
Halaman depan koran Poskota masih ada kolom Nah Ini Dia yang biasa dibaca sebagai hiburan. Menyajikan berita-berita konyol biasanya tentang perselingkuhan namun ada ilustrasi gambarnya yang dibuat lucu. Menyajikan berita dalam kelucuan dan kolom Nah Ini Dia banyak yang memfavoritkannya sebelum akhirnya ada koran Lampu Merah yang terlalu frontal memberitakan suatu berita yang banyak mengandung unsur pornografi hingga akhirnya namanya berganti Lampu Hijau.
Pak Budi menatap halaman depan koran Poskota yang Ia baca. Permasalahan politik ada di halaman depan bersebelahan dengan berita tentang kasus pembunuhan. Pak Budi hanya menatap saja koran yang Ia pegang, pikirannya sedang bercabang ke tempat lain.
Permintaan Ami yang ingin kuliah sebenarnya bisa dengan mudah Ia iyakan jika saja umurnya lebih muda 2 tahun. Pak Budi sedang galau. Dalam perhitungannya kuliah akan memakan waktu minimal 4 tahun, sedangkan Ia akan segera pensiun dalam waktu 2 tahun ke depan.
Bukannya Pak Budi membedakan kedua anaknya Akbar dan Ami. Ia merasa prioritas kuliah lebih baik diberikan kepada Akbar yang laki-laki karena Akbar toh akan menjadi kepala keluarga, sedangkan Ami akan dibiayai oleh suaminya kelak. Ia hanya bisa menguliahi satu anak saja, itu yang membuatnya galau.
Pak Budi membuang nafas berat. Bagaimana solusinya menghadapi masalah seperti ini. Ia menyesali mengapa perbedaan usia antara Ami dan kakak pertamanya begitu jauh. Kenapa Ami harus kuliah di saat usianya tak lagi muda?
Kalau saja Ami hanya terpaut beberapa tahun di bawah Ambar maka akan Ia usahakan mencari uang semampunya agar Ami dapat kuliah. Pak Budi bukan tidak melihat potensi yang Ami miliki. Ia tahu putri bungsunya berbeda dibanding dua kakaknya. Ia tahu Ami cerdas, bukan hanya pintar, tapi cerdas.
Pak Budi amat bangga dengan putri bungsunya tersebut, tanpa sepengetahuan Ami, Ia suka membanggakan kecerdasan Ami di depan teman-teman di kantornya. Betapa bangganya Ia saat Ami selalu mendapat rangking di sekolah. Baginya Ami adalah anak kebanggannya.
Saat Ami ngambek dan mengurung diri di kamar tadi, istrinya memberitahu kalau Akbar tidak mau kuliah. Ia mau dibelikan motor saja. Pak Budi tidak mau seperti itu, dipanggilnya Akbar.
Pak Budi akan membelikan Akbar motor dan akan membiayai kuliahnya. Dengan syarat, Akbar harus mencari uang dengan memanfaatkan motornya untuk ongkos kuliah. Setelah dihitung-hitung, uang Pak Budi akan cukup jika mengkuliahi dua anak dengan memangkas uang jajan mereka.
__ADS_1
Sayangnya maksud Pak Budi tidak disambut baik dengan Akbar. Akbar menginginkan keduanya, motor baru dan kuliah. Jika melakukan hal itu maka Pak Budi akan menjadi orang tua yang tidak adil terhadap Ami, Ia tidak mau itu.
Sekarang gantian Akbar yang ngambek. Terserahlah, Pak Budi tidak peduli. Ia sudah berusaha mengajak berunding namun anak laki-laki satu-satunya tersebut tidak mau menuruti keputusannya.
Pak Budi akhirnya membelikan Akbar sebuah motor. Setelah dua minggu lamanya Ami ngambek dan tak mau keluar kamar kecuali kalau perlu, akhirnya Pak Budi memberanikan diri memulai percakapan dengan putrinya tersebut.
"Mi, Bapak masuk ya." kata Pak Budi setelah mengetuk pintu kamar Ami.
Ami yang masih ngambek hanya diam saja sambil pura-pura membaca tabloid Bintang kesukaannya. Ami masih kesal karena permintaannya untuk kuliah tidak dituruti namun permintaan Akbar untuk dibelikan motor langsung dipenuhi. Ketidakadilan di rumah ini begitu jelas kentaranya.
"Ami tau kan kalo Bapak mau pensiun?" tanya Pak Budi membuka percakapan diantara mereka. Ia pun duduk di tempat tidur melihat putri bungsunya yang pura-pura membaca tabloid.
"Sebenarnya Bapak maunya Akbar yang kuliah. Dengan membelikan Akbar motor nanti uang jajan Akbar selama kuliah Ia akan cari sendiri, namun Akbar akhirnya tidak mau kuliah dan mau langsung kerja saja. Mungkin Akbar malu Bapak suruh Ia ngojek dengan motor barunya tersebut." Pak Budi menundukkan pandangannya, jelas sekali banyak hal yang Ia pikirkan.
Ami melipat tabloidnya dan menaruh diatas kasur. Ia melihat Bapaknya sedang banyak pikiran. Walau tidak begitu dekat dengan Bapaknya seperti anak perempuan pada umumnya namun Ami mengerti apa yang Bapaknya pikirkan. Rasa bersalah menyelimuti hati Ami. Ia sudah terlalu egois dengan keinginannya. Sekarang Ia tahu, bukannya Ia tidak dipenuhi keinginannya selama ini, tapi Ami tidak mau memberatkan kedua orang tuanya. Ia cukup tahu diri sehingga menahan setiap keinginannya.
"Kalau Bapak memang gak punya uang buat kuliahin Ami, gak apa-apa kok. Ami gak usah kuliah aja." akhirnya Ami mengalah akan keinginannya, seperti biasa.
__ADS_1
"Bukan itu maksud Bapak Mi. Ami boleh kok kuliah. Ami tinggal pilih mau kuliah dimana akan Bapak biayai. Tapi dengan satu syarat, Bapak gak bisa jajanin Ami. Bapak cuma bisa kasih ongkos naik angkot saja, gak bisa jajanin Ami seperti biasanya. Gimana, Ami mau?" Pak Budi mengangkat kepalanya melihat Ami yang terharu karena akhirnya bisa dikuliahi oleh Bapaknya tersebut.
"Beneran Pak?" tanya Ami masih tidak percaya dengan apa yang Ia dengar.
Pak Budi pun mengangguk. "Bener lah. Masa Bapak bohong sih sama Ami. Nih buktinya. Uang kuliah Ami udah Bapak siapin bahkan sampai Ami lulus juga cukup. Ini uang yang Bapak kumpulin dari lembur kerja setiap hari dan lembur di hari libur. Ami tinggal pilih aja ya mau kuliah dimana. Nanti Bapak lembur lagi buat nambahin uang kuliah buat Ami lagi."
Ami menangis terharu. Ia ingin memeluk Bapaknya namun karena selama ini Ia dan Bapaknya tidak terlalu dekat maka Ia canggung melakukannya. "Ami akan cari kampusnya Pak. Ami akan belajar yang bener dan gak suka nongkrong di Mall kayak anak mahasiswa lain. Ami janji. Makasih ya Pak."
"Yaudah sana keluar nonton TV jangan di kamar aja." Pak Budi pun bangun dan meninggalkan Ami yang sekarang sudah tersenyum senang dan tidak murung lagi.
Ami pun mulai mencari-cari kampus mana yang akan Ia pilih kelak. Banyak kampus yang mulai memperkenalkan diri ke sekolah Ami namun belum ada yang pas di hati Ami. Mau pilih yang swasta dan elit tapi Ami kasihan dengan Bapaknya.
Pak Budi tidak mempermasalahkan Ami mau pilih kampus mana tapi seakan ada sebuah feeling kuat yang membuat Ami menahan keinginannya tersebut. Lagi-lagi Ami berpikir panjang sebelum memutuskan sesuatu.
Kuliah paling cepat 4 tahun jika mengambil jurusan S1. Kalau seandainya tidak selesai tepat waktu gimana? Bapak Budi 2 tahun lagi pensiun, apa cukup uang pensiunnya membiayai kebutuhan sehari-hari dan harus membayar uang kuliahnya kelak?
Kenapa jarak usianya dengan Bapaknya terlalu jauh? Kenapa Ia harus kuliah saat Bapaknya sudah mau pensiun? Ia ingin seperti anak lain yang bahkan bisa kuliah sampai S2, tapi apa Ia tega memberatkan orang tuanya lagi?
__ADS_1
⚘⚘⚘⚘⚘ Hmm... Kira-kira keputusan apa ya yang akan Ami ambil? Ayo jangan lupa habis baca di vote dan like ya. Maacih 😘😘😘⚘⚘⚘⚘