
Widi mengambil sebuah botol air mineral dan mulai memutarnya. Botol tersebut berputar dan berhenti di depan Aryo.
"Woke. Biar gue yang tanya ke Aryo." Widi langsung mengajukan diri.
"Nanyanya jangan macem-macem loh Wid. Kalo rese gak gue ajak di mobil gue!" ancam Aryo.
"Dih gitu! Suka-suka gue lah." Widi mulai tersenyum penuh kelicikan. "Aryo. Jujur atau makan mie racikan gue ini. Lo suka sama Heni karena apanya?"
"Ah gampang banget sih lo kasih pertanyaan Wid. Gak seru. Takut gak dianterin sampe pulang ya?" protes Richard.
"Eh itu belum selesai. Ada 2 pertanyaan cuy. Ini baru makanan pembukanya. Sabar." Widi mulai membela dirinya.
"Wid!" Aryo memelototi Widi namun Widi acuh saja. "Oke gue jawab. Ya karena Heni baik lah."
"Wuuuuuhhh.. basi jawabannya!" protes Fuad.
"Lah emang kayak gitu kenyataannya. Yaudah lanjut pertanyaan berikutnya!" tantang Aryo karena merasa tak takut dengan pertanyaan Widi.
"Gue yang nanya ajalah. Gak seru si Widi mah." Fuad mengambil alih tugas Widi. "Pernah selingkuh gak lo? Sama siapa?"
Ami tertawa mendengar pertanyaan Fuad. Level jahil Fuad jauh diatas Widi.
Tak mau menjawab pertanyaan Fuad, Aryo pun memilih memakan satu sendok penuh Pop Mie mercon buatan Widi. Semua yang melihatnya langsung tertawa kecuali sang pacar yakni Heni.
Tatapan setajam silet diajukan oleh Heni. Sambil kepedesan Aryo pun membuang pandangannya dari Heni.
"Ha..ha..ha... Mamam lo Yo. Makanya jangan bandel!" Bagas malah tambah membuat posisi Aryo makin sulit.
"Oke karena Aryo sudah gagal dan gak mau jujur, kita puter lagi ya botolnya!" Widi mengambil botol dan mulai memutarnya lagi. Sial baginya botol tersebut ternyata berhenti tepat di depannya.
"Sukurin lo Wid. Kena batunya lo. Gantian gue yang nanya!" kata Aryo dengan berapi-api. Widi yang punya ide gila ini harus Ia balas.
"Oke. Lo siap ya." ancam Aryo.
"Gak bisa udahan aja mainnya? Mending kita bakar-bakar jagung aja gimana?" Widi mulai berkelit.
"Gak bisa. Lo yang bikin nih permainan, lo juga yang harus tanggung jawab!" Fuad memicingkan matanya, pasti Ia akan mengajukan pertanyaan setelah Aryo.
"Udah diem dulu. Jawab nih pertanyaan. Gedean mana dadanya Silvy atau mantan lo Lia?" pertanyaan Aryo benar-benar parah, semuanya tertawa mendengar pertanyaan tersebut.
__ADS_1
Widi belum menjawab pertanyaan tersebut. Silvy pacarnya sejak tadi menatapnya tajam. Ini ibarat buah simalakama. Jawab jujur berarti Ia pernah melihat dada Lia dan Silvy. Gak jawab jujur, Pop Mie Mercon sudah menanti.
"Gue tambahin nih cabenya biar tambah seru!" Fuad menambahkan lagi 5 buah irisan cabe rawit merah ke dalam Pop Mie.
Ami dan yang lain tak kuasa menahan tawanya melihat Widi yang sedang bimbang. "Lo sih jahil. Kena sendiri kan lo!" celetuk Ami.
"Udah cepet jawab lo. Kagak jawab gue tambahin lagi nih cabenya!" ancam Aryo.
"Oke. Gue jawab. Gedean Silvy." Silvy pun langsung mencubit pinggang Widi sampai Widi kesakitan.
Bagas tertawa sampai tergelak dan meneteskan air mata. Bener-bener lucu ulah teman-temannya ini.
"Pertanyaan kedua biar gue aja." Fuad tersenyum penuh kelicikan.
"Gol, pinggang gue masih sakit nih dicubit Silvy. Jangan macem-macem pertanyaan lo." ancam Widi pada Fuad yang biasa Ia panggil Bagol.
"Lah siapa suruh lo bikin nih permainan?" elak Fuad.
"Liat aja nanti kalo lo kena gue bales lo." ancam Widi balik.
"Udah cepetan. Kelamaan dah!" kata Bagas tak sabar.
"Gak takut Weeeekkkkk!" Bagas tak gentar.
"Oke pertanyaan terakhir. Widi, pilih jujur apa makan Pop Mie mercon? Pertanyaannya adalah .... Paling lama berapa menit lo main sama Silvy?" pertanyaan paling menjebak yang Fuad tanyakan. Jika dijawab berarti Widi pernah berhubungan suami istri dengan Silvy namun jika tidak dijawab pun semua akan tahu kalau Widi berbohog melihat begitu lekatnya Ia dengan Silvy selama ini.
Bagas tertawa terbahak-bahak. "Mamam lo Wid. Mamam!"
"Gol, pertanyaan lo gila banget sih!" protes Widi.
"Ah pake malu-malu lagi lo sama kita-kita disini. Udah jawab aja." kata Fuad dengan santai dan tanpa dosa.
Widi melihat ke arah Silvy yang sejak tadi menundukkan wajahnya karena malu. "Maaf ya Sayang." Widi mengambil Pop Mie dan memakan satu sendok penuh Pop Mie mercon yang Ia racik sendiri. Ia pun langsung kepedesan dan minum air putih sampai 2 gelas air mineral.
Ami dan yang lainnya tak henti-hentinya menertawakan ulah Widi. Kejahilannya berbalik ke dirinya sendiri.
"Sini biar gue yang puter. Kasihan Widi udah KO!" Aryo mengambil botol dan mulai memutarnya.
Sial bagi Bagas, botol tersebut berhenti di depannya. Widi yang masih kepedesan langsung kegirangan mengetahuinya.
__ADS_1
"Yess! Waktunya balas dendam! Biar gue yang nanya sama si Kucrut ini! Siap-siap lo Gas!"
"Oke. Siap gue mah. Lo kan tau gue mah santuy. Lo jual, gue beli." jawab Bagas dengan sombongnya.
"Wah nantangin nih anak.... Oke, lo jual gue beli. Pertanyaan dari gue, lo pernah ciuman gak sama Ami?" tanya Widi dengan penuh semangat.
Ami yang mendengarnya langsung malu dan wajahnya pun memerah. "Apaan sih lo Wid nanya kayak gitu." protes Ami.
"Iya. Pertanyaan lo gak bermutu. Nanti gue yang nanya aja mendingan." protes Fuad.
"Jawab lo Gas. Pilih jujur apa makan nih Pop Mie mercon?" tantang Widi.
Bagas tak perlu waktu lama, Ia pun menjawab. "Ya jujur lah. Gue sama Ami belum pernah ciuman. Gampang kan gue jawabnya?" Bagas pun cengengesan merasa menang diatas angin. Ia sudah menduga mereka akan menanyakan tentang dirinya dan Ami.
"Lo sih Wid. Gue bilang juga apa, pertanyaan lo gak bermutu!" protes Fuad. "Nih liat pertanyaan yang gue ajuin."
Fuad melihat Bagas dengan serius. "Jadi, kapan lo bakalan cium Ami?"
"Ih itu mah bukan pertanyaan tapi tantangan!" Feby yang sejak tadi hanya diam memperhatikan pun ikut protes.
"Biarin aja Feb. Kita bikin Bagas makan tuh Pop Mie mercon. Udah ketengilan Dia dari tadi." sahut Widi.
"Jawab lo Gas!" tuntut Aryo.
Bukannya menjawab Bagas malah tersenyum. Ami yang awalnya menunggu jawaban Bagas sambil menunduk malu perlahan mengangkat wajahnya. Ia melihat ke arah Bagas yang sejak tadi hanya diam sambil tersenyum.
"Gas?" Widi mulai tak sabar.
Ami melihat ke dalam mata Bagas. Ia tahu Bagas akan segera menjawab, tapi senyuman di wajah Bagas diyakini Ami kalau itu bukan sesuatu yang baik untuknya.
"Sekarang." Bagas langsung memegang dagu Ami dan menciumnya di depan teman-temannya.
"Wooooooowwwwww.... gila.... Bagas gila!" teriak Widi dan lainnya.
Ami yang masih belum tersadar hanya diam saja saat Bagas menciumnya. Sampai akhirnya Bagas melepaskan ciumannya dan melihat Ami yang terdiam melongo.
"Cieeeee.... jadian.... jadian.... jadian.... jadian...." sorak teman-temannya.
Bagas tersenyum mendapat dukungan dari yang lain namun tidak dengan Ami. Saat kesadarannya datang Ia langsung bangun dan meninggalkan ruangan tanpa sepatah kata pun.
__ADS_1
Bagas langsung mengejar Ami. Ia tahu kalau Ia telah melakukan kesalahan. Entah dengan cara apa meminta maaf namun yang jelas Ia harus mengejar Ami terlebih dahulu.