Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 38


__ADS_3

Pagi hari, disaat semua orang malas membuka matanya untuk melakukan aktivitas. Disaat menarik selimut lebih menarik dibanding mengguyur sekujur tubuh dengan air dingin. Ami terbangun dengan senyum di wajahnya.


Sejak kerja bareng dengan Rian, pagi hari bagi Ami terasa amat indah. Ternyata enggak perlu punya pacar agar ada yang jemput kerja tiap hari. Cukup punya teman satu kerjaan sudah cukup. Ya setidaknya sampai Rian punya pacar Ami akan amanlah ya diantar jemput tiap hari.


Setelah dihitung-hitung ternyata memang uang gaji Ami masih sisa banyak. Alokasi biaya yang seharusnya untuk ongkos naik bis sekarang sudah tidak perlu karena gratis tis tis tis. Ya Ami tahu diri lah. Sesekali Ami membantu Rian untuk uang bensin, terkadang Rian menolaknya namun karena Ami mengancam tidak mau bareng lagi kalau Ia tidak menerimanya terpaksalah Rian mau.


Ami memandang wajahnya di cermin. Wajahnya yang hanya memakai pelembab Ponds dan bedak pixy serta sedikit sapuan blouse on viva dan lipstik Red A sudah terlihat segar. Dirapihkannya kemeja dan celana bahan panjang yang Ia kenakan. Sudah rapi dan siap berangkat kerja.


Ami sudah sarapan tadi sebelum mandi. Bekal makan siang juga sudah Ia siapkan. Sejak Bapak meninggal, Ibu jadi jarang masak. Katanya kalau masak suka banyak yang tersisa, lebih baik beli saja.


Ami yang super hemat tidak mengikuti jejak ibunya. Ia selalu membuat bekal makan siang dengan masakannya sendiri. Lumayan hemat uang jajan. Ami berencana hendak melanjutkan kuliahnya lagi jadi Ia harus menabung uang sejak sekarang.


Ibu sudah menerima uang pensiun bulanan sekarang, namun Ami juga memberikan sebagian uang gajinya untuk Ibu, sisanya Ami tabung dan pakai untuk sehari-hari. Ibu sudah bisa menikmati kesendiriannya sekarang. Sudah menerima kenyataan kalau Bapak memang pergi agar tidak merasakan kesakitan lagi.


Ibu bahkan sering menginap di rumah kakaknya dan di rumah Ambar. Kadang ikut ibu-ibu pengajian jalan-jalan ke luar kota. Biarlah, yang penting Ibu senang.


Ami mengambil tas selempangnya dan memakai sepatu hak tingginya lalu berjalan keluar rumah. Rian sudah menunggunya di depan rumah. Tangannya terlipat di dada dan memakai jaket warna merah.


Entah mengapa enak saja dilihat oleh Ami. Kayaknya Rian memang ganteng dilihat dari sudut mana aja. Ami mengembangkan senyumnya lalu langsung naik ke atas motor.


"Mi, hari ini gajian kan?" tanya Rian begitu motor sudah melaju dengan kecepatan sedang.


"Iya. Cie.... akhirnya yang bakalan dapet gaji pertama." ejek Ami.


"Iya nih. Pertama kali dapet gaji pertama. Deg-degan rasanya." ujar Rian dengan jujur.

__ADS_1


"Iya, dulu juga gue seneng banget pas dapet gaji pertama."


"Lo pake buat apa dulu gaji pertama lo?" Rian sekarang sudah mulai sering mengajak Ami mengobrol. Baginya asyik membicarakan sesuatu dengan Ami. Mungkin karena Ami memiliki banyak teman jadi banyak pengalaman yang Ia punya.


"Hmm... gue beli TV buat di kamar. Itu cita-cita gue sejak dulu. Pengen punya TV pribadi di kamar."


"Ih cita-cita yang receh banget. Buat apaan coba punya TV di kamar?"


"Ya buat nonton blue film lah." celetuk Ami.


"Yang bener lo? Lo suka nonton film kayak gitu?" Rian langsung memberondong Ami dengan berbagai pertanyaan.


Ami tertawa puas setelah mengerjai Rian. "Terus lo percaya gitu sama kata-kata gue? Hahaha... lo lugu banget ternyata Yan."


"Enggaklah Yan. Gue beli TV tuh buat nonton drama korea. Gue kan suka beli dvd bajakan di stasiun kereta, nah gue tontoh deh di kamar sendirian. Bisa sambil nangis dan ketawa sepuasnya tanpa ada yang gangguin."


"Terus buat apalagi?" Rian masih memancing Ami untuk bercerita lebih jauh.


"Buat beli cemilan kesukaan Bapak. Buat ongkos kuliah. Beli baju. Macem-macem deh tau-tau habis deh dalam sekejap." Ami mengenang gaji pertamanya dulu. Itu merupakan kenangan manisnya yang tak akan pernah Ia lupakan. Betapa indahnya menerima gaji dari hasil kerja kerasnya selama sebulan.


"Besok lo mau kemana?"


"Besok? Gak kemana-mana sih. Lagi gak ada event. Paling beli dvd drama Korea aja di mall." minggu ini memang Ami tidak mengambil event karena habis gajian jadi malas terlalu ngoyo nyari uang, sekali-kali Ia ingin menikmati hidupnya sebelum mulai membayar biaya kuliah lagi.


"Yaudah besok gue jemput ya. Jam 10 pagi, gimana?"

__ADS_1


"Loh emang mau kemana?" tanya Ami bingung.


"Ya kan gue udah janji mau traktir lo pake gaji pertama gue. Berarti ke mall aja ya supaya bisa beli dvd. Gimana?"


"Kan gue becanda doang Yan. Gue gak minta ditraktir beneran kok. Lo mah gitu aja dimasukkin ke dalam hati sih."


Motor Rian memasuki parkiran kantor. Masih jam setengah 8 pagi. Tersisa setengah jam sebelum masuk kantor. Ami turun dari motor Rian dan melepas helm yang dipakainya.


"Kan gue udah janji Mi. Nanti malam gue mau traktir nyokap, bokap dan kakak gue. Baru deh besok gue traktir lo. Pokoknya gue jemput jam 10 pagi ya. Awas kalau belum bangun!" ancam Rian tapi ancaman sambil bercanda.


"Yaudah deh. Terserah lo aja. Sekalian gue beli DVD mumpung ada yang temenin. Gue naik duluan ya ke atas. Makasih Yan tumpangannya." Ami meninggalkan Rian yang masih membereskan tas dan jaketnya. Rian biasa rapi-rapih dulu di kamar mandi dekat parkiran motor karyawan. Setelah rapi barulah Ia naik ke atas.


******


Bukan, Mi. Ini bukan ngedate. Bukan kencan atau apalah itu namanya. Ini cuma mau beli dvd bajakan sekalian makan siang aja. Gak lebih. Jangan terlalu banyak berharap, nanti kalau Rian menanyakan tentang Intan lagi, lo bakal lebih sakit hati lagi dibanding yang kemarin.


Ami berbicara sendiri pada bayangan cantik wajahnya di cermin. Ia harus menyadarkan dirinya sendiri. Rasa sukanya terhadap Rian yang sempat menghilang perlahan mulai terasa lagi. Sering berangkat dan pulang kerja bareng membuat benih-benih suka itu perlahan mulai tumbuh, harus segera dipangkas agar tidak menyakitkan lagi.


Ami memakai cardigan warna hitamnya menutupi kaus mickey mouse warna putih yang Ia sebagai atasan celana jeansnya. Sepatu ballet warna hitam Ia kenakan agar matching dengan cardigannya.


Rian sudah menunggu di depan rumahnya. Ibu Budi sedang menginap di rumah kakak tertuanya. Hanya Akbar di rumah, itu pun masih tertidur pulas dan baru bangun setelah jam 1 siang.


"Ayo Yan!" ajak Ami sambil menutup pintu rumahnya.


"Ayo!" Rian menyambut Ami sambil menyunggingkan senyumnya dengan lebar. Di mata Rian, Ami cantik, sederhana dan apa adanya. Ia tau seperti apa sifat Ami. Baik dengan semua orang yang Ia kenal. Tak heran Ami punya banyak teman, dimanapun Ia berada maka Ia akan mudah berteman dengan siapapun.

__ADS_1


__ADS_2