
Brosur yang berisikan promosi kampus sudah tergeletak berantakan di kamar Ami. Ada kampus yang bahkan memberikan tas jinjing sebagai sarana promosi beserta selebaran yang banyak jumlahnya.
Ami membaca harga per semester jika Ia kuliah di kampus tersebut. Minimal 5 juta rupiah harus dibayarkan, belum lagi ada biaya lainnya seperti uang gedung dan lain-lainnya. Mahal sekali biaya yang harus Ia keluarkan untuk kuliah? Kasihan Bapak, begitu pikir Ami.
Ami mulai mencari informasi tentang kampus negeri agar lebih murah biaya kuliahnya. Akhirnya Ami mendapatkan apa yang Ia mau. Dengan modal rangkingnya selama beberapa kali di SMK, Ia berhasil masuk ke kampus negeri dengan jalur prestasi.
******
Tahun 2005- 2006
Tahun permulaan Ami menjadi mahasiswa. Ami cukup tahu diri dan tidak mau memberatkan Bapak Budi jadi Ia hanya mengambil kuliah D3 saja. Biarlah nanti Ia akan melanjutkan kuliah S1 setelah Ia mendapat pekerjaan.
Masa awal kuliah belum ada pembagian jurusan. Semua masih dicampur, nanti saat semester 3 barulah pemilihan jurusan.
Ami merasa bahagia bisa masuk kampus ini walau jaraknya lumayan jauh dari rumah. Satu syarat kalau Ia mau kuliah adalah Ia tidak akan diberi uang jajan. Bagaimana Ami mengakalinya? Pagi sebelum kuliah Ia sudah sarapan di rumah. Untuk mendapat uang jajan lebih Ia suka berbohong dan pura-pura kuliah jika sedang libur, uangnya Ia pakai untuk membeli minum atau sekedar makan siomay di kantin.
Karena bergaul dengan teman-teman yang cantik-cantik, Ami pun mulai terkenal di kampusnya. Kehidupan masa kuliahnya lebih membahagiakan dibanding masa SMP dulu. Temannya banyak, pergaulannya juga makin luas karena Ia tergabung dalam organisasi kampus.
Ami mulai merasa kekurangan dengan uang saku yang Ia miliki. Kegiatan organisasinya membutuhkan uang jajan kalau mau nongkrong di warung kopi depan kampus. Belum lagi kalau ada acara, ada uang anggota dan uang patungan yang beraneka macam.
Lama-lama kebohongan Ami yang suka menilep uang jajan diketahui Bapak Budi. Setelah ditegur Ami tak berani lagi berbohong. Ia pun tidak punya uang selain untuk ongkos naik angkot.
__ADS_1
Jujur saja Ami suka iri dengan teman-temannya. Mereka diberi uang saku yang lumayan besar. Belum lagi Hp mereka yang sudah canggih, dengan kamera didalamnya. Hp Ami hanyalah motorola doraemon yang baterainya sudah drop, kalau habis terima panggilan masuk langsung mati dan harus dinyalakan lagi.
Ami gak berani minta Hp baru, beda dengan Akbar yang dibelikan Hp baru. Sejak Akbar tidak mau kuliah dan hanya minta motor, apapun keinginannya sebisa mungkin dituruti oleh Ibu Budi. Dari Hp baru bahkan asesoris untuk modif motor pun dibelikan.
Ami sudah bersyukur dibelikan Hp second. Yang penting saat temannya ngejam Ia tahu lokasi tempat berkumpul mereka. Apa itu ngejam? Ngejam itu adalah 3 detik pertama dalam menelepon yang gratis. Maklum mahasiswa selalu mencari gratisan. Jadi kalau mau janjian setelah diangkat ada jeda waktu 3 detik untuk bilang satu kata. Misalnya:
Ami: Dimana?
Restu: Kantin
Ami: Tunggu
Restu: Oke
Bukan Ami tidak bersyukur, tapi kebutuhannya makin banyak. Belum bikin makalah. Belum tugas kelompok. Belum browsing di warnet. Semuanya butuh biaya sedangkan Bapak Budi hanya menambahkan uang jajan seribu rupiah. Itu hanya dapat untuk beli Aqua gelas saja. Sedih...
Bagaimana dengan pacar? Biasa, gebetan Ami banyak tapi gak ada yang melirik ha..ha..ha.... Gak ada untungnya pacaran sama Ami yang kere. Buat modal pacaran aja gak punya.
Ami pun memutar otaknya. Ia harus mencari pekerjaan paruh waktu agar punya uang jajan. Ia harus mandiri dan tidak bergantung pada uang saku dari Bapaknya.
Ami pun mendapat pekerjaan menjadi SPG (Sales Promotion Girl) dari kakaknya Nani yakni Dina. Nani sendiri sudah bekerja di pabrik dan kabarnya jarang pulang karena tinggal di Mess.
__ADS_1
Ami memberanikan diri melamar menjadi SPG. Ia pun diterima karena memiliki tubuh dengan tinggi badan proporsional. Satu syaratnya, Ami harus berdandan.
Ami meminjam alat-alat make up milik Ibu Budi. Berdandan seadanya membuatnya terlihat lebih cantik. Ami pun menjalani pelatihan di kantornya. Besok Ia akan mulai bekerja.
*****
Liburan semester 2 sudah dimulai. Teman-teman Ami sudah merencakan liburan ala mereka. Ada yang jalan-jalan dan ada juga yang hanya di rumah saja. Bagaimana dengan Ami?
Ami akhirnya bekerja sebagai SPG. Ia bangun pagi dan berangkat ke store tempat Ia ditempatkan. Ami sudah terbiasa dengan rutinitas barunya. Walau lelah bahkan sampai turun berat badan 7 kilo, Ami menyukai pekerjaannya.
Banyak teman-teman baru yang Ia temui. Pengalaman mencari uang sendirian tanpa ada teman yang mendampingi membuat mentah Ami terasah. Ia harus makin rajin lagi bekerja, apalagi sejak Bapak Budi akhirnya pensiun dipercepat.
Bapak Budi ternyata pensiun lebih cepat 6 bulan dari waktu yang diperkirakan. Untunglah Ia sudah menyediakan uang kuliah Ami bahkan sampai Ami lulus sudah ada di tabungannya. Tidak sia-sia Bapak Budi lembur selama ini untuk mencari uang kuliah.
Sekarang tugas Ami yang harus mandiri. Ia tidak bisa selamanya bergantung pada uang jajan dari Bapaknya. Berapa besar sih uang pensiun yang Bapaknya terima? Maka dari itu Ami menabung uang hasil kerjanya.
Ami bekerja selama 2.5 bulan. Ia sudah bisa membeli Hp baru merk Motorola yang iklannya David Beckham dengan harga 600 ribu rupiah. Lumayanlah walau tidak ada kameranya tapi kalau terima telepon tidak mati seperti Hp sebelumnya.
Ami juga membeli sebuah TV kecil berukuran 14 inch berlayar cembung untuk di kamarnya. Cita-citanya adalah memiliki TV sendiri di kamarnya yang akhirnya bisa terwujud. Ami juga membeli dvd sebagai sarana menonton drama korea.
Satu yang pasti, dibanding teman-temannya yang menghabiskan liburan dengan menghamburkan uang orang tua, Ami malah mencari uang sendiri. Sekarang penampilan baru Ami saat awal semester sudah berubah. Tak ada lagi Ami yang tomboy. Tak ada lagi Ami yang hanya memakai kaus berkerah dan celana jeans cut bray dan wajah yang berminyak karena keringat. Itu adalah Ami yang dulu, Ami yang kere, yang belum mengenal uang.
__ADS_1
Ami sekarang sudah berubah. Wajahnya yang biasanya hanya memakai bedak bayi saja sekarang sudah memakai bedak two way cake. Bibirnya yang biasanya hanya memakai lip balm tanpa warna sekarang sudah memakai lip gloss berwarna pink dengan pipinya yang di sapukan dengan sedikit blouse on.
Selera berpakaiannya pun berganti. Ia memakai dress selutut dengan tas selempang dan sepatu yang senada dengan warna dressnya. Ia siap memasuki semester baru dalam hidupnya. Ia siap menyambut lembar demi lembar kehidupan baru berikutnya....