
Malam minggu, Ami hanya memandangi layar TV dengan pikiran yang entah berkelana kemana. Sudah sebulan Ia putus dengan Rian. Putus terlama selama mereka berpacaran.
Ami sudah menghapus nomor Hp milik Rian untuk mencegahnya bersikap mellow dan akhirnya menelepon Rian untuk minta balikan lagi. Cukup. Sudah cukup. Ia tidak mau mengemis cinta lagi.
Prinsip hidup Ami adalah Ia akan hidup bersama laki-laki yang lebih mencintainya daripada dirinya yang mencintai laki-laki tersebut. Kenapa? Karena saat menikah kelak Ia akan menjadi ibu dari anak-anak laki-laki tersebut. Jika laki-laki tersebut tidak mencintainya melebihi cintanya bisa saja laki-laki tersebut akan pergi meninggalkannya suatu hari nanti dengan wanita yang Ia cintai.
Ami memandangi Hp Blackberry miliknya. Hp yang dibelikan oleh Rian dengan menyicil selama 6 bulan. Hp yang sama seperti yang Rian miliki. Tak ada pesan ataupun telepon masuk dari Rian. Apa mungkin Rian memang senang jika hubungan mereka putus?
Baru saja Ami hendak menaruh Hpnya ketika ada bbm masuk. Dari teman-teman SMPnya.
"Woi jalan yuks." ajak Aryo.
"Ayo. Kemana?" balas Widi.
"Puncak. Sewa vila, gimana?" balas Aryo lagi.
"Siapa lagi nih yang mau ikut? Gak ada yang comment nih selain gue sama Aryo?" Widi mulai memancing agar ada yang mau ikut lagi
"Gue ikut." komentar Ami.
Bagas yang memang bergabung dengan group yang sama dan melihat Ami komentar pun langsung merespon.
"Gue juga ikut." balas Bagas.
"Tumben lo ikut Nyuk? Karena ada Ami?" Balas Widi lagi.
"Lagi libur kerja gue. Ayo jalan sekarang. Kumpul di rumah gue aja." balas Bagas lagi.
"Oke. Naik mobil gua aja ya. Nih Feby sama Heni ikut juga. Kita ketemuan di rumah Bagas ya."
"Oke." jawab semuanya kompak.
*******
Ami sampai di rumah Bagas. Sudah ada banyak orang yang datang. Hanya menunggu Ami saja.
"Gue telat ya? Sorry tadi habis nunggu angkot penuh terus." kata Ami berbasa-basi padahal mah Ia susah membujuk Ibu Budi untuk memberi ijin.
"Udah santai aja Mi. Kita kan gak ada absen. Gak telat kok." jawab Aryo. "Ayo kita jalan. Udah lengkap semua nih."
__ADS_1
Aryo menghitung jumlah anggota yang akan ikut ke Puncak. Aryo, Widi dan pacarnya, Bagas, Ami, Feby, Heni, Fuad dan Richard.
"9 orang cuy. Gak muat mobil gue." keluh Aryo.
"Buka jok penumpang lo. Kita duduk dibawah, Lo sama Heni aja di depan. Gimana?" saran Widi agak gila sih tapi ada benernya juga.
"Boleh. Gue nitip kursi jok di rumah lo ya Gas?" tanya Aryo.
"Iya taro aja."
Tak lama mereka pun mencopot jok mobil Aryo dan semua penumpangnya duduk di tikar. Mereka pun langsung pergi ke Puncak.
Bagas duduk di samping Ami dan menyandarkan kepalanya di bahu Ami. Ia masih ngantuk karena belum lama pulang kerja. Bahu Ami yang nyaman membuat Bagas langsung tertidur lelap.
Ami membiarkan saja bahunya dipakai oleh Bagas. Ia tahu Bagas amat lelah seharian bekerja dan langsung pergi ikut jalan-jalan.
Jalanan puncak mulai lengang karena mereka berangkat sudah lebih dari jam 11 malam. Di dalam mobil tak henti-hentinya Fuad bercerita yang lucu-lucu. Ami bahkan melupakan patah hatinya dan ikut tertawa.
Bagas terbangun karena suara tawa teman-temannya yang terdengar berisik sekali. "Udah sampe mana nih Mi?" tany Bagas setelah kesadarannya mulai terkumpul.
"Taman Safari." jawab Ami. "Udah tidur lagi aja kalo lo ngantuk."
"Gue baik-baik aja." jawab Ami.
"Lo masih kerja di daerah Matraman Mi?" tanya Bagas lagi memulai percakapan diantara mereka.
"Udah resign. Gue kerja di daerah Pusat sekarang."
"Enak dong? Dilihat dari penampilan lo sekarang kayaknya kerjaan lo nyaman ya."
"Penampilan gue maksunya gue gendut sekarang?" Ami menyimpulkan sendiri perkataan Bagas.
"Yaelah lo sensi banget deh. Habis putus cinta Neng?" Bagas masih saja menggoda Ami.
"Iya. Sebulan yang lalu." jawab Ami dengan jujur.
"Hah? Beneran lo baru putus? Kapan pacarannya? Sama siapa?" Bagas langsung memberondong Ami dengan berbagai pertanyaan.
"Beneran. Masa sih gue bohong sama lo? Gue udah pacaran 2 tahun lebih Gas sama temen gue sejak di bangku kuliah."
__ADS_1
"Kenapa lo gak cerita sama gue?"
"Emangnya kenapa gitu gue harus cerita sama lo?" tanya balik Ami tak mau kalah.
"Ya biasanya lo kan apapun cerita sama gue Mi." kata Bagas malu-malu.
"Salah sendiri lo selalu sibuk? Gue BBM senin dibalasnya Sabtu. Udah gitu dibales cuma pake emoticon aja lagi. Ngeselin banget kan lo?"
"Ha...ha..ha.. gitu aja ngambek, Mi. Lo tau kan namanya kerja di pabrik jarang bisa pegang Hp. Pas mau bales lo udah lupa saking banyaknya kerjaan."
"Iye...iye... banyak banget alesan lo Gas. Bilang aja lo sibuk pacaran. Pake bilang sibuk kerja lagi."
"Ah lo mah gak pernah percaya Mi sama gue. Beneran sibuk nyari duit gue. Nih buktinya, minggu besok mobil gue turun. Tuh hasil kerja keras gue selama ini." pamer Bagas dengan bangganya.
"Wuih keren banget lo. Kapan ya gue bisa kayak lo?" Ami sangat iri karena pada akhirnya Bagas bisa lebih maju dibanding dirinya.
"Lo pasti bisalah lebih dari gue. Lo kan S1, bukan tamatan SMA kayak gue. Asal lo mau nabung pasti bisa kok."
"Ish... omongan lo kayak Ibu gue aja. Makin tua pemikiran lo ye."
"Emang bener kok. Coba aja lo buktiin sendiri."
Ami memikirkan perkataan Bagas. Sejak lulus kuliah Ami menjadi konsumtif. Ia merasa gajinya setiap bulan harus dinikmati karena itu Ia membeli barang-barang branded. Kalau bukan karena niatnya untuk serius dengan Rian, maka Ia sama sekali tidak akan menabung dan terus berfoya-foya.
Mobil Aryo pun sampai di depan sebuah villa yang biasa mereka sewa kalau mau nongkrong di Puncak. Sudah perjanjian kalau mereka akan patungan untuk membayar biaya sewa nantinya.
Aryo dan Widi selaku ketua pelaksana jalan-jalan hanya menyiapkan popmie 1 karton dan air mineral gelas untuk bekal mereka. Untunglah tadi di jalan mereka bertemu tukang jagung dan membeli untuk acara bakar-bakar nanti.
"Nih gue beli kopi di mini market depan. Buat modal begadang kita malam ini." Widi menyerahkan serenceng kopi yang Ia bawa. Masing-masing membuat sendiri kopi di gelas bekas air mineral.
"Jadi, kita buka sesi tanya jawab. Yang gak mau jawab jujur hukumannya makan satu sendok penuh Popmie super pedas buatan gue ha...ha..ha.." Widi pun membuat dua bungkus Pop Mie, masing-masing ditaburi 20 buah cabe yang sudah diiris halus.
"Wah parah lo Wid. Mainannya kejem bener. Gue kan takut pedes." protes Feby.
"Makanya harus jawab jujur kalo gak mau perut lo mules-mules besok. Tenang aja, gue udah stok diatabs buat pencegahan. Jangan sampai besok ada yang moncor di mobilnya Aryo ya!" Widi memang niat banget bikin acara sampai sedia obatnya segala lagi.
"Oke setuju. Tinggal jujur aja apa susahnya?" tantang Bagas.
"Oke. Permainan kita mulai!"
__ADS_1