
Cinta itu bukan hanya dari mata turun ke hati. Cinta itu bukan hanya harta dan materi. Terkadang cinta memang dibutakan oleh mata dan harta namun yakinlah tidak semua cinta akan seperti itu.
Dalam percintaan bukan hanya tentang menjadi istimewa di mata orang yang kita cintai. Menjadi diri sendiri di depan orang yang kita cintai tanpa harus menyembunyikan apapun itu lebih dari sekedar cinta.
Tak perlu menutupi kekurangan diri, cinta itu tentang menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Inilah yang Rian rasakan.
Pertama mengenal Ami, saat cewek yang lumayan populer di kampus tiba-tiba seenaknya meminjam fotokopian miliknya bahkan bertanya nomor handphonenya tanpa merasa risih sama sekali. Itu dinamakan keberanian. Jarang ada cewek yang seperti itu di dunia ini.
Bukan, ini bukan agresif. Ami memang meminta nomor handphone Rian namun tidak langsung mendekati Rian secara terang-terangan. Istilahnya mainnya halus. Ami menawarkan pertemanan, dan itu yang paling Rian inginkan.
Rian memang memiliki wajah yang tampan. Namun ketampanannya tidak terekspos karena sifatnya yang sulit bergaul dan pendiam. Setiap ada cewek yang mendekati dan bersikap agresif bisa dipastikan Rian akan takut dan menghindar. Berbeda dengan Ami, cewek satu ini membuat Rian makin penasaran.
Ami yang tetap santai berada diantara geng cantiknya tanpa merasa minder sama sekali. Ami yang pintar namun tidak mau berhasil sendirian dalam ujian makanya membagikan jawaban ujian kepada yang memintanya. Rian terus memperhatikan sikap Ami.
Mengobrol dengan Ami selalu ada topik pembicaraan baru. Ngegosipin orang dengan Ami pun seru dan tak akan bosan mengobrol dengannya. Rian bahkan berani mengutarakan pikirannya saat dengan Ami. Biasanya Ia menyimpan dengan rapat isi pikirannya tersebut, karena sifat pemalunya.
Kedekatannya dengan Ami perlahan menjauh saat Rian hanya sekedar iseng menanyakan tentang Intan. Ami mulai jaga jarak. Jarang nongkrong di kampus dan mereka jarang bertemu. Rian kembali menjadi orang yang pendiam. Hanya say hi saja tiap bertemu teman sekelasnya. Ada yang hilang.
Rasa nyaman itu perlahan hilang. Dan Rian benar-benar kehilangan itu semua. Rian mulai mencari tahu sejak kapan Ami menghindarinya. Jawabannya adalah sejak Ia menanyakan tentang Intan. Ah betapa menyesalnya Ia.
Rian pun memberanikan diri menelepon Ami. Sepertinya Ami sudah melupakan kekesalannya pada Rian, bahkan Rian mau melamar di kantor Ami. Semua itu agar Rian bisa dekat dengan Ami.
Satu kantor dengan Ami, bisa pulang dan pergi kerja bareng adalah suatu kebahagiaan yang Rian rasakan. Rian tak mau kehilangan kebahagiaan yang dirasakannya saat ini.
__ADS_1
Rian pun terpaksa kerja di kantor Ami. Cowok pendiam sepertinya harus bekerja sebagai telemarketing yang harus pintar bicara bukanlah pekerjaan yang mudah Ia jalani. Ia melakukannya semata-mata hanya agar bisa selalu dekat dengan Ami.
Namun hubungan mereka kembali memburuk karena emosi sesaatnya. Ia tak bisa terus menerus dalam keadaan seperti ini. Maka Ia pun memberanikan diri untuk mengutarakan isi hatinya.
Rencananya Ia mau mengutarakan isi hatinya saat mereka wisuda nanti, namun Ia tak bisa menundanya makin lama. Ia tak mau Ami beralih ke cowok yang menjemputnya di depan mall waktu itu. Cowok yang sama yang pernah menjemput Ami di kampus.
Rian langsung mengikuti langkah Ami yang pergi ke loker di saat jam kerja. Ia pun memberanikan diri mengutarakan isi hatinya. Disinilah Ia sekarang. Menunggu jawaban apa yang akan Ami katakan.
Hening. Sunyi. Rasanya waktu pun tak bergerak, hanya detak jantungnya saja yang berdetak cepat. Dalam hati Rian berdoa agar tak ada karyawan yang ke loker saat ini.
"Apa yang lo suka dari gue Yan?" Ami mengajukan pertanyaan setelah sebelumnya hanya berdiam diri saja.
"Semua. Gue suka lo apa adanya." jawab Rian dengan penuh keyakinan.
"Kenapa harus gue Yan?" terdengar nada ketidakpercayaan diri dalam diri Ami.
"Gue ke dalam duluan ya Mi. Gue tunggu jawaban lo." Rian pun meninggalkan Ami sendirian di loker.
Ami terduduk lemas. Kakinya tak kuasa menopang berat badannya. Ia masih tidak percaya, Rian beneran suka padanya. Bukan suka sama Intan.
Wajah Ami memanas dan memerah malu. Ami mengipasi wajahnya dengan kedua tangannya. Jantungnya masih berdebar, antara senang dan kaget. Apa boleh sekarang Ia berharap?
****
__ADS_1
Rian memberikan helm milik Ami yang kemarin Ami tinggalkan di motornya. Ini kode agar Ami mau diantar pulang olehnya.
Dengan malu-malu Ami menerima helm tersebut dan akhirnya pulang bareng lagi dengan Rian. Tak ada kata. Hanya debar jantung mereka yang berdegup makin kencang.
Rian yang juga masih malu sehabis mengutarakan perasaannya langsung pulang tanpa mampir dulu ke rumah Ami. Ia bingung mau bilang apa lagi.
Keadaan canggung diantara mereka terus berlangsung selama seminggu. Sampai akhirnya Rian memberanikan diri mengajak Ami jalan lagi ke Mall. Ia akan menagih jawaban Ami hari ini.
Rian pun mengajak Ami ke sebuah cafe yang tempatnya cozy dan pas buat kawula muda. Setelah memesan dua buah es kopi Rian pun siap menagih jawaban Ami.
"Pasti lo udah tau kan kenapa gue ngajak lo kesini? Seperti yang lo pikirin, gue mau nagih jawaban lo. Gimana Mi jawabannya?" tanya Rian untuk memecah kesunyian.
Ami memegang tangannya yang terasa dingin karena terlalu grogi. "Hmm.... Gue udah pikirin Yan. Gue.... terima lo jadi pacar gue."
Rian lalu menghela nafas lega. Senyum di wajahnya pun langsung mengembang. Tak sia-sia Ia menanti selama seminggu akhirnya jawaban yang Ami berikan membahagiakannya.
"Makasih ya Mi, lo udah mau nerima perasaan gue. Gue seneng banget." ucap Rian jujur.
"Tapi gue mau jujur nih Yan. Awalnya gue kenalan sama lo karena gue lagi taruhan sama Mala. Tapi setelah itu gue beneran mau temenan kok sama lo. Bener deh." aku Ami.
"Gak masalah Mi buat gue. Karena taruhan itu juga gue bisa kenal sama lo. Justru gue berterima kasih karena kejadian itu. Kalau enggak mungkin selama ini kita cuma say hi aja di kampus tanpa saling mengenal lebih deket. Gue gak tau gimana hidup gue kalau enggak ketemu sama lo. Mungkin gue masih jadi anak tertutup atau mungkin masih jadi pengangguran karena gak berani keluar dari zona nyaman? Yang pasti, mengenal lo itu anugerah buat gue."
"Justru gue yang berterima kasih sama lo, Yan. Gue ngerasa dihargai selama kenal sama lo. Semoga hubungan kita bisa awet ya. Jangan kaget kalau lo tau sifat gue sebenernya gak sebaik yang lo pikir."
__ADS_1
"Gak apa-apa. Lo bisa jadi diri lo apa adanya di depan gue. Begitu pun sebaliknya. Tujuan kita pacaran kan saling mengenal kepribadian masing-masing. Mungkin lo akan mulai mencintai gue, seperti gue yang duluan mencintai lo."
Perkataan Rian benar-benar membuat Ami terenyuh. Rian mencintai dirinya. Dirinya yang selama ini dianggap nothing menjadi something di mata Rian. Beginikah rasanya dicintai? Rian tidak tahu saja kalau Ami duluan yang sudah jatuh hati padanya.