Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 46


__ADS_3

Pacaran itu bukan hanya tentang mesra-mesraan saja. Namanya saja pacaran, pengenalan karakter dan kepribadian masing-masing.


Saat masih berteman mungkin hal yang sepele tidak akan menjadi masalah. Berbeda saat pacaran, karena tidak angkat telepon atau lama membalas pesan aja bisa menjadi sumber masalah. Berantem saling adu argumen sudah menjadi makanan sehari-hari.


Berapa lama sih indahnya pacaran? Paling satu tahun. Sisanya adalah pertengkaran saat menyamakan pendapat. Yang terparah adalah perang dingin tak bertegur sapa dan memutuskan hubungan secara sepihak.


Itulah yang saat ini dialami Ami dan Rian. Hubungan mereka sudah dua tahun lebih. Rian melanjutkan kuliah lagi mengikuti jejak Ami. Bedanya Rian mengambil kelas weekend, jadi setiap sabtu selama sehari penuh Rian akan kuliah di kampus yang berbeda dengan Ami.


Kuliah-kerja-pacaran. Semuanya membutuhkan waktu. Saat sudah lelah dengan banyaknya aktivitas, tensi emosi semakin tinggi.


Hal-hal yang biasanya bisa dibicarakan baik-baik perlahan menjadi sumber kemarahan. Kurangnya komunikasi dan lelahnya kondisi tubuh untuk sekedar menjelaskan permasalahan membuat emosi meningkat.


Hasil akhirnya adalah putusnya hubungan mereka. Selama seminggu atau bahkan 2 minggu Ami dan Rian putus, Ami mulai menjalani hari-hari tanpa kehadiran Rian.


Pulang kerja dan kuliah seorang diri. Rasa kosong itu perlahan muncul. Ami mulai bergantung dengan adanya Rian disisinya.


Ami akan melunak dan akhirnya baik-baikin Rian dan mereka pun balikan lagi. Begitu seterusnya. Rasa cinta Rian terhadap Ami yang awalnya lebih besar seiring berjalannya waktu malah Ami yang lebih mencintai Rian dan mulai menginginkan hubungan yang lebih serius lagi ke depannya.


Rian bukannya mempermainkan Ami, Ia juga serius bahkan memperkenalkan Ami dengan keluarganya dan sering mengajak Ami ke rumahnya agar akrab dengan keluarganya juga. Tapi saat Ami menginginkan sesuatu yang lebih serius lagi, Rian mulai berpikir.


Kerjaannya bukan kerjaan yang mapan untuk menghidupi Ami dan anak-anak mereka kelak. Ia masih jadi karyawan kontrak yang mungkin tidak akan pernah diangkat jadi karyawan tetap. Ia masih kuliah, kalau menikah bagaimana dengan kuliahnya kelak?

__ADS_1


Ami sudah menyelesaikan kuliahnya dan memutuskan untuk pindah kerja. Mereka tak lagi satu kantor, namun Rian tetap mengantar dan menjemput Ami ke kantor meskipun jarak yang harus Ia tempuh makin jauh.


Rian menganggap hal itu pengorbanan, namun Ami merasa hal itu masih kurang. Saat Ia merasa dicintai, Ia akan menginginkan lebih dan lebih lagi dicintai. Ami mau hubungan mereka segera melangkah ke pelaminan.


Pekerjaan Ami mulai lebih mapan dari Rian. Ia bahkan sudah test karyawan tetap dan akan diangkat 3 bulan lagi. Ami mulai menabung untuk masa depan yang Ia idamkan dengan Rian.


Bagaimana dengan Rian? Rasa rendah dirinya kembali hadir. Kuliahnya belum selesai dan pekerjaannya tidak mengalami kemajuan.


Ami dan Rian mulai sering bertengkar. Ami mau Rian lebih serius dalam hubungan mereka namun Rian belum siap. Ia masih bergantung dengan kedua orang tuanya.


Ami mau Rian lebih romantis lagi tapi Rian bukan tipikal cowok romantis yang gampang menggombal seperti Bagas. Cowok pemalu sepertinya tidak bisa berbuat seperti itu.


Puncaknya adalah seminggu setelah valentine di tahun 2012. Mereka bertengkar hebat. Alasannya adalah Rian yang belum bisa serius sedangkan usia Ami sudah mendekati umur 25 tahun.


Rian menghela nafas dengan kesal. "Gue mau serius, Mi. Tapi lihat keadaan gue sekarang. Menikah tuh butuh biaya dan kematangan."


"Kalau kita mau, kita pasti bisa Yan. Lo kerja dan gue juga kerja, apa yang kita takutin? Rejeki akan datang dengan sendirinya nanti." balas Ami tak mau kalah.


"Gue juga percaya kalau kita memang jodoh toh kita akan menikah juga, Mi. Mungkin sekarang belum saatnya." kata Rian dengan kesal.


"Sebentar deh, kok jadi kesannya gue yang nguber-nguber lo buat nikahin gue? Umur gue udah hampir 25 tahun Yan. Gue gak mau maksa lo buat nikahin gue. Setidaknya kita mulai serius aja dengan hubungan kita. Kita sama-sama nabung buat biaya pernikahan kita kelak dari sekarang. Patungan. Ini kok selama ini cuma gue aja yang nabung, lo selalu boros dan gak pernah nabung." keluh Ami. Ia tidak peduli ada yang mendengarnya bicara saat di motor.

__ADS_1


"Iya nanti gue akan nabung." Rian masih gak mau ngalah.


"Kapan? Lo tau kan Yan, gue udah gak punya Bapak lagi. Biaya pernikahan tuh mahal, kalau kita gak nabung dari sekarang sampai kapan biayanya akan terkumpul?" air mata mulai membasahi mata Ami. Ia sudah kesal makin kesal dengan sikap Rian yang menurutnya seperti anak kecil. Setidaknya ajaklah Ami berhenti dan bicara di tempat yang tenang, eh ini malah bicara di motor sambil sesekali teriak-teriak kesal. Ah salah Ami kalau mengharapkan Rian akan seperti laki-laki lain.


"Kenapa sih lo gak bisa sabar Mi? Gue masih kuliah. Gue juga belum punya kerjaan tetap. Sabar. Masih banyak waktu." perkataan Rian bukannya meredam emosi Ami malah makin membuat Ami makin terbakar emosi.


"Berhenti Yan." Ami menyuruh Rian berhenti padahal belum sampai di depan rumahnya.


Rian tidak mau mendengarkan Ami, Ia terus saja melajukan motornya.


"Berhenti gue bilang!" kata Ami dengan nada penuh amarah.


Tak mau memperburuk keadaan, Rian pun memberhentikan motornya. Ami merapihkan tasnya dan turun dari motor Rian.


"Gue gak akan maksa lo lagi. Kalau lo emang gak mau... gue nyerah. Lebih baik kita putus Yan. Kali ini gue gak akan gangguin lo lagi." Ami pun berjalan meninggalkan Rian yang masih terdiam diatas motornya.


Ami berharap Rian akan mengejarnya namun Rian malah memutar balik motornya dan pergi meninggalkan Ami. Air mata Ami jatuh tak tertahankan lagi. Ia menyesal. Kenapa selama ini Ia yang selalu mengejar Rian? Bahkan sampai terakhir hubungan mereka Rian tak juga mengejar Ami karena berpikir bahwa Ami yang akan mengejarnya.


Ami berjalan kaki sampai ke rumahnya. Untunglah hanya sekitar satu kilometer saja. Ia tidak mau naik ojek, Ia ingin menenangkan dirinya sebelum sampai rumah. Ia tidak mau Ibu tau kalau dirinya habis putus dengan Rian.


Beberapa kali Ami mengatur nafasnya berusaha menenangkan diri dari rasa amarah dan sedih. Ternyata dirinyalah yang selama ini terlalu mencintai Rian bukan sebaliknya. Jika saja Ami tidak mulai mencintai Rian, maka Ia tidak akan semakin dalam dan akhirnya akan terluka lagi seperti ini.

__ADS_1


Ami menghapus airmatanya saat Ia sudah dekat dengan rumahnya. Setitik harapan di hatinya kalau Rian sudah menunggu di depan rumah hendak mengajak berbaikan. Tapi Rian tidak ada, tak seorang pun yang menunggu kedatangannya. Ia kini sendiri lagi. Menjadi jomblo kembali.


⚘⚘⚘ Maaf alurnya aku percepat karena ratingnya yang rendah. Banyak yang aku skip karena mempersingkat episode. Moga tetap sesuai jalan ceritanya dan kalian suka ya. Jangan lupa vote dan like oke? 😍⚘⚘⚘


__ADS_2