnya Yang. "Terserah lo- eh kamu aja deh... Yang."


Sekarang gantian Rian yang tersipu malu. "Selama ini kita terlalu kayak sahabat kali ya Mi. Gak terbiasa pake panggilan sayang. Tapi gu- aku yakin kita pasti bisa ngerubah kebiasaan kita dulu."


Ami mengangguk setuju. "Oke. Ketiga. Masalah kita sebelum akhirnya kita putus. Mengenai biaya nikah. Kita kan sepakat akan patungan. Nah masalahnya adalah aku punya banyak cicilan di kartu kredit. Biasalah, beli barang-barang gak penting kayak Hp sama tas. Tapi tenang aja, paling 2 atau 3 bulan lagi lunas he..he..he... Nah aku maunya kita nikah paling cepet setahun lagi. Biar aku juga punya uang buat kita nikah nanti."

__ADS_1


"Hah? Setahun lagi, Mi? Gak kelamaan?" protes Rian.


"Ya mau gimana lagi? Aku kan harus membiayai resepsi sendiri. Tabungan aku gak ada karena sering dipakai jajan."


Itu juga jajan karena mau move on dari kamu tau Yan. - Ami.


"Hmm.... Jujur aja Mi. Sebenarnya selama ini aku nabung kok, sejak kita pacaran. Tapi aku nabungnya sama ibu. Dan uang tabungan aku belum banyak. Karena itu aku gak berani ngajak kamu nikah."


Melihat Ami hanya diam saja Rian pun melanjutkan lagi perkataannya. "Kemarin Bapak ngajak aku ngobrol. Bapak yang mendorong aku biar berani ngajak kamu nikah. Kamu tau kan gimana sifat aku, aku terlalu gak percaya diri. Aku takut gak bisa membahagiakan kamu. Tapi setelah dinasehati sama Bapak aku jadi berani. Bapak akan mendukung aku dan menyiapkan uang untuk nikahan kita. Aku tau kamu pasti gak mau kan kalau hanya pihak aku yang biayain, karena itu aku dan kamu, kita nabung untuk pernikahan kita. Kita pasti bisa kok menghadapinya. Satu yang pasti, Mi...... Aku gak mau kehilangan kamu lagi." Rian menggenggam tangan Ami dan menatap Ami penuh keyakinan.


Ami pun luluh dengan keteguhan hati yang Rian miliki. Ini yang Ami suka dibanding dengan laki-laki manapun. Perasaan dicintai seutuhnya. Perasaan menjadi seseorang yang amat istimewa dan hanya satu-satunya. Perasaan yang membuat Ami tenang dan yakin melabuhkan hatinya.


"Baiklah Yan. Ayo kita hadapin berdua. Niat kita baik, pasti Allah akan mendukung kita."


*****


Rian sedang meminta restu dari Ibu. Di samping Ibu ada Ambar yang kebetulan lagi main ke rumah Ibu. Ami meninggalkan Rian seorang diri menghadapi Ibi dan kakaknya. Ia berpura-pura hendak membeli martabak namun Ami sengaja berlama-lama di tukang martabak.


Ami sengaja melakukannya dengan tujuan mengetes kesungguhan dan kegigihan Rian memperjuangkan cintanya. Cowok memang harus digituin sebelum nikah. Karena apa? Karena nanti saat kita bergantung hidup padanya Ia akan ingat bahwa perjuangan mendapatkan cinta tidaklah mudah. Jadi Ia akan berpikir seribu kali jika ingin mengkhianati cinta yang susah payah Ia perjuangkan.


Ami kembali hampir 1 jam kemudian. Ambar dan Ibu langsung menyambut kedatangan Ami. Ternyata Ibu dan Ambar setuju saja asalkan Ami juga setuju. Ami memberitahu kakak dan ibunya kalau Ia menerima pinangan Rian.

__ADS_1


Ibu pun tersenyum melihat putri bungsunya sudah bertemu dengan jodoh yang baik. Tidak dengan Bagas yang dari awal Ibu kurang suka karena menurutnya kurang sopan.


Rian lalu memberitahukan akan mengajak keluarganya melamar Ami minggu depan. Begitulah Rian kalau sudah serius, gak perlu waktu lama langsung sikat.


*******


Acara lamaran berlangsung lancar. Setelah masing-masing keluarga saling berkenalan, Ami dan Rian pun bertukar cincin tanpa sudah ada ikatan diantara mereka berdua.


Hasil musyawarah kedua keluarga pun memutuskan Ami dan Rian akan menikah bulan maret tahun 2014. Tepatnya 11 bulan setelah lamaran ini.


*******


Ami dan Rian saling bekerjasama mengumpulkan uang untuk resepsi mereka. Ami bahkan memutarkan uang seserahannya dalam bisnis bersama Aryo yang memang punya usaha sparepart motor.


Uang yang Ami putar menghasilkan banyak keuntungan hanya dalam waktu kurang dari satu tahun. Belum ditambah uang hasil menyisihkan gaji Ami dan Rian selama kerja.


Tabungan mereka sudah hampir cukup. Seserahan pun sudah mereka cicil dan hampir lengkap, mulai dari tempat tidur (dalam adat Ami harus membawa tempat tidur sebagai seserahan), tas, sepatu, kosmetik dan seserahan lain.


Ingatlah, bahwa ketika kita mempunyai niat baik untuk menikah, maka akan ada ujian yang menanti kita. Akhir tahun 2013, Rian berhenti dari pekerjaannya dikarenakan ada temannya yang melakukan penggelapan uang kantor, Rian yang rekan satu teamnya terkena imbasnya. Ia pun berhenti dari pekerjaannya.


Ini namanya cobaan sebelum menikah. Kita diuji apakah tetap teguh dengan niat kita atau akan berniat mundur. Ami mungkin tetap yakin tapi Rian kembali tidak percaya diri.

__ADS_1


Tak putus semangat, Ami pun mendaftarkan Rian dalam web pencarian pekerjaan. Tak lama Rian pun dapat pekerjaan baru. Lihatlah semudah itu kan jika Allah sudah berkehendak. Asalkan kita yakin pasti akan dimudahkan segala urusannya.


__ADS_2