Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 27


__ADS_3

Sms.....


Enggak....


Sms....


Enggak....


Sms....


Enggak....


Berulang kali Ami berusaha memantapkan hatinya apakah hendak Sms Rian atau enggak. Kok malu ya rasanya ingin menghubungi duluan. Ami emang banyak gebetan tapi kalau harus menghubungi langsung rasanya malu ya.


Jadi inget perkataan Bagas dulu, jadi perempuan harus ada harga dirinya. Jangan ngejar-ngejar cowok lain. Huh sebal, Bagas saja udah banyak ngerusak anak gadis orang, pake ngajarin tentang harga diri lagi. Teringat Bagas membuat rasa sebal Ami kembali terasa.


Ami putuskan untuk Sms Rian, daripada galau yang berakhir dengan mikirin Bagas lebih baik Dia cari pelampiasan yang lain saja, toh Ami gak ada perasaan apa-apa sama Rian. Cuma sekedar gebetan. Tolong di garisbawahi.


Ami: Rian, ini gue Ami. Jangan lupa ya besok bawa fotokopiannya. Makasih.


Singkat, jelas dan padat. Gak pake basa basi busuk seperti yang Ami ajarkan pada Mala. Ini aja udah bikin Ami deg-degan.


Tiba-tiba sebuah notifikasi Sms masuk berbunyi. Ternyata Rian membalas pesan Ami. Ami pikir Rian akan malas menanggapi Ami yang terkesan kecentilan.


Rian: Oke. Besok gue kasih di kelas ya.


Sms yang Rian kirimkan tak ada kata-kata yang menganggap kecentilan, biasa aja. Itu yang membuat Ami lega dan akhirnya bisa tidur nyenyak.

__ADS_1


******


Ami mengedarkan pandangannya lagi saat memasuki kelas Akuntansi Biaya. Hanya beberapa yang Ia kenal, itu pun gak akrab. Mala ternyata beda kelas. Huft.... alamat ngantuk nih selama pelajaran.


Ila melambaikan tangannya ke arah Ami. "Sini, Mi. Kosong sebelah gue." Ila menepuk kursi kosong di sebelahnya kirinya, di sebelah kanan seperti biasa ada Harry pacarnya.


Ami tersenyum dan menghampiri Ila. Agak malas sebenarnya karena kursi yang Ila pilih berada di barisan paling depan tapi mau bagaimana lagi, daripada gak dapet temen?


Ami duduk di kursi samping Ila. "Sendirian aja lo? Gue gak nyangka loh kalo lo bakal ngambil jurusan Manajemen Keuangan, secara temen-temen lo pada ngambil jurusan Marketing." Ila langsung membuka percakapan diantara mereka. Ami dan Ila memang satu organisasi, tapi Ila sudah tidak aktif lagi dan beberapa kali mereka bertemu di organisasi membuat Ami lumayan kenal dengan Ila.


"Itulah La. Namanya juga pilihan hidup. Gue gak ada bakat di Marketing, lebih jago ngitung. Makanya gue kayak anak ilang nih di jurusan ini." Ami pun tersenyum agar lebih akrab lagi dengan Ila.


"Santai aja lagi. Ada gue dan Harry kok disini. Kita kan pernah satu organisasi. Lo gak sendirian kok." Ila tiba-tiba melambaikan tangannya lagi, otomatis Ami mengikuti arah lambaian tangan Ila.


Deg.... Rian. Ami lupa kalau Ia memang sekelas dengan Rian hari ini. Ami gak mikir dua kali saat Ila mengajaknya duduk bersebelahan, Ami lupa kalau Ila dan Harry adalah teman akrab Rian.


"Sini, Yan. Kosong." Ila menunjuk kursi kosong di samping Ami pada Rian yang baru saja datang.


Rian tersenyum dan duduk di samping Ami. Rian melihat Ami yang sedang pura-pura membuka binder berisi catatannya.


"Wah pas banget lo duduk di sini. Jadi gue gak usah nyari-nyari lagi." Rian pun mengeluarkan kumpulan fotokopian materi miliknya. "Nih yang kemarin lo pinjem." Rian memberikan fotokopian tersebut pada Ami.


"Oh iya. Coba gue cocokin dulu sama punya gue ya. Sebagian ada yang udah gue punya sih." Ami mengeluarkan kumpulan fotokopian miliknya dan menyocokkan dengan Rian.


"Yang ini gue belum punya nih. Tapi kok malah lebih lengkap punya gue ya?" Ami membandingkan fotokopian miliknya dengan milik Rian.


"Yaudah berarti gue yang pinjem fotokopian punya lo ya. Nanti langsung gue fotokopi aja di depan ya. Habis ini lo ada jam apa lagi?" Rian memandangi Ami yang hari ini memakai tanktop dan cardigan warna kuning dengan rok selutut warna hitam. Terlihat cocok dan manis rasanya.

__ADS_1


Ila perlahan minggir dan membiarkan Ami dan Rian mengobrol. Ia lebih memilih mengobrol dengan pacarnya Harry dibanding mengganggu Ami dan Rian yang terlihat mulai akrab padahal belum lama kenal.


"Hari ini gue ada jam pelajaran Manajemen Resiko. Jam 1 siang. Lo juga sama?" Ami memberanikan diri mengangkat wajahnya dan melihat Rian dari dekat. Asli, ganteng loh. Kenapa Ami baru nyadar sekarang ya kalau di kelasnya ada cowok seganteng ini.


"Oh beda kelas berarti. Gue baru besok. Hari ini gue ada kelas lagi jam 11 siang. Lumayan juga ya lo nunggunya masih lama baru kelas berikutnya."


Memang benar sih kelas Ami berikutnya lumayan lama. Menunggu 2 jam. "Emang dapetnya kayak gitu. Awalnya karena gue milih dosen yang katanya baik sama nilai eh jadwal gue malah jadi acak-acakan he..he...he..." Ami tak menyangka kalau akan semudah itu mengobrol dengan Rian. Ternyata dibalik sikap kalem Rian, Ia asyik juga diajak ngobrol.


"Terus lo nunggu selama 3 jam dimana? Kantin? Gak bosen?"


"Ya enggaklah. Gue biasanya nongkrong di kost-an temen gue. Atau nongkrong aja di tongkrongan organisasi gue. Nanti jam setengah 1 baru deh gue balik lagi kesini." memang benar sih rencana Ami selanjutnya adalah nongkrong di kost-an Putri teman dekatnya yang kebetulan mengambil mata kuliah yang sama.


"Enak ya temen lo banyak jadi bisa nongkrong dimana aja." ada nada iri terdengar dari ucapan Rian. Ami mengernyitkan keningnya seakan tak mengerti arah percakapan Rian.


"Emangnya temen lo gak banyak gitu?"


"Ada sih beberapa tapi yang pasti enggak sebanyak temen lo deh." Rian kembali menyunggingkan senyumnya. Tanpa sadar Ami juga membalas senyuman Rian.


"Mungkin karena gue gabung organisasi kali ya jadi banyak temen gue." Ami berusaha merendah padahal sebenarnya memang Ami terkenal karena mudah bergaul.


Percakapan Ami dan Rian terhenti ketika dosen datang. Mereka pun menyimak penjelasan sang dosen namun asyik dengan pemikiran mereka masing-masing.


Tanpa Ami sadari sejak tadi Rian sesekali curi-curi pandang dan menatap Ami. Ami tidak memperhatikannya karena Ia terlalu konsen mendengarkan penjelasan dosen tersebut.


Rian tersenyum mendapati kenyataan bahwa Ia pun bisa akrab dengan Ami. Ia memang mengenal Ami. Banyak yang bilang Ami tuh jagonya Akuntansi. Selain itu Ami juga tidak pelit dalam memberikan contekan kalau UTS.


Ami yang biasanya berdandan cuek dan hanya memakai kaos dan celana jeans sekarang memang berbeda. Tampilannya semester ini memang berubah banyak. Rian memperhatikan betapa manisnya dandanan Ami. Tanpa Ami tau, sejak lama Rian sudah memperhatikannya diantara genk cantiknya yang lain.

__ADS_1


__ADS_2