Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 34


__ADS_3

Hari demi hari berganti menjadi minggu demi minggu dan bulan. Tanpa terasa kuliah semester 3 dan 4 berhasil Ami lalui. Ia sudah menguasai beberapa mata kuliah akuntansi.


Pekerjaannya yang hanya event tiap weekend tidak mengganggu waktu belajarnya. Meskipun tidak mendapat predikat cumlaude namun IPK diatas 3 selalu Ami dapatkan.


Tinggal setahun lagi. Semester 5 Ia mulai magang selama 2 bulan di salah satu perusahaan otomotif bersama 3 orang temannya.


Magang di perusahaan otomotif ini didapat Ami dengan mudah karena bantuan saudara sepupunya. Ia dan kelompoknya bisa magang dengan tenang karena perusahaan tersebut lumayan bonafit.


Dua bulan waktu yang lumayan cepat setelah itu Ami mulai mengikuti bimbingan Karya Akhir dengan dosen pembimbing. Ami sangat sibuk dengan kuliah dan pekerjaannya sampai tidak memikirkan laki-laki manapun.


Sampai pada hari minggu siang sesuatu yang tak pernah Ami bayangkan terjadi. Bapak Budi sakit keras. Keluarganya langsung membawa Bapak Budi ke rumah sakit.


Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan kalau Bapak Budi mengalami gagal ginjal. Upaya cuci darah sudah sia-sia, keluarga hanya bisa pasrah.


Satu-satunya jalan adalah operasi cangkok ginjal, itu pun keberhasilannya sedikit. Tak ada uang simpanan yang Bapak Budi miliki selain uang untuk kuliah Ami.


Keluarga Ami memutuskan membawa pulang Bapak Budi karena dokter sudah angkat tangan dengan kondisi Bapak Budi. Kondisi Bapak Budi terbaring lemas diatas tempat tidur kecil di ruang tamu yang memang sudah disediakan agar keluarga dapat selalu dekat dan bisa menjaganya bergantian.


Tak terhitung butiran demi butiran air mata yang Ami keluarkan. Ia selalu berdoa semoga Bapaknya sembuh.


Ya Allah, sembuhkanlah Bapak. Ami belum bisa membahagiakan Bapak. Ami hanya baru bisa mentraktir Bapak makan durian montong sekali saja. Ami belum bisa mengajak Bapak jalan-jalan dengan uang hasil kerja keras Ami. Jangan ambil Bapak dari sisi Ami ya Allah....-Ami.


Ami masih memiliki keteguhan hati dan menganggap kalau diagnosa dokter bisa saja salah. Bapaknya baik-baik saja dan akan sembuh. Setiap hari Ia selalu menyuapi Bapaknya susu dengan bantuan sendok. Lama kelamaan nafsu makan Bapak semakin berkurang.

__ADS_1


Beruntungnya Ami karena Ia tidak ada kuliah jadi Ia bisa mengurus Bapak selama seminggu penuh. Ami memandangi Bapaknya yang sedang tertidur. Sakit selama 2 minggu membuat tubuh Bapak menjadi amat kurus. Tak ada makanan padat yang bisa masuk dalam tubuh Bapak. Hanya susu cair dan air putih saja.


Sambil mengaji Ami memegangi tangan Bapak yang keriput dan kurus. Bapak yang selalu berbuat adil pada dirinya. Bapak yang selalu mengabulkan segala keinginannya. Bapak yang selalu membelanya jika Akbar berbuat semena-mena.


Lantunan ayat suci Al-Quran Ia selalu bacakan. Sesekali Bapak beristighfar saat merasakan sakit di tubuhnya. Ami merasa amat tidak tega. Ia merasa Bapaknya berat untuk pergi karena dirinya yang masih membutuhkan Bapak.


Ami memang egois. Ia tak mau Bapak pergi meninggalkannya. Ia mau Bapak tetap disisinya. Tapi saat melihat Bapaknya semakin kesakitan hatinya serasa amat teriris. Ia sudah jahat selama ini menahan kepergian Bapaknya.


Maka di hari kamis malam saat semua keluarganya terlelap karena kelelahan menjaga Bapak, Ami mengambil air wudhu. Ia membuka Al-Quran dan mengaji di samping Bapak. Sesekali Ia menyodorkan sedotan dan air putih agar Bapak bisa minum.


Bapak menatap Ami dengan pandangan sedih. Ami menghentikan bacaan Al-Qurannya. Ia menutup Al-Quran dan meletakkannya di samping Bapak. Ia lalu memegang tangan Bapak dan mengusapnya.


Air matanya mengalir lagi. Bapak juga menangis melihat keadaan anak bungsunya tersebut.


"Ami kemarin belum rela Bapak pergi. Ami yakin pasti Bapak akan sembuh.... Tapi Ami tau Bapak kesakitan selama ini..... Ami... Ami gak mau memberatkan kepergian Bapak. Kalau Bapak mau pergi, pergilah...." Ami menyeka kembali air matanya dan suaranya sudah serak sekarang.


"Ami ikhlas, Pak.... Ami ikhlas asal Bapak gak kesakitan lagi kayak gini." Ami menyeka air mata yang juga keluar dari mata Bapak.


"Bapak gak usah khawatirin Ami. Ami pasti bisa kok hidup dengan mandiri dan menjaga Ibu. Pergilah Pak.... Ami gak mau Bapak menderita kayak gini...." Ami pun menangis terisak. Ia sedih karena belajar ikhlas.


Ikhlas melepaskan kepergian orang yang selama ini jadi tumpuan hidupnya. Ikhlas saat harus melepas Bapak yang selama ini ibarat tameng yang melindunginya dari kejamnya dunia.


Ami menghapus air matanya dan mulai mengaji lagi. Tanpa terasa Ia mengaji sampai jam 3 pagi. Kakaknya Ambar yang sudah terjaga memintanya untuk tidur, Ia yang akan menjaga Bapak bergantian.

__ADS_1


Ami kembali ke kamarnya. Baru saja tidur selama 1 jam Ia mendapati tubuhnya diguncang-guncang dengan keras. Ami pun terbangun.


"Mi, cepet ke depan. Bapak... Bapak lagi sakaratul maut..." ujar Ambar sambil berderai air mata.


Ami langsung meloncat dari tempat tidurnya dan menuju ruang tamu. Terlihat Ibu berada di samping Bapak berusaha tetap tegar di saat-saat terakhir lelaki yang Ia cintai akan pergi.


Ami menatap kosong Bapak yang sedang di akhir ajalnya. Sampai akhirnya Bapak menghembuskan nafasnya yang terakhir. Bapak Budi pun pergi selamanya.


Kakaknya Ambar langsung jatuh pingsan. Akbar menangis tersedu-sedu. Ibu memeluk jasad tanpa nyawa milik Bapak. Ami berjalan mendekat dan langsung memeluk Bapak. Tangisnya pecah. Beberapa saudaranya berusaha menenangkannya dan memintanya untuk ikhlas melepas kepergian Bapak.


Mudah memang berkata, tak semudah melakukannya. Saat Ami semalam mengikhlaskan Bapak namun pagi ini Bapak pergi setelah dimandikan oleh Ambar dan setelah Bapak selesai sholat subuh. Meninggal di hari jumat pagi. Waktu yang amat indah untuk orang baik.


Ami masih melamun di depan jenazah Bapak. Para tamu mulai banyak berdatangan silih berganti mendoakan Bapak yang memang dikenal suka menolong saudara dan tetangga sekitar.


Ami terus menatap jenazah Bapak. Dalam pikirannya, Bapak hanya sedang tertidur pulas. Bapak pasti akan bangun lagi dan bisa sarapan pagi bareng dengannya. Namun Bapak sudah pergi dan tak akan kembali lagi.


Ami mengambil sebuah Surat Yasin yang diletakkan di dekat jenazah, siapapun yang ingin mendoakannya bisa menggunakan Surat Yasin tersebut. Ia mulai membaca Surat Yasin berkali-kali tanpa henti sampai tiba waktu Bapaknya di mandikan dan disolati di masjid.


Ini adalah wujud bakti terakhir untuk Bapaknya. Ia tidak bisa mentraktir durian montong kesukaan Bapak. Ia tidak bisa membelikan asinan sayuran kesukannya. Ia bahkan belum mengajak Bapak makan di luar dengan uang hasil kerjanya. Ia hanya bisa mengirimkan doa untuk Bapak. Doa dari anak soleh yang akan menghapus segala dosa Bapak selama di dunia ini.


Ami ikhlas melepas kepergian Bapak, namun Ia tak kuasa melihat Bapaknya dimakamkan. Ia melihat dari kejauhan saat pelayat yang banyak jumlahnya mengantar kepergian Bapak. Orang baik meninggalnya juga akan baik dan banyak orang yang akan kehilangannya.


Berbagai cerita tentang kebaikan Bapak banyak diungkapkan dari para tamu yang datang. Mereka memuji Bapak yang tidak segan membantu orang yang kesulitan. Bapak memang tidak kaya, tidak bisa mewarisi harta benda, namun amal kebaikkannya selama di dunia akan menjadi ladang pahalanya di akhirat nanti. Selamat jalan Bapak Budi.....

__ADS_1


__ADS_2