Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 37


__ADS_3

"Mi!"


Ami berbalik badan dan mencari siapa yang memanggilnya. Ternyata Rian. Ia terlihat mengejar Ami sambil membawa tas dan helm.


"Kenapa Yan?" tanya Ami.


"Lo mau kemana?" Rian terlihat sedang mengatur nafasnya yang agak ngos-ngosan. Gara-gara emak-emak yang centil dan menggodanya di meja absen Ia hampir ketinggalan Ami.


"Ya mau pulanglah." Ami menunjuk ke jalan raya tempat Ia akan menunggu Transjakarta yang mengantarnya pulang.


"Gak usah naik bis. Ayo gue anterin. Kan tadi pagi juga gue jemput lo."


Jujur saja sejak Rian diterima kerja di kantor Ami bertekad menjaga jarak dengannya. Ia tidak mau rekan kerja seniornya di kantor jadi membencinya karena dekat dengan Rian. Seperti kata Rian, tadi pagi Rian memang menjemputnya dan Ami setujui karena untuk menemani Rian di hari pertama kerjanya, tidak lebih.


Kalau untuk pulang bareng Ami agak ragu. Ia tak mau ada gosip tentang dirinya dan Rian. Bukan apa-apa, Ami tau benar kalau Rian tidak menyukainya. Ia tidak mau malah malu belakangan nantinya kalau Ia kegeeran.


"Hmm... gue naik bis aja deh Yan. Lagi juga lo kan malah lebih muter kalau nganter gue ke rumah dulu. Rumah lo kan jauh dari rumah gue. Enakkan lo langsung pulang ke rumah, malah lebih capek kalo nganterin gue dulu." tolak Ami dengan halus.


"Udah gak apa-apa. Ayo gue anterin. Daripada lo desak-desakkan di bis dan kena macet mending bareng gue aja. Masalah kalo gue jadi muter mah tenang aja, gue tau jalan tikusnya kok biar gak kena macet. Udah ayo!" Rian memberikan helm yang tadi pagi Ami pakai. Helm baru yang sengaja Rian belikan untuk Ami pakai.


Ami masih terdiam, bingung harus mengiyakan atau menolak lagi. "Udah ayo cepetan. Nanti keburu tambah macet lagi jalanannya." Rian sudah menarik tangan Ami dan mengajaknya ke parkiran motor.


Ami pasrah akhirnya dengan keputusan Rian. Daripada ribet. Toh gak rugi juga Ia ikut dengan Rian, lumayan hemat ongkos.


Ami memakai helm yang Rian berikan, menunggu Rian mengeluarkan sepeda motor Honda Supranya yang masih baru, beda dengan yang biasa Ia pakai wakti kuliah dulu.

__ADS_1


"Ayo!"


Ami pun naik ke motor Rian dan berpegangan pada besi di belakang jok motor. Ia tidak cukup dekat dengan Rian sampai berani memegang pinggang Rian. Berbeda dengan Bagas, Ami kadang malah memeluk pinggang Bagas kalau anak tersebut mengajaknya kebut-kebutan.


Bagas. Gimana ya keadaan anak itu?-Ami.


Ami menggelengkan kepalanya. Gak perlu mikirin Bagas lagi. Cukup fokus nyari uang yang banyak. Ami harus nabung mulai sekarang. Ia tidak mau jadi orang yang hidup tanpa uang sepeserpun seperti waktu itu.


Jalanan yang macet dan Rian yang memang pendiam tidak mengajak ngobrol membuat pikiran Ami melayang mengingat kejadian demi kejadian beberapa bulan belakangan ini. Ia teringat saat Ia dan Ibu membutuhkan uang untuk membiayai kebutuhan sehari-hari. Uang tabungan Bapak benar-benar sudah ludes tak bersisa.


Ibu berinisiatif menjual gelang emas miliknya. Salah satu diantara koleksinya yang Ia sangat sayang. Ibu lalu membawa ke pasar dan menjualnya. Pulangnya Ibu belanja ayam. Baru kali ini Ami makan ayam goreng dengan hati sedih. Bagaimana tidak, untuk memberi makan anaknya ayam goreng saja Ibu bahkan sampai harus menjual perhiasannya.


Apa tidak ada yang membantu? Gak usah ditanya. Saat kita jaya maka orang akan mendekati kita, namun saat kita susah bahkan lalatpun ogah mendekat. Takut kita akan minjem uang. Padahal kita hanya butuh dukungan bukan dijauhi karena sedang butuh banyak bantuan.


Ami tidak pernah minta uang lagi sama Ibu. Untuk uang ongkos kerjanya Ia cari sendiri. Senin sampai jumat Ami jadi karyawan kantoran. Sabtu dan minggu Ami masih ambil kerjaan sebagai SPG Event. Uang dari kerja Even lumayan untuk membayar ongkos bis dan makan sehari-hari.


"Mi!" panggil Rian.


"Eh.. iya. Kenapa?" Ami tersadar dari lamunannya. Ami melihat keadaan sekitar. Sekarang mereka sudah sampai di Cililitan. Lumayan lama juga Ia melamun, tau-tau sudah sampai saja disini.


"Dari tadi diem aja eh ternyata malah bengong. Mikirin apa sih? Cerita dong." Rian membenarkan letak spion motornya agar bisa melihat langsung wajah Ami saat mengobrol. Untunglah lampu merah masih lama jadi Rian bisa memandang sekilas wajah Ami yang sejak tadi sibuk dengan pikirannya sendiri.


Ami tersenyum kecil. "Mikirin hidup Yan."


"Hidup gimana maksud lo?" Rian tidak mengerti maksud ucapan Ami.

__ADS_1


"Ya mikirin hidup gue. Bagaimana rencana gue ke depannya. Bagaimana dengan masa depan gue kelak? Ah banyak deh."


"Jangan mikir kejauhan Mi. Mikir yang di depan mata aja. Terlalu jauh cuma bikin tambah beban pikiran. Jalanin aja hidup tapi planning tetap ada biar gak kelewat batas." saran Rian.


"Dulu gue gitu Yan. Dulu. Sebelum Bapak gue meninggal. Ya masih bertumpu dan berlindung di balik ketiak Bapak deh. Tapi semenjak Bapak meninggal, gue gak bisa lagi begitu. Banyak kenangan pahit yang bikin gue trauma dan membuat gue hanya bisa mengandalkan diri gue sendiri dibanding bergantung sama orang lain."


"Contohnya?" Rian tidak mengerti maksud perkataan Ami.


"Ya gue merasakan kalau ternyata setelah Bapak pergi dan keluarga gue kesulitan, orang-orang yang dulu biasa dibantu sama Bapak perlahan menjauh dan menghindar. Karena itulah gue harus lebih mandiri lagi biar gak pernah punya pikiran meminta pertolongan sama mereka lagi kelak."


"Oh jadi mikirin itu sejak tadi. Tenang aja Mi. Lo kan perempuan, nanti ada suami lo yang akan melindungi lo kelak. Ya sebelumnya mungkin diawali dengan pacar lo yang sekarang melindungi lo."


"Pacar? Pacar siapa?" sekarang gantian Ami yang gak ngerti maksud Rian.


"Ya pacar lo yang waktu itu jemput lo di kampus. Yang motornya Vixion masih baru itu." Rian akhirnya tak kuasa menahan rasa ingin tahu yang selama ini Ia simpan dengan rapat.


"Hmm... siapa ya? Yang pakai Vixio dan pernah ke kampus?" Ami mengingat-ingat siapa yang Rian sebut pacarnya. Tiba-tiba Ami mengingat kalau Bagas pernah menjemputnya sekali waktu itu. "Oooh... itu mah bukan pacar gue. Lo liat memangnya?"


Rian melajukan lagi motornya saat lampu merah berganti menjadi lampu hijau. Jalanan yang macet membuat Rian bisa melanjutkan lagi obrolannya dengan Ami. "Liat. Waktu itu gue lagi nongkrong sama anak-anak dan lihat lo pulang kuliah dijemput sama cowok bermotor Vixion."


"Itu mah bukan cowok gue. Tapi sahabat gue sejak SMP."


"Beneran cuma sahabat?" tanya Rian memastikan kebenarannya sekali lagi.


"Bener kok. Masa gue bohong? Bagas sama gue udah temenan sejak kelas 3 SMP sampai sekarang."

__ADS_1


Rian tersenyum senang. Ternyata hanya sahabatnya Ami. Senyum Rian makin mengembang, untunglah Ami tidak bisa melihat wajahnya yang amat bahagia mendengar kenyataan yang sudah lama dipertanyakan dalam dirinya.


__ADS_2