Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 31


__ADS_3

⚘⚘⚘ Hi semua! Maaf ya aku baru update sekarang. Lagi super sibuk pake banget. Ayo siapa yang sudah berubah dari Team Rian jadi Team Bagas atau sebaliknya? Sabar, walau ceritanya aku pendekkin tapi gak mengurangi inti dari cerita ini kok. Jadi tetep vote dan like ya jangan lupa! 🥰🥰😘😘😘⚘⚘⚘⚘⚘


Menjadi mahasiswa bukan sekedar aktif organisasi, nongkrong di cafe atau kantin, main facebook di warnet atau nonton bareng di bioskop. Iya itu untuk mahasiswa yang memiliki orang tua yang keadaan perekonomiannya lebih dari cukup alias mapan.


Bagaimana kalau yang orang tuanya petani dan anaknya harus mencari ilmu di Jakarta sampai harus membiayai biaya kostannya segala? Tentunya keadaan sang anak harus prihatin dengan keadaan orang tua. Harus berhemat dengan uang saku yang orang tuanya berikan sampai uang saku berikutnya bulan depan.


Indomie ibarat suatu anugerah bagi anak kost. Makan indomie satu bungkus dengan nasi sudah membuat perut kenyang sampai sore, itu pun kalau makannya digabung antara sarapan dan makan siang. Lumayan irit.


Ami sedang di kostan temannya Intan yang merupakan anak seorang petani yang harus menimba ilmu di Jakarta. Ami memang sering ke kostan Intan kalau menunggu jam kuliahnya dimulai.


Ami memperhatikan kehidupan Intan yang bisa dibilang prihatin dan ngirit. Ia sarapan + makan siang digabung jadi satu yakni jam 11. Menurut Intan Ia akan lapar lagi nanti sekitar jam 5. Sehari 2x makan cukup.


Jangan mengasihani Intan. Keliatannya aja ngirit padahal mah rumahnya di Cianjur sana mewah. Iyalah, Bapaknya bukan petani kecil. Tanahnya luas dan banyak. Karyawannya banyak. Dan satu lagi, Intan anak perempuan satu-satunya, kedua kakaknya laki-laki.


Kenapa Intan sampai ngirit padahal orang tuanya sudah memberi uang saku yang lumayan lebih dari cukup. Sehari 100 ribu untuk mahasiswa tuh gede... gede banget malah menurut Ami.


Kemana uang yang Intan miliki? Kemana lagi kalau bukan ke klinik kecantikan. Sabun dan cream perawatan wajahnya mahal punya. Wajahnya yang memang cantik makin bling-bling.


Berbeda dengan Ami. Ia hanya pakai pelembab Ponds yang harganya sepuluh ribu, itu pun kalau sudah mau habis Ia gunting 2 lalu dikoreki sampai bersih sih... sih... sih...


Ya hasilnya gak seglowing Intan sih tapi karena wajah Ami tidak bermasalah dengan jerawat jadi mulus-mulus aja. Kalau make up untuk kerja jadi SPG Ami pakai produk lokal yang hasilnya lumayan bagus.


"Lo ada kuliah jam berapa Mi?" tanya Intan sambil menambahkan saus ke dalam mie gorengnya.


"Jam setengah 1. Gue numpang sholat dzuhur disini juga ya sebelum kuliah. Lo masuk kuliah jam berapa?" Ami membuka bungkusan nasi warteg dengan lauk kesukaannya usus dan kerang. "Mau gak?"


Ami tak tega melihat Intan yang hanya makan mie dan nasi saja. Setidaknya makanan yang Ia makan lebih ada protein dan karbohidrat tentunya. "Mau dong, cobain."


Intan pun mengambil lauk nasi Ami. "Gue juga jam setengah 1. Udah kita bareng aja ke kampusnya." Ami pun mengangguk setuju.


*****


Enaknya punya temen yang ngekost deket kampus tuh bisa touch up make up dulu biar terlihat tetep fresh. Malah kalau dosennya gak jadi dateng dan harus nunggu lama bisa sekalian tidur siang.

__ADS_1


Intan yang baru saja selesai mandi juga terlihat fresh. Wajahnya yang cantik terlihat makin cantik lagi berkat perawatan di salon. Ah Ami gak suka ke salon sih. Menunggu di salon tuh lama. Enakkan juga di rumah bisa nonton drakor sampe puas.


Mereka berjalan bersama dan akan berpisah di depan kelas Ami karena kelas Intan berada setelah kelas Ami. Banyak mahasiswa yang nongkrong di depan kelas sambil mengobrol, menunggu dosen datang barulah ikut masuk ke dalam.


Pandangan mata cowok-cowok langsung terpusat pada Intan. Penampilan Ami yang sekarang sudah cantik dan anggun masih kalah dibanding Intan yang dari jauh saja sudah terlihat glowing.


Ah sudahlah. Gak usah iri. Syukuri pemberian yang Tuhan beri. Toh Intan teman baik gue juga.- Ami.


"Gue duluan ya Tan." pamit Ami.


"Iya. Daaaah."


Ami langsung duduk di samping Ila. Sudah beberapa kali Ami sekelas dengan Ila jadi Ia sudah mulai akrab dan biasa duduk bersebelahan.


Seperti biasa, saat dosen datang maka Rian akan mengikuti di belakangnya. Rian langsung duduk di samping Ami yang kebetulan kosong.


"Hi Mi!" sapa Rian.


Dosen pun mulai absen panggil satu per satu. Rian mencuri-curi pandang ke arah Ami yang sedang menunggu giliran namanya dipanggil.


"Lo temenan sama Intan, Mi?" tanya Bagas setelah dirinya dan Ami selesai di absen.


"Iya. Kenapa? Mau minta disalamin?" Ami langsung to the point. Ia tahu saat ada yang bertanya tentang pertemanannya dengan Intan pasti ujung-ujungnya mau pdkt.


Ami membuang pandangannya dari Rian. Udah malas Dia. Dulu sama Bagas, Ia hanya dijadikan pion agar bisa dekat dengan Melisaa. Sekarang taktik Rian sudah terbaca olehnya. Gak mungkin juga kan Ami mau dibodohin untuk kedua kalinya?


Rian tersenyum simpul. "Boleh. Tapi jangan bilang dari gue ya."


"Oke." Ami mengiyakan saja permintaan Rian. Ia sudah malas dengan Rian yang ternyata sama aja kayak cowok kebanyakan yang hanya melihat cewek dari kecantikan fisiknya saja.


Ami menyudahi percakapannya dengan Rian, Ia pura-pura fokus mendengarkan pelajaran dari dosen, padahal pikirannya sedang tidak di tempat. Ada sedikit rasa sakit di dadanya mendengar Rian ternyata menaruh perhatian dengan Intan.


Ami pikir Rian berbeda. Ami pikir Rian lebih melihat kebaikan hati seseorang dibanding cowok lain. Ternyata sama saja. Pokoknya Ami harus memblacklist nama Rian dari daftar list cowok yang akan Ia sukai. Harus.

__ADS_1


Berbeda dengan Ami, Rian terlihat menyunggingkan seulas senyum melihat Ami yang langsung berubah sikap padanya.


Hmm.... Beginilah yang aku rasakan waktu itu Mi- Rian.


*******


"Kenapa muka lo ditekuk begitu Mi?" tanya Ningrum teman Ami yang biasanya selalu pulang bareng dengannya. Berbeda dengan yang lain, teman Ami yang satu ini rada preman.


"Lagi sebel gue!" kata Ami tanpa menyembunyikan kekesalannya. Udah biasa Ia curhat dengan Ningrum. Sejak kuliah semester 1 mereka sudah saling kenal. Ibaratnya sifat Ami luar dalam sudah Ningrum hapal.


"Sebel kenapa Neng? Jangan kebanyakan pikiran. Cerita dong." ujar cewek dengan tahi lalat di dagu tersebut, teman-teman Ami biasa memanggilnya 'Model Henna' (salah satu produk pewarna rambut).


"Lo tau Rian kan?"


"Tau. Isi perut lo juga gue tau. Apaan sih yang enggak lo ceritain sama gue." jawab Ningrum yang suka nyambi jadi supir angkot milik almarhum ayahnya kalau supir sewaannya sedang tidak masuk. Sekarang tau kan kenapa nih anak rada preman? Biasa bergaul sama supir angkot jadi kayak gitu deh.


"Ternyata Rian suka sama Intan. Eh tadi minta disalamin sama Dia."


"Terus? Salahnya dimana?" Ningrum masih belum tahu maksud curhatan Ami.


"Ya gue sebel aja."


"Iya sebelnya kenapa? Emang Rian pacar lo?" Ningrum mulai mengeluarkan jurus nyadarin orang kesurupan miliknya yang super sakti.


"Bukan." jawab Ami lemah.


"Nah gak ada salahnya kan? Terserah Dia mau nyalamin siapa aja. Mau nyalamin orang kondangan juga boleh. Apalagi Dia mau nyalamin Intan yang.... apa kata lo waktu itu....mm... glowing. Suka-suka Dia-lah."


"Ya kan Dia pasti tau dong kalo gue tuh udah Pdkt sama Dia? Ini kok sengaja banget minta disalamin? Jadi males asli gue sama Dia."


Ningrum tersenyum kecil tak mau temannya menganggap dirinya tidak menghargai curhatannya, curhatan Ami memang selalu dianggap lucu oleh Ningrum. Masalahnya simple namun kebaperan Ami yang bikin masalah jadi njelimet.


"Kalo si Rian bloon dan gak tau kalau lo suka gimana? Lo tembak gih sana keburu diambil orang. Lagi juga si Rian ganteng." Ningrum mulai memanas-manasi Ami. Ia ingin tahu apakah Ami akan nembak Rian atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2