
Sejak Ami pulang dari Rumah Sakit bahkan Ibu Rian sudah seminggu pulang ke rumah sikap Rian masih murung. Dirinya yang pendiam semakin pendiam. Hal ini menarik perhatian Bapaknya.
"Kamu kenapa Nak? Bapak perhatiin kamu sekarang lebih murung. Ada masalah?" tanya Bapak Rian yang memang sengaja masuk ke dalam kamar Rian dan mengajak Rian yang sedang tidur-tiduran di kamarnya berbicara dari hati ke hati. Man to man istilahnya. Rian pun duduk dan membiarkan Bapaknya duduk di sampingnya.
"Gak apa-apa kok, Pak."
Bapak Rian yang berprofesi sebagai seorang guru BP tau jika ada anak yang memiliki masalah. Mau anak tersebut berbohong sekalipun Ia bisa melihatnya.
"Masalah Ami?" tebaknya.
Rian yang kaget karena tebakkan Bapaknya benar mengangkat kepalanya dan menatap langsung ke dalam mata Bapak. "Ibu cerita ya?"
"Enggak kok. Bapak cuma denger aja dari Ibu dan Ani kalau waktu Ibu dirawat Ami datang dan mau ikut mendonorkan darahnya. Lalu Bapak perhatiin sejak itu kamu jadi lebih pendiam dan murung, pasti karena kedatangan Ami ya?" Bapak Rian kalau bicara selalu dengan nada lembut, diajaknya anaknya ngobrol sambil bertukar pikiran. Cara itu lebih berguna dibanding marah-marah dan memaksakan kehendaknya pada sang anak.
Rian hanya bisa mengangguk. Bapaknya lebih mengenal dirinya yang tak akan bisa berbohong didepannya.
"Kamu masih suka sama Ami?"
Rian kembali mengangguk.
"Terus masalahnya dimana? Kalau kalian masih sama-sama suka kenapa enggak dihalalin aja?"
Rian spontan mengangkat kepalanya. Tak percaya dengan apa yang Ia dengar. "Maksud Bapak apa?"
"Kalau kamu sudah yakin dengan Ami, sana... pergilah... lamar Dia."
"Tapi Pak-"
"Apa yang bikin kamu ragu?"
"Rian takut Ami sudah punya pacar Pak." jawab Rian dengan jujur. Rian sadar kalau di sisi Ami selalu ada Bagas. Bukan tidak mungkin setelah mereka putus Ami akan kembali pada Bagas?
"Memang sudah kamu tanyakan sama Ami?"
__ADS_1
Rian menggeleng lagi.
"Itu kan hanya persepsi kamu aja Yan. Makanya kamu tanya langsung sama Ami. Biar diantara kalian gak ada lagi perbedaan pendapat. Biar clear lah istilahnya. Jangan menduga-duga sendiri." nasehat Bapak.
"Tapi Rian belum siap Pak kalau menikah. Bapak lihat sendiri kerjaan Rian kayak gini. Belum semapan Ami yang sudah jadi karyawan tetap sebuah perusahaan besar." Rian kembali mengungkapkan isi hatinya pada Bapak.
"Kalau masalah biaya nikah, kamu gak usah khawatirin. Biar urusan Bapak. Masa sih kamu mau nikah Bapak gak biayain? Ya meskipun gak mewah tapi Bapak bisa lah biayain nikahan kamu. Dan mengenai pekerjaan kamu, setelah kamu nikah maka rejeki akan datang sendiri. Kamu harus yakin itu."
Bapak menatap Rian yang mendengarkan perkataannya dengan serius. Ia pun melanjutkan lagi perkataannya.
"Memang sih sekarang Ami sudah punya pekerjaan mapan, nanti kan kalau kalian bekerja sama dalam mencari rejeki pasti bisalah kalian maju. Dari awal Bapak yakin. Ami tuh anak yang baik. Dari keluarga baik-baik juga. Kalau Ami gak baik, mana mungkin Ia mau jauh-jauh datang menjenguk Ibu? Dari situ aja Bapak sudah bisa menilai seberapa baiknya Ami."
"Kalau Ami gak mau sama Rian gimana Pak?" ternyata Rian masih tidak percaya diri.
"Kamu kan belum mencobanya Nak. Coba aja dulu. Dan Bapak jadi ingat dengan doa kamu saat kamu umroh dulu. Kamu bilang kan kalau memang kamu ingin dipertemukan dengan jodohmu paling lama setahun setelah kamu umroh. Bapak hitung-hitung sih memang tepat kamu bertemu dengan Ami lagi setelah setahun. Mungkin ini jawaban dari Allah kalau Ami memang jodoh kamu." Bapak beranjak bangun dari duduknya. Ia menepuk pelan bahu Rian yang terlihat sedang memikirkan semua perkataannya.
"Kamu pikirin baik-baik. Semua keputusan ada di tangan kamu. Kalau kamu memang ingin menikahi Ami, Bapak akan dukung sepenuhnya."
Agar anak lelakinya tidak frustasi, Bapak pun mengajak Rian pergi umroh. Sepulang umroh Rian mulai menata hidupnya lagi. Mulai mencari pekerjaan dan menyelesaikan kuliahnya.
******
Rian mencari nomor Hp Ami yang masih tersimpan di Hpnya. Dicobanya menelepon ke nomor Ami namun ternyata nomor Ami sudah tidak aktif lagi.
Ani... Ani pasti punya nomor Ami. Kemarin kan Ami dan Ani saling menelepon saat di rumah sakit.- Rian.
Rian langsung menuju kamar kakaknya yang terletak di lantai bawah. Dengan malu-malu Ia meminta nomor Hp Ami. Ani yang sudah diberitahukan oleh Bapak dan Ibu agar mendukung jika Rian ingin kembali dengan Ami pun memberikan nomor Ami tanpa banyak bertanya.
Rian kembali lagi ke kamarnya untuk menghubungi Ami. Setelah dua kali panggilan tak terjawab Ami pun mengangkat teleponnya.
Ami : Hallo
Rian : Hallo, Mi. Ini gue..... Rian
__ADS_1
Ami : Ri...an? Ehem.... kenapa ya?
Rian : Em.... Besok lo ada waktu gak Mi?
Ami : Ada. Besok kan libur hari sabtu. Emang kenapa ya?
Rian : Gak apa-apa. Ada yang mau gue omongin sama lo. Bisa kita ketemu? Atau gue jemput lo aja?
Ami : Errr... gak usah jemput Yan. Kita ketemuan aja. Nanti gue dateng kesana aja bawa motor sendiri.
Rian : Yaudah kita ketemuan jam 11 ya di Mc D Mall A aja gimana?
Ami : Boleh
Rian: Oke. Sampai ketemu besok ya Mi. Dah.
Sambungan telepon pun diputus. Rian heran dengan debaran di jantungnya. Ini kan bukan pertama kalinya mereka teleponan, kok rasanya seperti saat masih kuliah bareng dulu ya. Sudahlah yang penting besok Ia akan bertemu dengan Ami dulu.
Seperti halnya Rian, Ami pun masih menenangkan debaran di hatinya.
Kenapa Rian ngajak ketemuan ya? Untuk apa? Ibu kayaknya udah sehat dan baik-baik aja deh. Apa Dia mau ngajak balikkan? Enggak....enggak... pokoknya kalau Rian ngajak balikkan harus gue tolak. Rian gak pernah berubah dari dulu. Gak pernah serius. Pokoknya gue gak akan terima kalo Dia ngajak balikkan. Titik.- Ami.
*****
Rian langsung mengambil jaketnya dan kunci motor. Ia pun mengemudikan motornya menuju mall dekat rumahnya. Uang di sakunya hanya tinggal satu juta dan gajian masih seminggu lagi. Seharusnya Ia menunggu habis gajian saja ketemu Ami namun Ia sudah tak sabar. Lampu hijau dari Bapak sebagai pertanda Ia harus memperjuangkan cintanya sebelum diambil orang.
Rian menuju toko perhiasan perak. Dibelinya sebuah kalung perak yang amat cantik. Sebenarnya Ia mau membeli kalung emas, bahkan kalung berlian. Namun Ia tak punya uang.
Tanpa sepengetahuan Ami, Rian ternyata selama ini menabung untuk biaya menikah mereka tapi Ia nabungnya di Ibunya. Tapi sayang Ami tak sabar menunggu tabungannya terkumpul dan sudah memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka berdua.
Sudahlah, yang lalu biar berlalu. Besok adalah penentuan apakah Ami benar-benar jodohnya atau bukan.
Maaf ya Mi. Gue baru bisa beliin perhiasan perak. Semoga nanti gue bisa beliin lo yang lebih baik lagi dari ini-Rian.
__ADS_1