
⚘⚘⚘ Ayo yang udah baca tapi gak vote dan like mana? Rencananya novel ini mau diperpendek episodenya gaes. Authornya males novel ini sepi banget dibanding Namaku Ayu. Udah gitu gak lolos buat jadi rekomendasi lagi. Ah jadi tambah males deh. ⚘⚘⚘
Rian Adi Nugroho. Sebagai mahasiswa Ia termasuk yang kurang aktif di kampus. Tidak ikut dalam organisasi. Tidak mudah bergaul dengan teman lainnya. Dekat dengan Harry karena satu SMA.
Rian tidak suka nongkrong dengan teman-temannya yang lain. Sikap pendiamnya membuatnya agak sulit bergaul dengan yang lain, tapi kalau sudah dekat seperti dengan Harry maka Ia akan menjadi sahabat dekat.
Letak rumah Rian yang tidak jauh dari kampus membuatnya sering pulang ke rumah kalau menunggu kelas selanjutnya yang lumayan lama. Karena itu pula Ia kalau datang ke kampus selalu mepet.
Rian baru semester ini satu kelas dengan Ami. Sebelumnya mereka berbeda kelas karena masih dicampur semua jurusan.
Sosok Ami yang mudah bergaul dan lumayan terkenal di kampus sedikit menarik perhatian Rian. Ami yang periang diantara genk cantiknya seakan penghangat dan membuat teman-temannya bahagia saat mendengar leluconnya.
Rian sering melihat Ami dan teman-temannya foto selfie di depan perpustakaan. Ia heran dengan begitu mudahnya Ami bergaul dan akrab dengan orang lain. Sangat kebalikan dengan sikapnya.
Diantara rumor yang Rian dengar adalah Ami yang kalau ujian selalu sudah ditempati duluan tempat duduknya dengan temannya yang lain tanpa harus susah-susah rebutan tempat duduk. Karena apalagi kalau bukan kebaikannya suka membagi jawaban ujian pada teman-temannya.
Mungkin Ami tidak secantik teman-temannya di genk cantik, tapi kebaikannya bahkan mengalahkan temannya yang lain. Rian yang bisa membaca karakter orang sejak awal sudah bisa mengenal sifat asli Ami. Karena itu saat Ami meminjam fotokopian darinya di tengah keterkejutannya terselip rasa senang.
Senang karena keberadaannya selama ini dilihat oleh Ami. Orang lain menganggapnya hanya angin lalu karena tidak pandai bergaul, untuk memulai berkenalan dengan orang lain saja Rian malu. Saat Ami yang dianggapnya salah satu mahasiswi terkenal mau menyapanya itu sudah amazing.
Lebih amazing lagi adalah kebersamaan mereka saat berjalan berdua menuju tukang foto kopi di depan kampus. Banyak mata yang melihat ke arah mereka. Rian hanya mampu menundukkan kepalanya tanpa melihat tatapan mata yang penuh rasa keingintahuan.
Saat mereka melewati Aula ternyata teman-teman Ami sedang nongkrong di depan Aula. Sudah bisa diduga suara sorak sorai terdengar menyoraki Ami yang jalan berdua Rian.
"Ami!! Cie....cie.... siapa tuh?" teriak teman Ami yang memakai kaus warna pink.
"Mi, gebetan baru lagi nih? Nemu dimana?" sekarang teman Ami yang memakai baju kuning yang meneriakinya.
Ami langsung salah tingkah, Rian bisa melihat dari sikapnya yang tiba-tiba gugup. "Maaf ya Yan, temen gue emang suka bocor. Cuekkin aja. Ayo."
__ADS_1
"Iya. Tenang aja. Lo pura-pura aja gak kenal sama gue. Gak apa-apa kok." kata Rian merendah. Kasihan Ami kalau sampai jadi bahan candaan teman-temannya atau lebih kasihan lagi kalau sampai pacarnya Ami tahu, bisa bertengkar mereka nanti, begitu yang Rian pikirkan.
"Percuma Yan. Mereka udah liat. Udah diemin aja. Nanti gue jelasin kok ke mereka. Kita fotokopi dulu aja takut lo gak keburu masuk kelas." Ami terus berjalan tanpa mengindahkan teriakan teman-temannya. Ia hanya menaruh telunjuknya di bibir pertanda agar temannya berhenti menggodanya.
"Temen lo banyak ya Mi." sebenarnya ini suatu bentuk pujian dari Rian untuk Ami. Gak semua orang bisa semudah itu akrab dengan orang lain, contohnya dirinya yang pemalu dan jarang bergaul.
"Ya gitu deh. Mungkin karena gue sekelas sama anak-anak yang asyik-asyik kali ya jadi pergaulan gue luas dan temennya temen gue juga jadi temen gue juga makanya temen gue jadi banyak."
Rian tersenyum, ternyata Ami orangnya merendah ya. Segitu mudahnya Ami berteman dengan orang lain, amat berbeda jauh dengannya.
"Habis ini lo gabung sama mereka nongkrong di aula?" rasanya Rian masih ingin mengobrol dengan Ami. Bahkan Ia ingin mengajak Ami nongkrong di warkop depan kampus kalau saja Ia tidak ada kelas 15 menit lagi.
"Hmm... iya. Tadi gue udah di SMS suruh gabung. Paling gabung sebentar terus gue cuzz ke kostan temen gue buat makan siang." sekarang Ami yang heran dengan Rian. Ternyata Rian suka mengobrol juga, Ami pikir orangnya pendiam.
Mereka pun sampai di tempat fotokopian. Sambil menunggu Ami pun membaca SMS dari Hpnya. Banyak pesan masuk, salah satunya menyuruhnya ikut rapat di organisasi jam 12 nanti.
"Kenapa? Ada pesan penting?" tanya Rian saat melihat Ami mengerutkan keningnya saat membaca pesan dari Hpnya.
"Oh ternyata gue di SMS kalau ada rapat di organisasi jam 12. Berarti gue gak jadi ke kostan temen gue. Bentar ya gue SMS temen gue dulu."
"Hah? Artis? Gue? Ah gue mah cuma dayang-dayangnya artis aja kali. Lo gak liat tuh temen-temen gue cakep-cakep banget kayak model? Gue mah cuma tukang bawain tas artis aja kali." sahut Ami setelah selesai mengetik SMS dan memasukkan Hpnya ke dalam tasnya.
"Itu banyak banget yang butuhin lo. Dan artis gak mesti cantik kali. Malah artis yang bertalenta biasanya lebih bertahan lama dibanding artis yang menang tampang doang."
Entah apa maksud perkataan Rian, Ami gak ngerti. Ami hanya menyunggingkan seulas senyumnya berpura-pura mengerti maksud perkataan Rian yang sebenarnya gak Ami ngerti.
Sebuah panggilan masuk berbunyi dari Hp Ami. Nomor yang tidak Ami kenal namun tetap Ami angkat.
Ami : Hallo
Penelepon : Hi Mi, ini gue Bagas.
__ADS_1
Ami tiba-tiba terdiam. Ia melihat nomor yang tertera di Hpnya sekali lagi memastikan kalau bukan temannya yang mengerjai. Nomor tidak dikenal.
Bagas : Mi. Hallo...
Ami : Ah iya Gas. Ini nomor lo?
Bagas : Lo lagi dimana?
Ami : Gue lagi di kampus. Kenapa?
Bagas : Kampus lo dimana?
Ami : Di kampus A.
Bagas : Selesai kuliah jam berapa?
Ami : Jam 3. Kenapa?
Bagas : Tunggu gue ya. Gue jemput!
Ami : Mau ngapain?
Telepon langsung diputus oleh Bagas tanpa kata penutup. Ami masih memandangi Hpnya. Tau darimana Bagas nomor Hpnya. Sudah setahun lebih mereka tidak berhubungan. Ada apa Bagas mencarinya.
"Mi, ada apa? Bengong gitu." perkataan Rian membuyarkan lamunan Ami.
"Oh gak ada apa-apa kok."
"Itu telepon dari pacar lo?" Rian menyerahkan hasil fotokopian pada Ami.
"Mm... bukan kok. Cuma temen." jawab Ami dengan gelagapan. Kenapa Rian menebak kalau itu pacarnya? Apa perubahan ekspresinya begitu kentara?
__ADS_1
"Soalnya ekspresi lo kayak orang ketahuan selingkuh sih. Makanya gue pikir itu pacar lo." Rian menjelaskan sendiri pertanyaan di benak Ami tanpa diminta.
"Gue gak pernah selingkuh sih jadi gak takut ketahuan. Udah yuk masuk. Gue mau nyamperin teman-teman gue di aula." Ami berjalan duluan kembali ke dalam kampus, diiringi dengan Bagas yang mengikutinya dalam diam.