
Ketika orang yang kita cintai pergi ada kekosongan yang terasa. Baik kekosongan di dalam hati maupun kekosongan di tempat Ia biasa melakukan aktifitas setiap harinya.
Itulah yang dirasakan oleh Ami. Biasanya Ia sarapan pagi bersama di meja makan sekarang meja makan tersebut terasa kosong. Ibu Budi bahkan lupa kalau Bapak Budi sudah pergi, Ia tetap menyediakan ikan asin gabus di meja makan seperti biasa. Saat menyadari kalau penyuka ikan asin tersebut sudah pergi untuk selamanya Ia lalu menangis lagi sesegukan di dalam kamar. Suara tangisnya yang lirih terdengar di sampai ke kamar Ami yang letaknya bersebelahan dengannya.
Ami ikut menyeka air mata yang jatuh ke pipinya. Ia mulai merasa kehilangan Bapak. Ia berpikir Bapak sejak kemarin Bapak sedang keluar kota dan belum kembali, namun Bapak sudah 2 bulan pergi dan tak akan pernah kembali lagi.
Kesedihan ibarat kalender akhir tahun yang harus ditutup. Waktunya bangkit dan menata masa depan. Kehilangan sumber pencari nafkah satu-satunya merupakan suatu goncangan di keluarga Ami.
Bagaimana tidak, Karya Akhirnya sudah hampir selesai. Sudah di acc dosen pembimbing. Hanya tinggal mendaftarkan untuk sidang.
Ami memegang kertas berisi pemberitahuan biaya wisuda dengan perincian biaya sewa gedung dan konsumsi. Biayanya satu juta rupiah. Harus dibayarkan 1 bulan lagi.
Ami membuka dompetnya, sisa 150 ribu. Itu pun fee terakhir Ia kerja. Mau minta sama Ibu tapi tak tega. Uang simpanan Bapak sudah habis untuk pengobatan dan biaya sehari-hari. Uang pensiun Bapak belum keluar karena menunggu proses perubahan status.
Bagaimana caranya Ami dapat melunasi biaya wisuda? Ami berdoa agar diberikan jalan keluar atas masalahnya oleh Allah.
Jawaban atas doa Ami pun dikabulkan. Ia mendapat telepon dari salah satu agencynya kalau ada lowongan kerja selama 2 minggu. Ami pun segera pergi ke kantor agency dengan penampilan terbaiknya.
Ami lolos dalam seleksi dan Ia akan ditempatkan di daerah kota. Kebetulan dekat dengan rumah saudaranya.
***********
Ami menawarkan produk kepada setiap cowok yang lewat depan standnya. Dengan memakai kaus merah ketat dan celana pendek hitam diatas lutut Ia semangat menjual produknya agar targetnya tercapai dan Ia dapat bonus.
Tak ada yang tau dari keluarga Ami kalau Ia berseragam seksi seperti itu dalam bekerja. Mau bagaimana lagi, walau berpakaian seksi namun pekerjaannya halal. Ia butuh uang secepatnya untuk bayar uang wisuda dan menghard cover Karya Akhirnya.
Cobaan belum berakhir, pulang kerja Ia sering digodai oleh cowok-cowok hidung belang yang ternyata menunggunya selesai kerja. Kalau Ami wanita murahan, maka Ia akan masuk ke dalam mobil cowok tersebut. Tentu saja Ami tidak melakukannya. Ia bahkan berjalan dengan tangannya yang gemetar ketakutan.
Dengan bermodalkan uang 150 ribu rupiah, Ami bertahan hidup selama 2 minggu. Tak mau menyusahkan saudaranya Ia bahkan menolak saat tantenya mau memberi uang saku.
Ami ingin menangis, tapi Ia malu dengan Bapak. Ia sudah berjanji akan kuat menjalani hidupnya. Ia akan mandiri, dan Ia memegang teguh janjinya yang Ia buat di malam terakhir Bapak sebelum menghembuskan nafas terakhir.
Ami menghela nafas lega saat hari terakhir eventnya selesai. Targetnya tercapai dan itu artinya Ia akan membawa pulang uang satu koma dua juta rupiah. Ya, event feenya memang kecil tapi jika dikalikan 14 hari maka Ia bisa menutupi biaya wisuda.
__ADS_1
Di rumah Ami menyerahkan surat dari kampus. Ia juga memberitahu Ibu Budi kalau Ia sudah memiliki uang untuk membayarnya. Tak tega melihat perjuangan putrinya selama 2 minggu, Ibu Budi pun menyumbang setengah dari biaya wisuda agar sisanya Ami bisa gunakan untuk keperluan lainnya.
*********
Sidang skripsi sudah. Hanya tinggal menunggu waktu wisuda saja. Saat sedang iseng melamar pekerjaan di warnet ternyata Ami langsung mendapat panggilan kerja untuk salah satu Bank terkenal di Indonesia. Statusnya masih karyawan outsourcing.
Ami pun lolos dan diterima bekerja. Ia amat senang bukan kepalang, Ia yakin kalau Ia bisa mandiri dan bahkan bisa membahagiakan Ibu Budi, orang tuanya yang tinggal satu-satunya tersebut.
Sudah 2 bulan lamanya Ami bekerja di Bank B. Pekerjaannya sebagai admin telemarketing yang harus menelepon nasabah terkait pengiriman dari Bank yang retur. Ia mendengar kabar kalau di kantornya butuh karyawan untuk menjadi telemarketing.
Mungkin sudah takdir, sebuah telepon masuk di malam hari mengagetkan Ami. Rian. Ada apa Rian meneleponnya?
Rian : Hi! Mi. Apa kabar?
Ami : Baik. Lo gimana?
Rian : Baik juga. Lo sibuk apa Mi?
Ami : Gue udah kerja, Yan. Udah 2 bulan ini.
Ami : Gue pakai surat keterangan lulus. Di Bank B. Masih outsourcing sih tapi lumayanlah daripada gak ada kerjaan di rumah aja suntuk. Lo gimana?
Rian : Masih nyari-nyari nih. Ada lowongan gak di tempat lo?
Ami : Ada. Jadi telemarketing. Mau?
Rian : Mau...Mau... Syaratnya apa? Gue ke rumah lo sekarang ya?
Ami : Lo mau ke rumah gue?
Rian : Iya, sekalian bawa surat lamaran. Lo sms aja alamat lo dimana oke?
Ami memutus sambungan teleponnya. Ia masih tidak percaya dengan apa yang Ia dengar. Rian mau ke rumahnya? Ami menggelengkan kepalanya. Tidak... Rian hanya mau mengantarkan surat lamarannya. Tidak lebih. Ia sudah mengubur semua perasaannya baik pada Rian maupun Bagas. Ia hanya fokus mencari uang agar bisa membahagiakan Ibu Budi sebelum Ia terlambat. Ia tidak mau telat membahagiakan orangtuanya seperti Bapak dulu.
__ADS_1
Sesuai janji, jam 7 malam Rian pun sampai di depan rumah Ami. Senyum Rian langsung mengembang melihat Ami keluar dari rumahnya dan menyambut kedatangannya.
"Hi Mi!" sapa Rian.
"Masuk Yan." Ami mempersilahkan Rian masuk. Ia lalu membuatkan segelas teh manis dan menyuguhkan setoples biskuit. Ibu Budi sudah biasa jika ada teman laki-laki Ami yang datang jadi Ia tidak banyak bertanya.
Ami menghidangkan teh di meja. Mata Rian tak lepasnya memperhatikan Ami yang sudah lama tidak Ia lihat keberadaannya. "Diminum Yan."
"Iya."
Ami pun duduk di kursi di seberang Rian. Hening sejenak diantara mereka. Maklum saja, hampir setahun Ami tidak menghubungi Rian. Ia bahkan tidak duduk di samping Rian lagi jika mata kuliah mereka sama.
"Ehem." Rian berdehem untuk mencairkan suasana. "Oh iya ini surat lamaran gue. Gimana udah bener belum?" Rian memberikan amplop cokelat berisi surat lamaran dan Cv miliknya.
"Sini gue lihat dulu." Ami membuka amplop cokelat yang Rian berikan. Hal yang langsung menarik perhatian Ami adalah foto Rian yang amat tampan di paling depan. Ia terlihat ganteng mengenakan kemeja berdasi serta jas hitam.
Ami memeriksa kelengkapan berkas yang Rian lampirkan. "Hmm... udah lengkap kok. Besok gue bawa ke kantor ya. Kalau lo di telepon bilang aja lo dapet info dari Kamidia bagian Admin ya."
"Siap." Rian menyunggingkan senyumnya lagi. "Makasih ya Mi. Lo udah mau bantuin gue."
"Santai aja lagi. Kalau gue bisa akan gue bantu. Tenang aja." Ami membalas senyum Rian.
"Oh iya lo kemana aja sih Mi gak pernah keliatan di kampus?" Rian menanyakan pertanyaan yang sejak lama Ia ingin tanyakan.
"Kenapa? Mau minta disalamin sama Intan lagi? Apa mau gue kirimin nomor Intan?" Ami tersenyum menanggapi perkataannya yang sinis.
"Ih orang gue nanyain lo bukan Intan. Biasanya kan lo suka nongkrong sama temen-temen lo. Ini lo gak pernah ada di kampus." memang benar Rian tidak ingin menanyakan tentang Intan. Ia beneran nanyain Ami.
"Gue kerja Yan. Gue harus nyari duit buat bayar uang wisuda. Makanya gue gak nongkrong di kampus kayak biasanya."
"Loh bukannya bokap lo yang biayain ya? Lo kerja biasanya buat uang jajan aja."
"Bokap gue meninggal yan. 3 bulan sebelum batas terakhir gue harus bayar uang wisuda."
__ADS_1
Rian terdiam. Ia tahu Ami dalam kesedihan dan keterpurukan. Bahkan Rian tidak tahu kalau Bapaknya Ami meninggal. Ah teman macam apa Dia?
⚘⚘⚘⚘ Cuma mau bilang, jangan lupa like dan vote ya. Maacih.. 😘😘😘⚘⚘⚘