
Perbedaan pacaran dengan sahabat sendiri dengan pacaran dengan orang lain yang melakukan pendekatan terlebih dahulu adalah cara berpacarannya. Kalau yang berpacaran tanpa bersahabat terlebih dahulu biasanya langsung berpegangan tangan saat jalan ke mall untuk pertama kalinya.
Lalu bagaimana dengan yang diawali dengan proses pertemanan terlebih dahulu? Hari pertama resmi berstatus pacaran hal yang dilakukan adalah grogi. Jalan bersebelahan yang biasanya suka saling tonjok-tonjokkan gemes maksudnya tonjok tapi gak sakit gitu jadinya malah ngumpetin tangan sendiri. Ada yang dimasukkan ke dalam jaket dan ada juga yang pura-pura megang Hp dan melihat notif yang masuk padahal gak ada yang menghubungi sama sekali.
Mau langsung merangkul juga malu, pegangan tangan belum terbiasa. Jadilah hanya kecanggungan yang tercipta. Tapi jangan salah, saat mulai mengobrol maka mereka akan lupa status mereka yang sudah resmi berpacaran. Mereka akan asyik dengan percakapan mereka sendiri dan mengindahkan orang-orang di sekeliling mereka.
Itulah yang terjadi pada pasangan yang baru banget jadian yakni Rian dan Ami. Kecanggungan mereka berubah menjadi keakraban saat mereka masuk ke dalam Matahari Departement Store.
"Yan, diskon tuh! Liat yuks!" mata Ami membulat sempurna saat melihat tulisan diskon 70%.
"Iya tuh. Gue juga mau beli kemeja nih. Mi, itu ada yang beli 1 gratis 2. Sikat apa nih?" mata Rian tak kalah berbinar-binarnya seperti Ami saat melihat diskonan. Kan.... kan.... Sama siapa lagi coba Rian bisa mengekspresiasikan sifatnya yang doyan belanja diskonan kalau bukan dengan Ami? Ini yang Rian bilang kalau dirinya bisa menjadi dirinya sendiri apa adanya kalau depan Ami. Gak perlu malu dan tak ada yang ditutup-tutupi.
Lalu Ami malu gitu melihat pacarnya yang suka berburu diskon? Justru tidak, Ami senang melihat ada teman seperjuangannya dalam berburu diskon. Memangnya kenapa? Gak ada yang salah kan kalau beli barang diskonan? Kan mereka beli bukan nyolong? Toh orang kaya juga seneng liat diskonan. Begitulah kira-kira prinsip hidup Ami.
"Mana Yan?" Ami mencari tulisan beli 1 gratis 2 yang Rian bilang namun tidak ketemu.
"Itu!" Rian pun memegan kepala Ami dan mengarahkannya pada tulisan kecil yang berhasil tertangkap sorot matanya.
"Oh iya bener. Ayo kita kesana!" tanpa sadar Ami menarik tangan Rian. Inilah pertama kalinya Ami berpegangan tangan dengan Rian setelah mereka reami jadian.
Ami tidak menyadari perbuatan spontan yang Ia lakukan. Matanya tetap terfokus pada tulisan diskonan yang belum banyak kerumunan orang yang tahu.
Berbeda dengan Ami, Rian menyadari arti pegangan tangan pertama mereka dengan status sebagai pacar. Rian tersenyum malu-malu.
Mereka pun mulai sibuk dengan baju diskonan. "Kalo gue cocoknya pakai motif apa Mi?" Rian memberikan kemeja warna merah maroon kesukaannya.
"Hmm... jangan merah maroon. Coba warna biru garis-garis. Pasti cocok deh sama lo."
"Yang mana?"
"Sebentar. Tadi gue lihat ada yang bagus. Ukuran kemeja lo berapa?" Ami pun mencari model yang Ia rasa cocok dengan Rian.
__ADS_1
"14,5"
"Nih, gimana? Bagus ga?" Ami memberikan kemeja pilihannya pada Rian.
"Emangnya cocok pakai kemeja garis-garis?" Rian mulai tidak percaya diri.
"Percaya sama gue deh kalo pilihan gue pasti bagus." Ami menepuk dadanya membanggakan kehebatannya tersebut.
Rian tersenyum melihat ulah cewek yang kini jadi pacarnya tersebut. "Gue coba dulu ya." Rian lalu pergi ke ruang ganti. Sambil menunggu, Ami melihat-lihat model kemeja yang cocok dengan Rian selain pilihan yang pertama. Pilihannya jatuh pada kemeja bermotif kotak-kotak kecil dengan warna putih bergaris merah.
Tak lama Rian keluar dari ruang ganti. Seperti prediksi Ami, Rian terlihat cocol dengan kemeja pilihannya. "Tuh kan bagus. Apa gue bilang?"
"Serius?" tanya Rian masih tidak percaya.
"Iya. Masa gue bohong sih. Nih coba lagi yang ini. Cocok juga deh kayaknya sama lo." Ami menyerahkan lagi kemeja yang Ia pilih saat Rian di ruang ganti. Rian menurut saja apa yang Ami katakan.
Setelah dirasa cocok akhirnya Rian membayar kedua kemeja hasil pilihan Ami. "Gimana? Bagus-bagus dan murah kan?"
"Er... Kita ke tempat cewek aja ya. Gantian gue mau beli kemeja." kata Ami mencairkan suasana kembali.
"Oke, ayo." kali ini Rian berinisitif menggenggam tangan Ami. Ia menggandengnya bahkan tidak melepaskannya. Sia-sia sudah usaha Ami mencairkan suasana canggung, ternyata Rian lebih suka berbuat terus terang.
Diantara degup jantungnya yang berdetak semakin kencang, Ami menggenggam balik tangan Rian. Tangan Rian terasa amat kokoh melindungi Ami. Baru kali ini rasa nyaman dirasakan oleh Ami, seakan Rian dapat melindunginya dari segala kekhawatirannya akan permasalahan dunia. Ami diam-diam ikut tersenyum di samping Rian.
*****
Pagi hari sudah ada sang pacar yang menjemput Ami di depan rumah. Noted, bukan teman lagi ya tapi pacar. Senyum Ami yang biasanya cerah makin bersinar cerah lagi saat ini.
Rian tersenyum balik. Ia tak pernah lama menunggu Ami karena Ami selalu on time. Ya paling lama 5 menitlah, biasanya kalau Ami tiba-tiba sakit perut.
"Nih, buat lo." Ami memberikan sekotak tupperware miliknya.
__ADS_1
"Apaan nih?"
"Sarapan buat lo. Tadi gue bikin nasi goreng sekalian aja gue bikin buat lo sarapan di kantor. Kalo gak enak buang aja ya. Jangan dipaksa makan nanti malah sakit perut."
Rian tersenyum senang. Jadi begini rasanya dibuatkan sarapan dengan pacar. Sebelumnya Ia tidak pernah pacaran sampai dibuatkan makanan, mantan-mantan pacarnya tidak jago masak bahkan masuk ke dapur saja malas.
"Pasti enak kok kalo lo yang masak. Nanti gue makan di kantor ya. Ayo jalan takut kesiangan!"
Ami pun naik motor Rian. Hari ini adalah hari pertama mereka ke kantor bersama dengan status sudah berpacaran. Banyak kekhawatiran dalam pikiran Ami.
"Mi.... Mi..." Rian memanggil Ami yang sejak tadi hanya diam dan asyik dengan lamunannya sendiri.
"Iya. Kenapa Yan?" Ami langsung tersadar dari lamunannya.
"Lo mikirin apa sih?"
"Hmm... Jujur Yan, gue belum siap mengumumkan hubungan kita di kantor. Gue belum siap liat reaksi fans lo kalau tau kita jadian. Bagaimanapun mereka kan senior kita di kantor. Gue takut aja malah dibenci sama mereka."
Rian memberhentikan motornya di belakang garis berhenti saat lampu merah. "Kan ada gue, kenapa mesti takut? Gue bakalan belain lo kok. Tenang aja."
Perkataan Rian tidak serta merta membuat kecemasan Ami hilang. "Boleh gak kita rahasiain hubungan kita kalau di kantor?"
Awalnya Rian tidak setuju dengan permintaan Ami, namun melihat wajah Ami yang terlihat penuh pikiran Ia tidak kuasa menolaknya. Rian menarik tangan Ami yang semula memegang jaketnya di pinggang dan memegangnya dengan erat. Untunglah lampu merahnya lumayan lama jadi Ia bisa lebih mengekspresikan perasaannya meski di atas motor sekalipun.
"Kalau itu permintaan lo, oke. Kita diem-diem aja ya kalau di kantor. Yang penting kita tetep pacaran."
"Bener Yan?" tanya Ami memastikan sekali lagi.
"Bener. Apa sih yang enggak buat lo, Mi."
"Ih gombal!" Ami tersenyum malu. Ah bisa juga Rian ngegombal.
__ADS_1
Rian melepaskan pegangan tangannya pada Ami dan melanjutkan lagi mengemudikan motornya sampai ke kantor.