Warm Your Heart

Warm Your Heart
Bab 51


__ADS_3

Perlahan Ami mulai menyibukkan dirinya agar bisa secepatnya move on. Ia berterima kasih atas niat baik Bagas yang ingin membantunya namun Ami sadar hal tersebut malah membuat Ami makin mengingat Rian.


Ami perlahan mulai mengurangi bahkan menghindari jalan bareng dengan Bagas. Ia mulai menikmati hidupnya.


Pertama yang harus dilakukan kalau mau move on adalah lupakan sifat ketergantungan. Yang bikin susah itu karena kita biasa bergantung pada pasangan jadinya apa-apa selalu aja teringat dan ujung-ujungnya susah lupa. Andai ada Dia... Kalau sama Dia pasti akan... Dan berbagai andai-andai yang lain.


Ami selalu bergantung pada Bagas karena Ia biasa dimanjakan Bagas. Berangkat dan pulang kerja selalu diantar jemput, karena itu hal pertama yang Ami lakukan adalah membeli motor.


Ami mengambil kreditan motor dan mencicilnya dengan gaji bulanan miliknya. Motor beres selanjutnya adalah SIM atau Surat Ijin Mengemudi. Ami yang sempat gagal dalam membuat SIM, bahkan sampai belajar 3 hari untuk mempelajari materi ujian SIM. Akhirnya Ami berhasil mendapatkan SIM dengan jujur dan hasil usah sendiri.


Kedua, menyingkirkan semua hal-hal yang membuat Ami terkenang dengan Rian. Ami melihat Hp Blackberry pemberian Rian, kalau Ia pakai Hp tersebut Ia selalu teringat siapa yang memberikannya. Karena itu Ami memutuskan untuk mengganti Hp miliknya.


Ami membeli Hp Android terbaru. Bukan yang amat mahal namun lumayanlah cicilan tiap bulannya. Motor baru dan Hp baru. Pikirannya fokus pada membayar utang cicilan.


Ketiga, Rian suka memberikan barang-barang kesukaan Ami. Contohnya tas. Ami mulai membeli barang-barang seperti tas branded dengan uang gajinya sendiri, ada kepuasan batin saat Ia melakukannya. Hasil kerjanya tidak sia-sia.


Keempat, Rian selalu mengajaknya jalan dan nonton. Hmm.... Ami pernah nonton dengan Bagas namun malah teringat Rian terus, karena itu Ia memilih untuk lebih banyak lagi nonton drakor di rumah. Gak perlu mengingat kenangan manis mereka lagi.


Dan... berhasillah Ami move on. Ia sudah melupakan keberadaan Rian. Mungkin masih ada nama Rian di dalam hatinya namun Ami bisa melanjutkan kembali hidupnya.


*******


Satu tahun kemudian.....


Ami memotong rambutnya sampai sebahu. Rambut yang selama ini dibiarkannya panjang. Ia pun diet ketat dan berhasil menurunkan berat badannya lagi setelah sebelumnya bertambah sampai Bagas pun ikutan comment.

__ADS_1


Ami sedang mengobrol dengan saudara sepupunya di teras rumah. Ia iseng membuka aplikasi Facebook. Ami sudah tidak berteman dan tidak stalking ke FB milik Rian sejak Ia tahu Rian sudah dekat dengan cewek lain.


Ami menscroll Hp nya dan berhenti pada postingan milik kakak perempuan Rian, Kak Ani. Dalam postingannya Kak Ani meminta bantuan siapapun yang memiliki golongan darah O agar mau mendonorkan darahnya untuk ibunya yang sedang sakit.


Deg... Jadi Ibunya Rian sedang sakit dan membutuhkan donor darah? Ami yang memang dekat dengan keluarga Rian karena beberapa kali sudah main ke rumahnya merasakan hatinya tergerak.


Ami memiliki golongan darah O. Tanpa pikir panjang Ami pun langsung mengambil jaket dan kunci motornya lalu pergi ke tempat dimana Ibu Rian di rawat. Tak lupa Ia menelepon Ka Ani agar memberitahukan dimana kamar Ibu Rian berada.


Sebelum sampai rumah sakit, Ami mampir sebentar ke toko donut dan membelinya. Ka Ani bilang Ia menunggu Ami di dalam kamar. Ka Ani juga bilang kalau hanya Ia sendirian di kamar tersebut, yang artinya Ami tak perlu sampai bertemu dengan Rian lagi. Baguslah. Jangan sampai usaha move on nya selama ini gagal.


Ami mencari kamar Anggrek No. 10 tempat Ibu Rian dirawat. Ada beberapa pasien dalam ruangan tersebut. Pandangan mata Ami tertuju pada sosok Ibu Rian yang terbaring lemah di tempat tidur. Seorang diri.


Ibu Rian yang melihat kedatangan Ami langsung tersenyum.


Ami berjalan mendekat, betapa kagetnya Ia saat melihat Rian sedang dalam posisi sujud dalam solatnya. Mau mundur dan pergi kembali tidak mungkin, Ibu Rian sudah melihatnya.


Ami menghela nafasnya dan menenangkan diri. Ia harus profesional. Tujuan Ia datang adalah mau menolong Ibu Rian. Ami melebarkan senyumnya.


Ami menghampiri dan mencium tangan Ibu Rian. Ibu Rian pun langsung memeluk Ami. Ami meletakkan donut yang Ia bawa di lemari samping tempat tidur.


"Ibu sakit apa? Maaf ya Ami gak tau. Ami baru tau saat baca postingan Ka Ani." kata Ami.


"Ibu habis operasi pengangkatan rahim. Ya Allah Ami, maaf ibu jadi ngerepotin Ami."


"Ibu jangan bilang begitu. Maaf Ami baru datang sekarang. Oh iya katanya Ibu butuh darah O ya? Kebetulan golongan darah Ami O. Semoga Ami bisa bantu donor ya Bu." ucap Ami dengan penuh ketulusan.

__ADS_1


"Makasih ya Mi. Oh iya tadi Ani ijin pulang. Anaknya nangis karena lagi sakit juga di rumah. Hmm.... sebentar deh." Ibu Rian melihat kalau Rian sudah selesai solat dan hendak melipat sejadahnya. "Yan, ada Ami. Nanti kamu yang antar ke tempat donor ya."


"Iya Bu." Rian menyerahkan air mineral untuk Ami minum dan memberikan kursi agar Ami bisa duduk. "Minum, Mi."


Rian lalu meninggalkan Ami dan Ibunya berdua di kamar agar bisa saling mengobrol. Ia pun berdiri di depan kamar sambil melihat pekarangan rumah sakit.


10 menit kemudian terlihat Ami keluar dari kamar Ibunya, sepertinya Ami hendak mendonorkan darahnya dan minta dirinya mengantar.


"Lewat sini, Mi." Rian pun menunjukkan jalan menuju tempat donor darah.


Rian lalu mendaftarkan nama Ami sebagai pendonor. Ami melakukan pemeriksaan dan ternyata Ia tidak bisa donor darah dikarenakan tensi darahnya yang rendah. Ami sungguh sedih karena Ia tidak bisa membantu padahal Ia sudah niat jauh-jauh datang kesini tapi ternyata gagal.


"Maaf ya Yan. Gue gak bisa bantu." kata Ami sambil tertunduk sedih.


"Gak apa-apa Mi. Nanti siang kata Ka Ani ada anak muridnya yang mau bantu donor. Gak usah dipikirin. Dan.... makasih udah mau datang kesini." Rian memberanikan diri menatap Ami.


Penampilan Ami benar-benar berubah sekarang. Lebih cantik dan terlihat segar. Apa karena pacarnya yang sekarang lebih memperhatikannya dibanding saat beramaku dulu?- Rian.


"Oh syukurlah kalau masih ada lagi yang mau donor. Hmm... gue mau balik pulang. Gue pamit sama Ibu dulu ya." Ami pun balik kembali ke kamar Ibu Rian san berpamitan sebelum pulang.


"Makasih ya Mi udah datang. Gak usah Ami pikirin masalah gak bisa donor. In sha Allah nanti ada lagi yang mau donor. Biar Rian yang antar Ami ya sampai parkiran." Ibu Rian pun menyuruh Rian mengantarkan Ami.


Suasana canggung terjadi diantara mereka. Setahun sudah mereka putus dan tak ada komunikasi diantara keduanya. Saat ini baik Ami maupun Rian sibuk menenangkan debaran jantung mereka yang berdegup kencang.


Rian mengantarkan Ami sampai ke parkiran motor. Tanpa mengucap sepatah katapun Rian hanya melihat kepergian Ami. Ia melihat ke telapak tangannya. Mereka bahkan tidak berjabat tangan padahal dulu Ia paling senang menggenggam tangan Ami.

__ADS_1


__ADS_2