Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 42


__ADS_3

"Udah lo sampai sini aja nganterinnya. Gak usah sampai depan rumah." Ami menepuk bahu Bagas untuk menyuruhnya berhenti. Ami tak mau sampai Ibu melihatnya dijemput dan diantar dengan cowok berbeda. Bisa mikir negatif nanti ibunya.


"Loh emang kenapa? Biasanya juga gue anterin sampai depan rumah lo dan enggak ada masalah." Bagas protes tapi Ia tetap berhenti di tempat yang Ami inginkan.


"Nanti nyokap gue curiga."


"Curiga kenapa?" masih juga Bagas penasaran dan ingin tau. Tak akan menyerah Ia sampai Ami menjelaskan semuanya.


"Soalnya... tadi gue pergi sama temen gue. Gak enak kalau gue pulangnya sama lo. Bisa banyak pertanyaan nanti."


"Temen? Temen lo siapa? Cowok juga?" Bagas mulai mengajukan pertanyaan secara beruntun.


Ami turun dari motor Bagas. "Temen kantor gue. Dulu gue satu kampus sama Dia. Sekarang gue satu kantor."


"Cowok? Kok bisa satu kantor sama lo juga? Ngapain pergi sama Dia?" interogasi masih terus berlanjut sampai Ami menjelaskan sejelas-jelasnya pada Bagas.


Ami menghembuskan nafasnya kesal. Tadi diinterogasi Rian, sekarang Bagas. Ada apa sih dengan mereka berdua? Tak satupun dari mereka yang berstatus sebagai pacar Ami namun kenapa begitu mencampuri hidupnya?


"Namanya Rian. Dia bisa masuk kerja di kantor karena gue yang masukkin. Dia janji mau traktir gue kalo dapet gaji pertama. Nah tadi tuh gue abis ditraktir sama Dia. Udah jelas belum?"


"Belum."


"Apanya yang belum jelas? Kan udah gue jelasin." Ami menghela nafasnya lagi. Mulai kumat deh Bagas. Suka begini. Nyebelin.


"Tadi Dia jemput lo kan? Kenapa pulangnya lo gak sekalian dianterin? Kenapa malah tadi lo ketemu gue lagi nendang-nendang batu krikil? Bukannya menikmati traktiran di dalam Mall seperti yang lo ceritain?"


"Karena tadi gue berantem sama Dia."

__ADS_1


"Berantem kenapa?" terus Gas... terus... tanya terus sampai Ami muak.


"Karena Dia ngelakuin yang lagi lo lakuin sekarang ke gue. Nanya-nanya kehidupan pribadi gue. Sama kayak yang lo lakuin. Gue gak suka. Kalian berdua tuh cuma temen gue, gak lebih. Gue juga berhak untuk menolak menjawab pertanyaan kalian. Lo sama ngeselinnya ya sama Dia!" Ami melipat kedua tangannya di dada. Amarahnya yang sempat surut eh terbakar lagi.


"Kalau dia gak berhak Mi. Kalau gue berhak."


"Kenapa? Apa yang membedakan kalian berdua?" gantian Ami yang bertanya.


"Karena gue sahabat lo."


"Terus kalau lo sahabat gue terus lo berhak gitu mencampuri kehidupan pribadi gue?" tanya balik Ami.


"Kalau gue sih berhak. Dia gak berhak."


"Tau ah. Malah makin kesel gue ngobrol sama lo. Udah sana pulang terus tidur lagi. Bye." Ami meninggalkan Bagas dan masuk ke dalam rumahnya.


Dasar dua cowok stress!- Ami.


"Mi, maaf ya. Maafin atas perbuatan gue kemarin. Gue udah mencampuri urusan pribadi lo. Maaf banget ya Mi." ucap Rian dengan penuh penyesalan.


Ami baru saja hendak pergi dari loker ketika Rian datang dan mengajaknya bicara. Sudah 2 minggu sejak Ami dan Rian bertengkar di Mall waktu itu. Sejak itu pula Ami selalu naik kendaraan umum dan menolak diantar jemput Rian.


"Udah gak usah dibahas lagi Yan. Gue mau masuk ke dalam." Ami berusaha menghindari tatapan Bagas yang penuh kuasa. Kuasa dan membuat Ami tak berkutik.


Loker sepi pada jam kerja. Ami sengaja ke loker hendak memakai lipbalmnya yang tertinggal di loker. Tanpa Ami sadari Rian mengikutinya ke loker.


"Gue gak mau hubungan gue sama lo jadi kayak gini Mi. Gue beneran khilaf kemarin. Gak seharusnya gue mencampuri urusan lo."

__ADS_1


"Makanya gue bilang gak usah dibahas, Yan. Oke gue maafin. Oke? Clear kan?" Ami pikir dengan memaafkan Rian segalanya akan selesai dengan mudah. Namun ternyata tidak.


"Terus lo masih mau kan jemput dan anter lagi?"


"Gak usah Yan. Gue bisa ke kantor sendiri kok. Lagi juga lo jadi muter-muter kalau anter jemput gue." tolak Ami dengan halus.


"Berarti lo masih belum maafin gue dong?"


"Gue udah maafin lo, Yan. Tapi apa harus kita barengan terus pulang dan pergi kerja? Apa kata teman-teman di kantor nanti? Lo kan tau sendiri kalau apapun berita tentang lo akan jadi gosip. Gue gak mau digosipin sama mereka." memang benar Rian sudah jadi idola di kantor ini. Banyak yang mendekatinya dengan maksud ingin memulai hubungan yang lebih serius dengan Rian.


"Tapi gue maunya sama lo Mi. Gue gak peduli sama mereka."


"Maksudnya? Gak ngerti gue Yan." Ami menggaruk kepalanya yang tidak gatal tersebut. Apa maksud Rian bicara seperti itu?


"Masa lo gak tau sih Mi kalau dari pertama gue tuh udah suka sama lo? Gue gak mau ungkapin sekarang. Gue maunya lo menyadari perasaan gue baru deh gue nembak lo. Tapi lo malah makin salah paham sama gue. Lo mikir gue suka sama Intanlah. Lalu lo jauhin gue. Gue tuh cuma beralasan aja pakai nama Intan padahal gue maunya deket sama lo. Gue bingung aja mau pakai topik pembicaraan apa agar selalu deket sama lo."


Mendapati Ami yang masih kaget dan tidak mampu berkata-kata Rian pun melanjutkan lagi perkataannya. "Gue seneng saat akhirnya bisa satu kantor sama lo lagi. Apalagi kita bisa pulang dan berangkat kerja bareng. Gue lebih seneng lagi saat 2 minggu lalu kita akhirnya jalan bareng. Nonton bareng. Itu udah lama gue inginkan dan baru kesampaian sekarang. Jujur gue terbawa emosi saat lo nyebut cowok yang waktu itu gue lihat jemput lo. Gue bahkan bela-belain nongkrong sama anak-anak yang gak akrab dengan gue hanya demi bisa melihat lo pergi dengan cowok itu."


Rian pun terdiam. Ia mengatur nafasnya dan nada suaranya. "Gue suka sama lo Mi. Gue mau lo jadi pacar gue."


Ami amat kaget dengan pengakuan yang Rian ucapkan. Rian suka padanya? Sama Ami yang bukan siapa-siapa? Gak salah?


"Kenapa harus gue Yan? Gak ada yang spesial dalam diri gue. Masih cantikkan mantan pacar lo yang mirip Intan. Masih anggun dan girly Mbak Ari yang terang-terangan suka sama lo. Kenapa harus gue Yan? Gue gak punya kelebihan seperti yang mereka miliki." kata Ami dengan penuh rendah diri. Memang begitulah Ami. Terlalu sering dibohongi membuatnya tidak percaya diri.


"Ya karena lo adalah Kamidia. Ami yang gue kenal apa adanya. Lo yang membuat gue nyaman berada di sisi lo. Dan satu yang pasti, lo bisa membuat gue jadi diri gue yang sebenarnya kalau ada di dekat lo. Gue gak bisa banyak ngobrol sama orang lain Mi. Tapi sama lo jangankan ngobrol, gue bahkan bisa bercanda dan tertawa dengan bahagia kalau sama lo. Lo tuh spesial di mata gue Mi."


Ami masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Selama ini gak pernah ada seorang cowok pun mengatakan padanya kalau Ia bisa menjadi dirinya sendiri saat bersama Ami. Baru kali ini ada yang menyatakan cinta dan itu terdengar amat mengharukan di dada Ami.

__ADS_1


Akankah Ami menerima atau menolak cinta Rian?


⚘⚘⚘ Ayo sesuai janji aku, Warm Yout Heart aku percepat karena vote dan like nya kurang banyak. Semakin mendekati ending nih. Siap-siap ya. ⚘⚘⚘😍


__ADS_2