Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 26


__ADS_3


Pandangan mata Ami tak lepas memperhatikan seorang mahasiswa yang Ia yakini tidak pernah Ia lihat keberadaannya sama sekali di kampus. Siapakah Dia? Mahasiswa jurusan Manajemen Keuangan juga atau mahasiswa bodong kayak Ami yang suka gabung ikut kelas teman-temannya di jurusan Marketing.


Ami menyikut lengan Mala. "Sst... itu siapa Mal?"


"Oh itu dosen Akuntansi Biaya, Pak Bambang. Emang lo gak kenal?" Mala ternyata salah sambung. Yang Ami tunjuk bukan Pak Bambang yang sudah hampir sepuh, tapi cowok bening yang berjalan mengiringi di belakan Pak Bambang.


"Bukan Mal. Itu yang pake jaket merah. Yang lagi jalan di belakang Pak Bambang. Kalo Pak Bambang sih kenal." kata Ami kesal melihat Mala gak nyambung dengannya.


"Mana sih?" Mala mencari keberadaan mahasiswa tersebut sambil memanjangkan lehernya.


"Tuh yang duduk di samping Harry. Lo kenal gak?"


Mala melihat ke arah tangan Ami yang menunjuk seorang mahasiswa berjaket merah maroon dan duduk di samping Harry dan Ila yang memang selalu bersama karena berpacaran.


"Gue gak kenal Mi. Gue juga baru liat. Kenapa emangnya?" Mala masih gak ngerti kenapa Ami begitu penasaran dengan cowok tersebut.


"Kok gue baru lihat ya ada tuh cowok. Dia mahasiswa jurusan Manajemen Keuangan juga?" pandangan mata Ami masih belum lepas dari cowok tersebut.


"Eh iya ya. Tapi kalo bukan mahasiswa kok akrab banget sama Harry? Sama Ila juga akrab juga. Temenan kali mereka."


"Bener juga sih. Ganteng Mal. Seger mata gue liatnya."


"Bisa aja lo Mi. Nanti pas daftar absennya sampai sini kita lihat ya namanya siapa. Tuh Dia lagi ngisi daftar absen."


Ami melihat lagi ke arah mahasiswa ganteng tersebut, Ia sedang mengisi absen dan menyerahkan ke Harry. Berarti namanya sebelum Harry ya. Makij tak sabar Ami menunggu datangnya absen sampai ke tempatnya. Ah Ia menyesal duduk di belakang.


Sementara itu Pak Bambang sudah memulai kelasnya. Ami mencatat penjelasan Pak Bambang dari proyektor. Selesai plastik berisi materi berganti lagi dengan materi lain. Maklum proyektornya masih manual. Pakai plastik yang isinya hasil print materi. Malah kadang pakai tulisan tangan sang dosen.


Absen manual pun akhirnya sampai ke tangan Ami. Ami langsung menelusuri barisan awal absen. Tepat satu nama diatas Harry. Rian Adi Nugroho. Ia mengisi daftar hadir berarti memang benar mahasiswa satu jurusan dengan Ami.

__ADS_1


"Siapa namanya Mi?" perkataan Mala membuyarkan pikiran Ami.


"Rian Adi Nugroho. Gue masih heran Mal. Radar gue tuh masih bisa mendeteksi cowok ganteng bahkan sekecil apapun di kampus ini. Kok gue gak pernah ngeliat tuh cowok ya?"


"Yaelah Mi. Masih ada dibahas. Udah sana kenalan kalo lo penasaran. Ngeliat lo yang cantik kayak gini mah tuh cowok gak bakalan nolak lo kali."


Ami tersenyum mendengar pujiannya. Penampilannya memang sudah berubah. Lebih girly. Namun kalau Ia bergabung dengan Geng Cantiknya maka Ia akan kembali menjadi upik abu. Ami sudah rendah diri duluan sebelum menghadapinya.


"Malu ah Mal. Belum tentu juga Dia mau sama gue." Ami tertunduk malu sambil mencatat materi yang dosennya berikan.


"Yaudah jadiin gebetan aja kayak biasa. Gebetan banyakkin. Kalo Dia gak suka sama kita kan gak terlalu sakit hati. Jangan sampe jatuh cinta aja, begitu kan yang lo ajarin?" perkataan Mala membawa angin segar dan tiba-tiba sebuah ide melintas di pikiran Ami.


"Bener juga ya jadiin aja gebetan. Gak sakit hati banget jadinya kalo Dia gak suka. Boleh deh. Biar kita gak bosen ngadepin semester ke depannya, gimana kalo kita punya gebetan masing-masing. Lo sama Farid, dan gue sama Rian. Gimana?"


"Boleh aja. Nanti obrolan kita seputar gebetan kita ya. Kayak kita lagi ngefans sama Oppa Korea."


"Iya. Biar kita semangat kuliahnya. Eh tapi kalo kayak gitu doang gak seru sih. Hmm.... lo punya nomor Hpnya Farid gak?" tanya Ami.


Mala menggelengkan kepalanya. "Gak punya."


"Kayak lo berani aja minta nomor Hp Rian?" tantang Mala.


"Yeh berani gue mah. Ayo kita mulai taruhannya. Main cepet-cepetan dapet nomor Hp gebetan kita masing-masing. Berani gak?" tantang balik Ami.


"Emang lo berani gitu Mi?" Mala seakan menyangsikan keberanian Ami. Kalau Farid sih Ia bisa minta sama yang lain. Tapi Rian? Gak mungkin langsung minta sama Harry, bisa curiga nanti Harry sama Ami. Jangan bilang kalo Ami akan berbuat nekat.


"Mau kapan? Selesai mata kuliah ini? Boleh aja." Ami mah jangan ditantangin, makin berani Dia.


"Serius lo Mi?" Mala masih gak percaya Ami akan berbuat nekad.


"Iya, gak percaya banget sih lo sama gue. Gini aja deh, kalo gue berhasil minta nomor Hp Rian, lo traktir gue roti bakar di warkop ya." daya saing dan sifat matrealistis Ami pun keluar. Peluang nih, bisa dapet roti bakar gratis sekaligus dapet nomor Hp dari Rian Ganteng.

__ADS_1


"Oke. Deal. Roti bakar doang mah kecil. Tapi gue minta nomor Hp Farid dari temennya aja ya si Robi. Gue gak berani minta langsung." Mala menunjukkan sifat pemalunya.


"Iya gak apa-apa. Lo liat ya gue abis pelajaran ini akan beraksi."


Mala tak sabar melihat ulah Ami. Ia tahu temannya itu memang agak beda. Ia melihat kesungguhan di dalam mata Ami, pasti akan Ami lakuin deh.


Benar saja, saat selesai pelajaran Ami tiba-tiba sudah maju ke depan. Ia bergabung dengan Rian dan Harry yang sedang mengobrol dengan anak-anak kutu buku lainnya.


"Hmm... fotokopiannya banyak ya. Aduh punya gue gak lengkap nih." Ami mulai bergabung dengan percakapan antara Rian dan teman-temannya.


"Sebentar deh, kayaknya lo yang biasanya duduk di depan kan. Pasti fotokopian lo lengkap deh. Iya kan?" Ami langsung menunjuk ke arah Rian. Rian agak bingung melihat Ami yang langsung sok akrab dengan dirinya.


"Gue?" Rian menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kemarin gue liat fotokopian lo banyak deh. Boleh pinjem gak?" Ami memasang wajah tanpa tolakan yang biasanya Ia pasang kalau sedang merajuk pada Bagas.


"Tapi gue gak bawa. Ketinggalan di rumah." jawab Rian.


"Boleh kan gue pinjem?" tanya Ami lagi memastikan. Ami diam-diam mencuri pandang cowok di hadapannya tersebut. Ganteng. Enak banget dilihatnya. Gak ngebosenin. Kok bisa ya Ami gak nyadar ada cowok seganteng ini di kampusnya?


"Oh boleh kok. Besok gue bawain. Lo besok ada kuliah Akuntansi Biaya kan?" Ami yang masih memandang Rian berusaha menstabilan kegugupannya.


"Ada. Jam 11 siang kan? Hmm... gini aja deh. Boleh minta nomor Hp lo gak? Nanti gue Sms biar lo gak lupa gitu, gimana?"


Rian memandang Ami sebentar. Ia masih tidak percaya, cewek setenar Ami meminta nomor Hpnya. "Boleh. Ni nomor Hp gue."


Ami mengeluarkan Hpnya dan mencatat nomor Rian. "Oke. Nanti gue ingetin ya biar lo gak lupa."


"Iya." Rian pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Makasih ya. Yuk gue duluan." Ami pun meninggalkan Rian. Ami menatap Mala yang masih bengong tak percaya melihat kelakuannya.

__ADS_1


Bener-bener nekat nih anak- Mala.


Ami melambaikan tangannya ke arah Mala. "Mal, ayo kita makan roti bakar." senyum penuh kemenangan pun terpancar dari wajah Ami.


__ADS_2