Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 21


__ADS_3

Udara malam semakin malam semakin dingin terasa. Mobil dan motor yang berlalu lalang menambah rasa dingin.


Tak ada kata. Tak ada percakapan. Baik Ami maupun Bagas asyik dengan pikirannya masing-masing.


Ami tak pernah menyangka Bagas akan melakukan tindakan orang brengsek. Tindakan yang paling Ami benci. Ami membiarkan Bagas berganti-ganti pacar karena berpikir Bagas selama ini kesepian dan butuh perhatian.


Ami begitu naif. Pikirannya begitu picik. Ia tidak menyangka pacaran yang Bagas lakukan akan melewati batas. Dan sudah banyak yang menjadi korbannya.


Mereka memang melakukannya atas dasar suka sama suka. Tapi.... tapi kenyataan bahwa Bagas sudah merusak anak gadis orang membuat Ami merasa benci. Merasa jijik dengan perbuatan yang Bagas lakukan.


Bagas boleh saja mengumbar cinta ke siapa saja yang Ia inginkan. Bagas boleh saja pacaran bahkan dengan putri kerajaan sekalipun. Tapi hanya sebatas itu. Tidak lebih.


Bagi Ami, free **** tidak boleh dilakukan sebelum menikah. Harus ada ikatan suci yang melandasinya. Bu Hajah Budi dengan tegas mengajarkannya jangan sampai Ia kehilangan mahkotanya sebelum menikah.

__ADS_1


Ami menggelengkan kepalanya. Semuanya sudah terjadi. Sudah terlambat. Memang bukan Ami yang mengalaminya, tapi rasa kecewa Ami terhadap Bagas amat dalam.


Ami membayangkan kalau suatu hari nanti Bagas akan menyadari perasaan Ami padanya. Bagas akan menyadari kalau wanita yang selama ini Ia cari adalah Ami. Mereka pun akan happy ending selamanya seperti cerita dalam dongeng dan novel.


Dalam khayalan Ami, Bagas dan Ami akan melakukan malam pertama mereka dengan penuh cinta. Malam dimana Ami akan menyerahkan mahkota yang Ia jaga selama ini hanya pada orang yang Ia cintai, yakni Bagas. Ami juga mengkhayalkan kalau dirinyalah wanita pertama yang akan merenggut keperjakaan Bagas. Tapi semua khayalan indah itu hanya sekedar khayalan. Tak akan pernah bisa diwujudkan lagi.


"Pulang yuk Gas." ajak Ami. Ia sudah malas bersama Bagas. Hatinya sudah amat kecewa. Bagas tidak salah, itu hidup Bagas terserah Ia mau melakukan apa. Yang salah adalah Ami terlalu banyak berharap pada Bagas. Ami terlalu banyak menaruh harapan pada Bagas. Dan saat semua tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, hanya tersisa kekecewaan.


"Jadi gimana nih Mi? Emangnya gue udah gak punya kesempatan gitu dapetin Melisa? Ah gue tuh suka banget Mi sama Melisa. Lo bantuin gue sekali lagi dong. Bujuk Melisa supaya mau sama gue." Bagas mulai merengek pada Ami. Kalau dulu rengekan Bagas akan sebisa mungkin Ami wujudkan tapi kini.....


"Jujur Gas, menurut gue.... lo hanya mencintai diri lo sendiri. Lo gak pernah mencintai cewek yang lo pacarin!"


"Tau apa lo tentang gue, Mi? Lo gak tau apa-apa tentang gue!" benar kan Bagas emosi. Bagas tersulut emosinya, setelah cintanya ditolak bukan dukungan yang Ia dapatkan dari Ami melainkan malah disalahkan.

__ADS_1


Ami berdiri dari duduknya. Ia membalikkan badannya dan agar bisa menatap Bagas saat sedang berbicara. Ibaratnya, ribut tuh ribut sekalian gak usah takut biar sekalian diselesaikan. Mau jontok-jontokan segala tapi kelar masalah.


"Gue emang gak tau banyak tentang hidup lo. Tapi ngeliat lo ngejalanin hidup lo kayak gini membuat gue kasihan sama lo. Mungkin bagi lo hebat bisa punya banyak pacar. Mungkin bagi lo hebat saat berhasil membujuk cewek-cewek bodoh itu agar mau tidur sama lo. Tapi bagi gue kelakuan lo tuh minus. Lo gak tau arti cinta seperti apa. Bagi lo pacaran itu cuma skor angka, semakin banyak jumlah pacar lo maka semakin hebat diri lo."


Ami membuang nafasnya dengan berat. "Sekarang gue tanya, siapa yang membuat standar kalo banyak pacar itu keren? Siapa yang kasih nilai hebat kalo berhasil nidurin anak gadis orang itu jagoan? Gak ada Gas. Gak ada. Itu hanya keinginan diri lo aja biar dianggap hebat. Pernah gak lo nanya sama cewek lo, apa lo sehebat itu? Kalo memang mereka cinta mati sama lo pasti akan bilang lo hebat. Lo akan makin haus dengan pujian mereka. Tapi kalo lo nanya sama gue yang baru mau 4 tahun kenal lo, gak ada keren-kerennya di mata gue. Tindakan lo tuh memalukan."


Melihat Bagas yang hanya diam saja mendengarkan Ami pun melanjutkan lagi perkataannya. "Apa lo pernah mikirin resiko yang akan lo dapetin dari perbuatan lo? Penyakit kelamin bisa aja udah ada dalam tubuh lo saat ini. Bagaimana kalo orang tua tuh cewek lo nuntut lo ke polisi. Hancur hidup lo Gas kalo sampe lo ngedekem di penjara. Dan satu lagi, lo tuh masih ada Tuhan Gas. Setiap perbuatan lo, baik itu benar maupun salah pasti akan ada balasannya. Okelah gak akan dibales dalam hidup lo, kalo sampe dibales ke anak perempuan lo nanti gimana? Lo paling cuma bisa nangis-nangis menyesali perbuatan lo di masa lalu."


"Ini memang hidup lo Gas. Bukan hidup gue. Lo mau jungkir balik depan-belakang kiri-kanan juga gue gak peduli. Tapi saat lo ngerusak orang lain, berarti lo bertanggung jawab atas kerusakan yang lo buat. Gue emang gak secantik pacar-pacar lo sehingga siapa sih gue dimata lo? Gue emang gak banyak pacar malah sering di selingkuhin, tapi satu yang pasti.... Gue gak mau diri gue haus pujian seperti lo. Biarlah gue dianggep jelek, gak laku atau whatever lah. Gue gak peduli. Tapi satu prinsip gue, jangan sampai gue ngerusak hidup orang lain."


Ami mengambil jaket miliknya yang Ia taruh di motor Bagas. "Gue balik. Pikirin semua kata-kata gue. Kalo lo gak mau denger... terserah. Gue gak peduli lagi sama hidup lo, seperti lo yang gak pernah peduli kalo udah ngehancurin hidup orang."


Ami pun meninggalkan Bagas yang sejak tadi menundukkan wajahnya. Ia pun memberhentikan angkot dan pulang sendiri ke rumahnya. Hatinya marah. Emosi. Kesal dan pastinya kecewa. Namun satu yang pasti, Ami berjanji saat itu adalah terakhir kalinya Ami menyukai Bagas.

__ADS_1


⚘⚘⚘⚘⚘ Ayo jangan lupa di like dan di vote novel ini. Biar masuk top rangking gitu. Aamiin.⚘⚘⚘⚘😘😘😘


__ADS_2