
Hari ini tepat Anniversary Clara dan Bram yang ke 9 bulan dan hari ini pula adalah hari terakhir mereka bersama karena malam nanti Bram akan ke pulau J untuk kuliah. Clara semakin gelisah dia ingin sekali bersama Bram seharian tapi Bram tidak mengizinkannya untuk bolos sekolah lagi. Sesampainya Clara di sekolah yang di antar oleh Bram tiba-tiba Hp Clara rusak dan tidak bisa di nyalakan Clara pun semakin panik dan ingin menangis dia tidak tau lagi harus berbuat apa. Air matanya sudah sedari tadi membasahi wajah yang sayu nya memang Clara semenjak mengetahui Bram akan pergi hampir setiao hari dia menangis.
Di tengah kegalauannya Clara tiba-tiba mengambil tas nya dan berlari keluar kelas dan dia melihat Reni yang baru saja datang menggunakan motor.
"Ren.. Tolong aku please.. Anter aku ke rumah kak Bram yahh.. Hp ku rusak" mohonnya sambil terisak. Karena tidak tega akhirnya Reni mengantarkan Clara ke rumah Bram pagi itu. Sebenarnya Reni ingin sekali bertanya kenaoa harus membawa tas nya tapi dia merasa ini bukan waktu yang pas untuk bertanya melihat Clara yang kelihatan berantakan dan sesekali terisak pedih.
Sesampainya di rumah Bram, Reni melihat Clara berlari masuk menghampiri Bram dan mendengarkan Clara yang menangis histeris melihat Bram tengah memeriksa rumah nya yang sebentar lagi dia tinggalkan. Reni ikut menangis melihatnya. Karena merasa pasangan itu butuh waktu, akhirnya Reni meninggalkan Clara tanpa pamit hanya mengirimkan pesan singkat bahwa dia telah kembali ke sekolah.
Clara memeluk Bram erat
"Kak Please jangan tinggalin Clara sendiri yaa. Aku gak punya siapa-siapa.. gak ada yang sayang sama aku dan gak akan ada yang perhatian sama aku. Kalau aku sakit gimana kak? Yang temenin jalan-jalan siapa kak? Siapa lagi yang suapin aku kalau sakit kak?please.. Kak. Kenapa harus jauh? Apa bersamaku bukan cita-cita kakak" Clara menangis histeris jujur saja dia sangat tidak kuat menghadaoi semuanya sendiri. Dia sudah terbiasa dengan keberadaan Bram yang selalu melindungi, memanjakannya, dan menyayanginya selama ini. Clara yang ceria seolah sudah hilang dengan di gantikan dengan Clara yang penuh dengan rasa kecewa dan tatapan kosongnya.
"Sayang.. Heyy. Kamu bisa menyusul ku untuk berkuliah di sana.. Kalaupun tidak.. Aku akan pulang setiap libur semester. Kakak sangat menyayangimu.. Berjanjilah untuk tidak sakit karena aku jauh tidak bisa menyuapi mu yang manja ini.. Berjanjilah untuk selalu baik-baik saja... Hemm?" ucap Bram penuh sayang sambil mengelus pipi Clara. Wajah yang dulunya selalu di penuhi senyuman ceria kini hanya ada air mata yang memenuhi nya. Bram sangat sulit untuk melangkah tapi ini sudah dia cita-citakan. Ini impiannya juga. Dia ingin memantaskan diri sebelum mendampingi Clara.
"Kak.. Aku sakit kak.. Sakittt.. Aku gak tau harus gimana kalau kakak pergi.. Aku sangat menyayangi mu kak.. Ku mohon aku akan sangat kesepian. Aku gak tau harus sama siapa kak semua orang jahat padaku"
"kita masih bisa telponan atau bisa Vidio Call sayang" Bram mengernyit karena pegangan Clara tiba-tiba terlepas dan sudah tudak mendengarkan isakan Clara. Dia mengangkat wajah Clara ternyata Clara sudah tidak sadarkan diri. dia tau fisik Clara itu lemah tapi yang dia tau Clara tidak pernah pingsan sekali pun. Bram pun membawa Clara ke Sofa ruang tamu nya untuk membaringkannya dan dia mengambil minyak kayu putih dan menggosokkan nya ke hidung dan telapak kaki Clara yang sangat dingin. Tiba-tiba saja Clara mengigau
"Jangan pergi.. Aku sama siapa.. Hikss.. Hikss.." kata-kata itu sudah sangat sering Bram dengar tapi kali ini Bram merasakan sakit yang menjalar ke hati nya karena mengingat sebentar malam dia akan meninggalkan Clara yang kondisinya sangat tidak stabil.
Bram tidak tau harus berbuat apa lagi untuk meyakinkan Clara bahwa semua akan baik-baik saja tanpanya walaupun sebenarnya dia merasa dia tidak baik-baik saja. Tapi dia juga tidak boleh egois karena terselio harapan orang tuanya padanya. Karena khawatir, Bram memanggil dokter praktek untuk menangani Clara karena Clara tidak kunjung sadar.
Setelah 30 menit menunggu dokrer pun datang dan langsung memeriksakan Clara.
"Dia sudah pingsan sejak tadi?" tanya sang dokter kepada Bram
__ADS_1
"Iya Dok hampir 1 jam dan dia hanya mengigau beberapa kali"
"perutnya kosong dek dan dia terlalu stres dan tertekan. Kalau sadar nanti beri dia susu hangat atau air hangat lalu beri makan yahh. adek tidak perlu khawatir"
"iya dok. terima kasih"
"iya.. Sama-sama.. Saya pamit ke klinik dulu yah"
Bram mengantarkan sang dokter sampai di depan rumahnya. Setelah itu Bram bergegas masuk dan memanaskan air untuk Clara minum jika nanti sadar setelah itu kembali duduk di dekat Clara. Sekitar 10 menit Clara tiba-tiba membuka matanya dan meneteskan kembali air matanya
"Sayang.. Maaf sudah egois" ucap Clara sambil tertunduk sedih lagi
"shhh.. Tidak usah di pikirkan dulu yahh.. Sekarang kamu minum" sambil menyodorkan segelas air hangat ke mulut Clara.
"Clar, kamu jarang makan yah? Atau kamu gak pernah makan?"
"Clara mau makan apa? Kakak beliin mau? Sekalian perbaikin Hp kamu yahh.. mau di suapin?"
"aku makan mie ayam boleh kak?" yahh karena selama ini Bram selalu melarangnya makan mie ayam. Clara hanya boleh makan nasi saja apalagi saat bersamanya
"ya sudah mau makan di rumah atau makan d warung dek?"
"Di warung saja kak, sekalian langsung pulang" Bram pun langsung meng iyakan permintaan Clara dan bergegas mengambil jaket nya
"Ayo dek" Clarapun langsung naik ke rumah Bram setelah menutup pintu.
__ADS_1
Sebelum ke warung mie ayam, Bram membawa Clara ke tempat servis Hp terlebih dahulu tapi sayangnya Hp Clara tidak bisa di perbaiki karena keterbatasan alat
"Gak apa kok. Nanti juga ada gantinya. Kita makan sekarang ya kak" Clara terlihat lebih tegar kali ini. Entah apa yang terjadi saat Clara pingsan tadi karena tiba-tiba saja Clara menjadi sosok yang sangat tegar.
Setelah pesanan mie ayam nya datang, Clara langsung melahap nya
"ini sangat enak kak. Makasih yahh.. Aku akan rindu ke tempat ini nanti. Makasih yah kak" ucap Clara sambil tersenyum senang tapi Clara melihat nya merasakan sakit. Dia sangat tau kalau Clara ber pura-pura tegas di hadapannya.
"Habiskan lah" ucap Bram dan Clara langsung menangguk. Tidak butuh waktu yang lama Clara sudah menghabiskan mie ayam nya dan langsung berjalan keluar sambi menunggu Bram membayarnya
Di perjalanan, Clara tidak henti-hentinya berbicara dan bernyanyi
"Yang.. Nanti sering-sering telpon yahh.. Jangan nakal yah aku mempercayai mu heheh.. Aku tunggu di sini ya kak" suara yang terdengar ceria tapi sangat jelas menyimpan luka
Sesampanya di rumah Clara, dia langsung saja me lompat dari motor
"makasih yahh tumpangan terakhirnya. Sebentar kakak ke sini kan sebelum pergi?"
"iya. Sekarang mau ke rumah orang tua ku dulu. Kakak pergi ya"
"hati-hati kak"
Sepeninggal Bram, Clara langsung menghela nafas beberapa kali untuk menetralkan perasaannya sebelum masuk ke dalam rumah. Dia harus memperlihatkan senyum ceria nya kepada keluarga nya. Dan itu selalu berhasil tapi dia selalu menangis sendirian entah itu di malam hari setelah semua orang terlelap atau di kamar mandi.
Sebenarnya hal itu tidak baik untuk kesehatan Clara jika selalu memendam kesedihannya sendirian tapi dia pun tidak tau harus bercerita kepada siapa dan bagaimana memulainya.
__ADS_1
Kehadiran Bram memang menjadi angin segar untuk Clara yang kesepian dan haus kasih sayang karena selalu di perlakukan tidak adil.