
⚘⚘⚘⚘ Siapa kubu Bagas? Siapa kubu Rian? Ayo dipilih-dipilih-dipilih.... Jangan lupa vote dan likenya ya. Cayyoooooo... ⚘⚘⚘⚘
"Udah siap Mi?" aura penuh persaingan dari Bagas dapat terlihat jelas.
"Ah elah. Gak usah lebay. Gue pasti kalah kalau tanding basket mah." Ami berdiri dengan pasrah di depan game basket di Time Zone.
"Jangan gitu Mi. Siapa tau hari ini lo lagi beruntung terus bisa menang. Ayo semangat!" Bagas menyemangati namun Bagas tau siapa yang akan menjadi juaranya.
"Udah cepetan ah. Lama banget masukkin koinnya!" omel Ami.
Bagas tersenyum, dalam hati Bagas selalu berkata: Nih cewek beneran gak ada jaim-jaimnya sama sekali. Langka!
Bagas memasukkan koin ke dalam game basket dan pertandingan pun dimulai. Walau dengan semangat penuh tetap saja Ami kalah. Kesal dengan kekalahannya Ami pun menjitak kepala Bagas yang lagi konsen bermain basket.
"Aduh! Sakit tau!" omel Bagas.
"Habis kesel!"
"Kalau kesel jangan jitak!" Bagas menghentikan bermain basket.
"Terus ngapain? Minta traktir lagi?"
"Ya cium lah." Tak... Ami pun menjitak kepala Bagas lagi.
"Udah ah bosen disini melulu. Gue mau lihat-lihat baju." Ami meninggalkan Bagas yang langsung bergegas mengejarnya.
"Lo sekarang ngutamain penampilan banget ya Mi. Beda sama dulu. Gue jadi inget dulu waktu SMP bahkan rambut lo tuh pendek banget kayak anak cowok eh pas gue ketemu sekarang lo beda banget." Bagas mensejajari langkah Ami sambil mengajaknya mengobrol.
"Ya jelaslah. Gue kan harus menjaga penampilan. Kalo gue enggak utamain penampilan gimana gue bisa dapet job?" Ami melangkahkan kakinya memasuki departemen store dan langsung menuju tempat pakaian perempuan. Matanya menjelah mencari baju yang diskon namun cocok untuknya.
__ADS_1
"Job apaan?" Bagas terus mengikuti langkah Ami yang sedang memilih pakaian. Tanpa malu dan gengsi Ami memilih pakaian diskonan di depannya. Baru kali ini Ia menemani cewek belanja diskonan, biasanya pacarnya beli di outlet dan malu untuk membeli barang diskonan. Lagi-lagi Ami memang beda, kayak selogan TV One ... Memang Beda...
"Gue tuh kerja jadi SPG. Niatnya gue mau nyari kerjaan event aja tiap weekend." Ami mengambil baju dengan tag diskon 50+20% dan mencoba mencocokkan di badannya. Setelah dirasa cocok Ia pun langsung menuju kasir.
"Sejak kapan? Kok lo gak cerita sama gue?"
"Sejak 3 bulan lalu. Pas liburan semester 2. Gimana mau cerita, nomor Hp lo aja gue gak punya?!" Ami menyerahkan baju yang hendak Ia beli pada kasir dan mengambil selembar uang seratus ribuan dari dompetnya.
"Maaf ya sejak malam terakhir kita berantem gue kayak menghilang di telan bumi. Gue bingung mesti gimana. Gue tau kalau perbuatan gue salah. Mau berubah juga gak bisa langsung. Mau minta maaf ke lo rasanya juga kurang pas. Kan gue dosanya sama Allah. Lebih baik gue minta maafnya sama Allah."
Walau berbicara dengan nada santai, namun Ami tahu kalau Bagas serius dengan perkataannya. "Baguslah kalo lo sadar. Berubah juga perlu proses. Selama lo niat berubah pasti lama-lama bisa kok."
"Iya. Oh iya Mi, kakak gue titip salam buat lo waktu itu. Kakak gue yang perempuan."
Ami mengambil baju yang sudah dibayar dari kasir. "Salam balik ya buat kakak lo."
Baru beberapa langkah dari kasir tiba-tiba Ami berhenti. Ami melihat perubahan wajah Bagas. Yang semula penuh senyum tiba-tiba berubah sedih.
"Maksudnya?"
"Kakak gue udah meninggal Mi." Bagas menghentikan langkahnya. Terlihat sekali kalau Bagas menahan kesedihannya selama ini.
"Ya ampun Gas. Gue turut berduka cita ya. Kapan meninggalnya? Kenapa? Kok lo gak ngabarin gue?" Ami langsung memberondong Bagas dengan berbagai pertanyaan.
"Kurang lebih 3 bulan setelah kita berantem. Kakak gue sakit demam berdarah. Pas ketahuan udah telat. Udah transfusi darah tapi tetep aja gak tertolong. Maaf ya Mi gak sempet ngabarin. Gue sibuk ngurusin pemakaman kakak gue." mata Bagas kali ini sudah berkaca-kaca. Tak bisa menyembunyikan lagi kesedihannya. Bagas terlihat kuat di depan pacarnya namun Ia tidak bisa berbohong di depan Ami.
Tanpa pikir panjang Ami pun memeluk Bagas. Ia tidak memperdulikan keadaan sekitarnya yang memperhatikan perbuatannya tersebut.
"Maafin gue ya Gas. Kalau tau keadaan lo kayak gini pasti gue akan dateng. Maaf banget." Ami pun terisak dalam pelukan Bagas.
__ADS_1
Dengan lembut Bagas mengusap kepala Ami. "Makasih ya Mi. Sekarang gue tahu kenapa kakak gue nitip salam sama lo saat Dia sakit." Bagas menghapus air mata yang akhirnya lolos dari matanya.
Tak mau menjadi tontonan banyak orang Bagas pun melepaskan pelukan Ami. Ia memasang senyum di wajahnya, memberitahukan dengan isyarat kepada Ami kalau Ia baik-baik saja.
Bagas lalu menghapus air mata di wajah Ami. "Kenapa jadi lo yang sedih Mi. Kan gue yang adeknya kakak gue?" Bagas tersenyum melihat Ami yang biasanya tegar bersedih. Ami yang biasanya berani menarik kerah cowok dan bersiap melayangkan tinjunya terlihat sisi feminimnya. Sisi lain yang baru kali ini Bagas lihat.
"Waktu itu gue sempet telepon rumah lo Gas." Ami menarik nafasnya, mencoba mengatur suaranya. "Sebulan setelah kita berantem. Gue gak tau nomor Hp lo tapi nomor telepon rumah lo ternyata masih sama. Lo gak ada di rumah. Kakak lo yang angkat."
Ami menghapus air mata di wajahnya. Ia juga merasa malu jadi bahan tontonan orang. "Pas kakak lo tau kalo gue yang telepon, Dia senang banget. Dia bilang lo sering cerita tentang gue. Dan Dia.... maksudnya kakak lo bilang ke gue kayak gini 'nitip Bagas ya Mi. Jagain Dia'. Gue gak nyangka kalau itu akan jadi pesan pertama dan terakhir dari Dia buat gue."
Bagas tersenyum lagi. Memang tidak salah kakak perempuan satu-satunya menitipkannya pada Ami. Ia tahu diantara sekian banyak pacar Bagas, hanya Ami lah yang sering Bagas ceritakan.
Saat kakaknya nanya kesulitan di sekolah, Bagas selalu bilang ada Ami yang ngajarin. Saat kakaknya nanya siapa teman dekat Bagas tanpa ragu Bagas jawab Ami, bukan Widi. Kakak Bagas tahu betapa spesialnya Ami di mata Bagas.
Bagas yang gampang punya pacar namun sulit punya teman dekat. Bagas yang terlihat kuat namun menyimpan banyak kesedihan. Bagas yang menebar senyum playboy cap kapak namun ternyata hanyalah anak yatim piatu yang kesepian. Semua itu hanya bisa Bagas tunjukkan pada Ami seorang.
"Yaudah gak usah sedih. Inget pesan kakak gue ya, lo harus jagain gue!" Bagas menagih janji yang Ami buat pada kakaknya.
Ami pun menganggukkan kepalanya. "Iya. Gak sedih lagi. Tapi beliin Mc Flurry yang pakai milo ya." Ami langsung tersenyum penuh arti.
"Ah dasar ya. Ujung-ujungnya minta traktir. Minta tuh yang mahal. Ini minta kok yang murah. Yaudah ayo kita beli. Sekalian gue beliin happy meal biar lo dapet mainannya."
"Yang bener?" mata Ami langsung berbinar kegirangan.
"Iya. Dasar lo ya. Memang beda...."
"Maksudnya?"
"Udah ayo cepetan. Mau dibeliin gak?" Bagas langsung berjalan duluan menuju Mc D.
__ADS_1
"Mauuuuu"