
Bram memutuskan liburan semester nanti dia tidak akan pulang. Dia ingin menyelesaika kuliahnya secepat mungkin.
Sedangkan Clara yang awalnya berniat untuk berlibur ke kota B untuk menemui Bram ia urungkan karena COVID. Di tengah sikap cuek Bram padanya, dia tetap menghubungi Bram untuk menanyakan keadaannya dan mengingatkannya untuk menjaga kesehatannya di tengah COVID yang semakin meningkat. Sebenarnya ingin sekali Clara bertemu Bram karena sudah beberapa kali melakukan kesalahan dengan menyimpan rasa nyaman pada laki-laki lain. Selama ini, walau sebaik apapun laki-laki yang mendekatinya Bram tetaplah yang paling baik dimatanya.
Untuk mengurangi rasa rindunya, mereka hanya melakukan panggilan Vidio yang berujung Clara yang menangis dan Bram semakin tau sedalam apa Clara mencintainya.
Sore itu, Clara menghubunginya dan memberitahunya bahwa dia baru saja pulang dari melayat karena sepupu ayahnya yang meninggal dunia di akhir obrolan Clara ingin memberitahukan sesuatu pada Bram tapi ragu
"Ada apa yang?" tanya Bram
"emm.. Tadi.. Di ... Disana aku ketemu de.. Dengan anak sepupu ayah" ucap Clara sambil menahan tangisnya
"terus?" tanya Bram mengerutkan alis tapi tak bisa di bohongi bahwa saat ini dia sangat takut jika Clara akan mengatakan sesuatu yang tidak ingin dia dengar
"Se.. Sepupu ayah bilang ingin menjalin hubungan keluarga lebih erat de..dengan menikahkan anaknya dengan anak ayah"
"maksudmu menikahkan kakakmu dengan anaknya?" Bram sengaja pura-pura tidak tau
"dengan ku"
Jederrr jantung Bram bergemuruh. Dia sudah mengira akan hal ini tapi dia pikir bukan sekarang. Dia tidak menyangka lagi-lagi mereka di beri ujian seperti ini
__ADS_1
"lalu kamu?" tanya Bram sambil mengepal erat tangannya untuk menahan sakitnya
"bisakah kamu datang? Aku tidak ingin semua ini terjadi hikss.. Hikss.. Ta tapii aku tidak bisa berbuat apa-apa" mendengar itu Bram merasa lega
"apa kata ayah?" tanya Bram lagi
"dia menyerahkan keputusan itu padaku. Tapi aku takut saudara ayah" Bram lebih bernafas lega lagi
"kamu mau nunggu kan sayang?" mendengar itu Clara berhenti dari tangisnya dan dengan tersenyum cerah dia mengangguk
"jangan terlalu lama membuatku menunggu ya" pasti sedikit lagi batin Bram. Mereka membicarakan banyak hal untuk mengembalikan mood Clara.
Setelah menelpon, Clara hanya duduk terdiam di meja makan dia sangat takut jika tiba-tiba keluarganya menginginkan perjodohan itu ku mohon Ya Allah Ya Robbi satukan aku dengannya. Jika memang takdirku bukan dengannya, maka ambil lah aku sehari sebelum kami berpisah. Aku takut bati Clara dan menelungkupkan wajahnya di meja makan. Tantenya yang tidak sengaja mendengar seseorang menangis di meja makan pun mengintip dan melihat Clara bergetar menahan tangisnya dia sakit melihat keponakannya seperti itu apalagi perjuangannya hingga bisa di titik ini bersama Bram yang menurutnya cinta pertama Clara Ya Allah ku ikhlaskan hidupku untuk kebahagiaan keponakan ku bersatu dengan orang yang di cintainya. Dia sudah banyak merasakan ketidak adilan dalam keluarga ini maka bahagiakan dia dengan Bram batinnya sambil mengusap air matanya dan kembali keluar bergabung dengan keluarga yang lain.
Clara yang perasaannya semakin campur aduk pun memutuskan untuk berwudhu lalu mengaji tapu sesekali mengusap air matanya dan terdengar suara lirih sampai ke ruang keluarga. keluarga Clara yang mendengarnya pun merasa bersalah karena sebenarnya pembahasan tadi hanya dianggal candaan oleh mereka.
Sang ibu yang tidak tega melihat anaknya terlihat terluka dan rapuh pun segera menghampiri sang putri dan memeluknya erat.
Selama ini di hadapan keluarganya, Clara selalu tersenyum ceria tapi hari ini, Sisi rapuh Clara pertama kali mereka lihat dan mereka bisa tau betapa dalamnya Cinta Clara pada sang kekasih.
Sang ibu yang mendekap Clara pun berbisik lirih pada sang putri
__ADS_1
"Nak semua akan terjadi jika itu memang keinginan mu" ucapnya sesenggukan. Hati ibu mana yang tidak terluka saat melihat anaknya yang dulu sangat dia nantikan kehadirannya setelah kematian 2 kakak Clara yang meninggal sebelum di lahirkan.
"Maahhhh" tangis Clara di pangkuan sang Ibu
"Clara takut mahh" ucap Clara sebelum kehilangan kesadarannya semua orang pun panik dibuatnya.
Tante Clara yang kebetulan seorang dokter segera mengambil alih memeriksa Clara.
Terdengar helaan nafas dari adik ayahnya Tante Nugi
"Clara terlalu banyak pikiran. Dia tertekan dan dehidrasi" ucap tante Nugi sambil menghela nafas beberapa kali.
Tak lama kemudian Clarapun sadar
"Are you Ok Clar?" tanya tante Nugi
"Yah.. I'am Ok Tan"
"Kamu tidak usah hawatir yah semua akan terjadi sesuai keinginan mu" ucap sang tante sambil mengusap pucuk kepala Clara
"Bisakah kamu menghubungi Bram" Tanya sang ayah
__ADS_1
"Bisakah Ayah sendiri yang menghubunginya? Aku masih lemas" Ayah pun meraih Hp Clara dan menghubungi Bram dan memintanya memberi kepastian untuk hubungan mereka agar jika sepupu nya nanti berniat serius dia bisa memberi alasan jika Clara sudah bertunangan dengan pacarnya dan Bram pun menyanggupi nya dan akan meminta orang tuanya segera melamar Clara dan akan menikah saat Clara lulus kuliah nanti.
Keluarga yang mengetahui itu setelah di beri tahu oleh ayah Clara pun bernafas lega dan mereka mulai sibuk untuk mengurus lamaran Clara besok sore yang dadakan.