
Jam 3 kurang 10 menit waktu di handphone milik Rian. Sejak tadi Ia terus mengamatinya. Kelas Rian sudah selesai sejak jam 2 siang tadi.
Tidak biasanya Rian masih nongkrong di kampus. Biasanya selesai kuliah Ia langsung pulang dan menikmati makan siang masakan ibunya di rumah. Namun hari ini berbeda.
Ada rasa penasaran yang tak pernah Ia rasakan sebelumnya. Penasaran dengan siapa Ami akan bertemu. Ah ada apa dengan dirinya? Kenapa Ia seingintahu seperti ini?
Saat tadi sayup-sayup mendengar Ami berbicara di telepon, Rian punya perasaan kalau orang yang bicara dengan Ami adalah seseorang yang spesial. Terlihat jelas di wajah Ami yang kaget saat mengetahui siapa yang meneleponnya.
Ami bilang kalau Ia di kampus dan akan pulang jam 3, lalu tak lama telepon diputus sepihak. Kalau Rian jadi penelepon pasti Rian akan datang ke kampus Ami. Itulah pengamatan Rian. Karena itu Rian masih menunggu sambil pura-pura nongkrong dengan teman sekelasnya di depan kampus.
Jam 3 tepat. Rian melihat Ami keluar dari kelasnya dan berjalan sambil berbicara di telepon. Ami tidak melihat keberadaannya dan berjalan lurus ke depan.
Sambungan teleponnya dimatikan, Ami lalu memasukkan teleponnya ke dalam tas selempang yang Ia pakai. Ami mengedarkan pandangannya mencari seseorang.
Pandangan mata Ami berhenti saat melihat seorang cowok yang menaiki motor Vixion warna merah yang melambaikan tangannya pada Ami. Sorot mata Rian tak lepas memperhatikan pemandangan di depannya.
Ami menyebrang jalan dan menghampiri cowok tersebut. Dalam hati Rian terus bertanya, siapakah cowok tersebut? Apakah itu cowoknya Ami?
Cowok tersebut membuka helm full face yang Ia kenakan. Helm mahal bermerk Arai yang harganya lumayan mahal untuk kantong mahasiswa seperti Rian yang hanya mengandalkan uang jajan dari orang tuanya.
Apakah cowok tersebut anak orang kaya? Motornya terlihat baru dan masih mulus. Helmnya mahal. Sepatu yang dipakainya Nike Ori. Jaketnya juga lumayan bagus. Ganteng pula. Wah Ami pintar juga mencari pacar. Jauh jika dibandingkan dengan Rian.
Hati Rian pun menciut. Ada rasa tidak percaya diri dalam dirinya. Ah apa yang Rian pikirkan? Baru saja Ami berteman dengannya kenapa Ia malah kegeeran dan berpikir Ami menyukainya? Sudah jelas Ami punya pacar.
Rian terus memperhatikan gerak gerik Ami dan cowoknya. Terlihat Ami wajahnya sebal, mungkin mereka sedang bertengkar. Berbeda dengan wajah cowok tersebut, Ia tersenyum senang melihat Ami. Ia pun langsung mengacak-acak rambut Ami. Dekat sekali mereka. Ternyata memang benar mereka berpacaran. Rian lalu pamit pada teman-temannya dan pulang ke rumah. Tidak ada untungnya memandangi orang berpacaran terus.
****
__ADS_1
Ami menyambut kedatangan Bagas dengan muka juteknya. Ia masih sebal dengan Bagas. Setiap melihat Bagas Ia masih mengingat perkataan Bagas dulu. Selalu terngiang-ngiang di telinganya dan membuatnya membenci perbuatan yang Bagas lakukan.
"Hi mahasiswi cantik!" sapa Bagas sambil tersenyum lebar.
"Kenapa dateng kesini?" tanya Ami to the point dan tanpa seutas senyum yang terukir di wajahnya.
"Ih jutek banget. Cantik banget sih lo Mi. Jadi gemes deh gue." Bagas pun mengacak-acak rambut Ami, kebiasaannya sejak dulu.
"Iiih.. apaan sih. Jadi berantakan nih." omel Ami. Ia pun merapikan kembali rambutnya.
"Cie.... sekarang rambutnya berantakan sedikit langsung dibenerin loh. Dulu dibiarin aja berantakan."
"Au ah. Lo kenapa sampai datang kesini? Ada perlu apa?" lagi-lagi Ami berbicara dengan nada malas.
Bagas menyadarinya. Terakhir kali mereka bertemu memang terlihat dengan jelas kalau Ami sangat kecewa padanya. Ia bingung bagaimana harus meminta maaf atas perbuatannya. Ia sadar selama ini sudah kelewat batas. Namun sekali Ia melanggar batas maka Ia akan terus melanggarnya.
Sekali berbuat dosa maka Ia akan terus mengulanginya, apalagi dosa yang berbau kenikmatan duniawi... wuih... susah lepasnya. Bagas kembali tersenyum, Ia tahu dibalik ngambeknya Ami, dibalik sikap juteknya Ami, terdapat ketulusan didalamnya. Hanya Ami yang benar-benar peduli dan sayang padanya dengan tulus.
Bagas kembali tersenyum, senyum yang membuat Ami memaafkannya dengan mudah. Ami selalu kalah kalau Bagas sudah tersenyum seperti itu. Bukan karena Bagas ganteng, namun karena rasa sayangnya lebih besar daripada rasa marahnya.
Ami pun naik motor Bagas dan mereka pun meninggalkan kampus Ami. Kampus Ami jauh dari Mall. Bagas mengajak Ami ke Mall dekat rumah mereka, sekalian arah pulang.
Di dalam Mall, Bagas mengajak Ami ke KFC. Bagas menyuruh Ami menempati tempat duduk sementara Ia memesankan makanan untuk mereka berdua.
Tak lama Bagas membawakan makanan untuk mereka berdua beserta saus yang sudah Ia ambil sekalian. Ia juga menyajikan makanan untuk Ami.
Ami yang lapar karena belum makan siang langsung menyantap makanannya, tentunya setelah mencuci tangan terlebih dahulu.
__ADS_1
"Ini nih yang gue suka dari lo. Gak pake jaim. Laper ya makan. Gak kayak cewek-cewek lain yang makannya malu-malu." puji Bagas pada Ami.
"Ah bilang aja kalau gue makannya banyak. Bodo ah. Gue laper. Dari tadi sibuk kuliah dan rapat organisasi cuma sempet ngemil siomay. Gak nampol." jawab Ami sambil menikmati makan siangnya dengan nikmat.
"Lo gak bilang kalo lo kuliah Mi. Bukannya lo gak diijinin sama bokap lo?" Bagas memulai percakapan diantara mereka.
"Ya akhirnya diijinin setelah gue ngambek seminggu lebih. Lo sendiri sekarang sibuk apa? Kuliah apa kerja? Apa sibuk pacaran?" pertanyaan sekaligus sindiran untuk Bagas.
Bagas tersenyum, Ia tahu bagaimanapun Ami kan cewek. Pasti masih mengungkit masalah kemarin. "Gue kerja Mi."
"Dimana?" Ami hampir menghabiskan makanannya. Bagas yang memang tidak terlalu lapar memberikan sebagian miliknya pada Ami. Mereka memang terbiasa begitu sejak sekolah. Minum satu sedotan saja sering. Gak ada tuh istilahnya Bagas takut kulit ayamnya diambil Ami.
Tanpa sungkan Ami melahap makanan yang Bagas berikan. Ia benar-benar lapar.
"Di perusahaan A."
Ami mengangkat wajahnya karena kaget. "Wuih keren. Itu kan salah satu perusahaan otomotif terbesar di Indonesia. Pantesan aja motor lo sampai ganti baru."
"Ya gitu deh. Tapi gue masih jadi kacung Mi. Bentar lagi pengangkatan jadi karyawan tetap."
Ami mengangkat dua jempolnya yang salah satunya berlumuran bekas saus. "Top deh. Ah tau gitu tadi gue minta dibeliin steak aja sama lo."
Bagas tersenyum kembali. Bener-bener Ami gak ada jaim-jaimnya mau minta apa aja sama Bagas tanpa malu-malu. Bagas pamit sebentar untuk mencuci tangan.
Saat Bagas kembali Ami masih asyik makan ayam sampai bersih. Di wajahnya bahkan ada bekas saus yang menempel. Bagas mengambil tissue dan mengelap wajah Ami, membuat Ami yang sedang asyik makan menjadi malu.
"He..he..he... berantakan ya. Jadi gak enak nih sama lo. Udah biar gue aja yang bersihin nanti." Ami hendak menolak kebaikan Bagas namun Bagas acuh, Ia tetap membersihkan bekas saus di wajah Ami.
__ADS_1
"Kalau tidak buru-buru dibersihkan nanti muka lo kepedesan Mi." Selesai membersihkan Bagas masih menatap wajah Ami. "Lo cantik Mi. Kalau aja sejak dulu lo merawat penampilan lo pasti banyak yang naksir sama lo. Termasuk gue."
Deg.... hilanglah sudah nafsu makan Ami (udah abis sih sebenarnya makanan di piring Ami). Sudah bisa dipastikan wajahnya kali ini pasti memerah. Ami pun pamit hendak mencuci tangan, sekaligus menenangkan jantungnya yang berdebar tidak karuan.